Pages

Sabtu, 27 Desember 2014

Masih Ada Senyuman Untukku kan?

Rabb, ada hal yang sangat ingin kuperjuangkan hingga akhir. Sayangnya, tanganku mulai gigil menggenggamnya. Apa akan lebih baik jika menyerah saja? Tapi, aku takut menjadi pengecut. Aku ingin berlari jauh, jauh sekali. Tapi, aku terlampau malu melarikan diri. DuniaMu masih siap menampung resahku 'kan?  Kian hari, penglihatanku semakin buram oleh air mata. Sampai-sampai, parasku tak lagi kurupa saat bercermin. Aku betul-betul lupa diri. Perasaanku pun mulai sulit kupahami. Dadaku sudah sangat sesak. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Kau masih mau mendengar keluhanku 'kan? Sebab tanpaMu, aku tidak berani menghadapi sorotan sinis setiap pasang mata. Apa di luar sana masih ada senyuman yang bisa Kau hadiahkan untukku? Aku ingin berkeliling mencarinya.
READ MORE - Masih Ada Senyuman Untukku kan?

Kamis, 25 Desember 2014

Wanita-Wanita Matahari

Ngubek-ngubek file foto dan ketemu folder "Temu Kangen". Ini nih salah satu momen kece di akhir tahun 2012, tepatnya 29 Desember. Semuanya masih single loh saat foto ini diabadikan, sebut saja "Wanita-Wanita Matahari" (disesuaikan dengan judul bukunya, hehe). Sekarang kita sudah berada di penghujung tahun 2014, dua tahun berlalu. Tanpa ada unsur kesengajaan dan skenario yang dibuat-buat, empat wanita di deretan atas, kompakan update status jadi "Istri-Istri Sholehah" (Alhamdulillah, Barakallaah ^^). Hmm, siapakah gerangan yang akan segera menyusul? Harap penonton mendo'akan dengan khusyuk ya, semoga Wanita-Wanita Matahari yang masih single tetap diberikan kekuatan dan keistiqomahan dalam menjaga diri dan hati (pokoknya tetap jomblo sampai halal! Hidup JOSH!), tetap semangat untuk belajar dan memantaskan diri karena Allah, serta dimudahkan dalam proses pencarian jodohnya dan segera update status juga di tahun 2015. Aamiin ya Rabbal Alamiin. 

#Anggap saja catatan ini sebagai harapan tersurat dari pemilik blog.


“Cinta tidak mengenal ruang dan waktu. Dia akan selalu menjadi pemenang.” 
~Aisyah Qahar, Wanita-Wanita Matahari~


READ MORE - Wanita-Wanita Matahari

Ada yang Menunggu

Segeralah bergegas! Di depan sana, ada seseorang yang telah lama bersabar menanti kadatanganmu.  Berjalanlah cepat-cepat! Di depan sana, ada seseorang yang memilih memelankan langkahnya, bahkan mengorbankan waktunya hanya untuk menunggumu tiba. 
READ MORE - Ada yang Menunggu

Kamis, 18 Desember 2014

Belajar dari Matahari

"Kadang kau harus meneladani matahari, ia cinta pada bumi tapi ia mengerti... Mendekat pada sang kekasih justru membinasakan." @salimafillah


READ MORE - Belajar dari Matahari

Sabtu, 13 Desember 2014

Mimpi Dibangun Di Atas Semangat Berlapis

Hujan membasahi bumi Gowa sejak kemarin. Tapi haruskah menjadi penghalang langkahku hari ini?. Karena hujan tak pantas menjadi
alasan yang bisa menggagalkan rencana hebat kita, kan?.

Bagaimana pun wajah yang ditampilkan bumi, pokoknya hari ini harus tetap semangat ke sekolah untuk mengisi pertemuan ke 5 NBS.  Agar menghindari risiko basah kuyup, saya memutuskan berdamai dengan diriku untuk melakukan hal yang
berbeda, berjalan kaki memakai payung. Tidak seperti Sabtu-sabtu
sebelumnya diantar dengan motor.

Dua puluh menit waktuku, kunikmati dengan berjalan santai dari rumah ke sekolah. Saya tiba di sekolah
ketika semua anak sudah berada di dalam kelas mereka. Terlihat Wali kelas IV masih berdiri di depan kelas sambil memberi pengarahan kepada anak-anak.

Di luar kelas, tampak dua orang relawan yang lebih dulu tiba. Masih
menunggu di koridor depan kelas. Keduanya terlihat sangat panik
dan khawatir, itu tampak jelas dari
ekspresi mereka yang masam dengan senyum dipaksakan. Salah seorang masih berusaha menghubungi relawan lain yang sepertinya terhalang
hujan dan membuatnya bakal hadir tak tepat waktu.

Sebenarnya, sejak dua pekan lalu, kami merencanakan untuk mengisi pertemuan kali oni dengan menonton film dan menuliskan kembali ceritanya. Menurut kami, zangat tidak kondusif untuk menghandle anak-anak yang “sangat aktif” untuk story telling.

Relawan yang bertanggungjawab
menyiapkan peralatan, belum kunjung datang. Rencana B pun dijalankan. Kami kembali mengarang seperti biasa, dengan tema lingkungan
sekolah.

Pertemuan kali ini, menyadarkan kami bahwa keadaan tim sedang dalam kondisi yang memprihatinkan,
yang membuat beberapa relawan menampakkan kekesalan.

Salah satu masalah yang urgent untuk diperbaiki adalah koordinasi dan komunikasi dalam tim, yang terasa kurang maksimal. Saya dapat merasakan bahwa kami belum sepenuhnya berada pada frekuensi yang sama. Istilah kerennya chemistry-nya belum dapat.

Namun, menurutku inilah yang membuat program NBS akan semakin menarik. Ibarat menjadi anak sekolah, setiap akan naik kelas pasti ada ujian yang harus dilalui terlebih dahulu.

Semoga, masalah itulah yang membuat kami lebih peduli dan sadar bahwa kami tidak bisa berbuat apa-apa tanpa siapa pun. Untuk berjalan dan berlari jauh dalam waktu singkat, kita sulit mencapainya jika hanya dengan satu kaki.

Karena mimpi seharusnya dibangun dari semangat yang berlapis dari para relawan NBS. Agar semua mimpi kecil adik-adik yang mengikuti program ini, sedikit demi sedikit dapat terwujud.

"Jangan sampai kekesalan kecil mengubah kebaikan hati kita. Tetaplah baik dan positif thinking, meski imiian dibangun di atas beberapa cobaan." (Anonim)

Editor: Indah Febriany

READ MORE - Mimpi Dibangun Di Atas Semangat Berlapis

Rabu, 26 November 2014

Menga(baik)an!

Dering panggilan masuk, namanya tertera di layar kaca. Dengan khawatir, aku mengangkat teleponnya. Dia mengawali pembicaraan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Tapi kali ini, aku sangat tidak antusias menanggapinya. 

Aku sama sekali enggan menjawab satu pun pertanyaannya. Aku lebih banyak diam, hanya merespon dengan jawaban, "Tidak". Dia terus mengoceh panjang lebar, bahkan nada suaranya mulai meninggi. Aku hanya mengabaikan, bosan disikapi sangat protektif.

Malamnya, dia meneleponku melalui telepon orang lain. Dia mengawali pertanyaan dengan nada suara tinggi, dia masih marah. "Selama ini saya percaya kamu, tapi tiba-tiba hanya bilang 'tidak' saat ditanya. Tentu saja saya khawatir kalau kamu pergi jauh-jauh tanpa alasan jelas, takutnya kamu ikut-ikutan kegiatan yang tidak baik."

"Sudah besar begini, masa saya tidak tahu membedakan mana yang baik dan tidak. Dan mana mungkin saya mau bertindak bodoh, pergi jauh-jauh hanya untuk kegiatan tidak penting." aku membalasnya.
Lalu dia melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Tetap saja dia berbicara dengan nada suara yang terdengar menakutkan.

"Kalau begitu sudah dulu, kamu baik-baik saja di situ." Jelasnya mengakhiri pembicaraan dengan suara lebih tenang.

READ MORE - Menga(baik)an!

Sabtu, 08 November 2014

Menjadi baik?

Kebaikan itu universal, sukar mendefinisikannya dengan tepat. Sebab baik menurut A, belum tentu baik menurut B. Menjadi baik itu akan melelahkan jika demi pengakuan orang lain. Baikmu akan sia-sia belaka jika niatnya agar dibanggakan orang lain. Tersebab itu, belajarlah menjadi orang yang lebih baik dan teruslah berbuat baik hanya untuk membuat Tuhanmu terpesona.
READ MORE - Menjadi baik?

Sabtu, 01 November 2014

Mencari Abadi

"Cinta yang sebenarnya itu, yang
selalu mengingatkan pada perkara
akhirat...Maa kaana lillaahi abqaa,
Apa-apa yang karena Allah, akan
abadi" -Anonim-

Aku ingin jatuh cinta, sekali saja dan akan kusimpan abadi untuk selamanya.

Jika belum siap, tetaplah bersikap sewajarnya. Tetaplah menjaganya dalam do'amu hingga kau betul-betul yakin bahwa dialah yang kau cari.
READ MORE - Mencari Abadi

Rabu, 29 Oktober 2014

Dilema

Tidak ada yang lebih risau dari hati yang ditolak pikiran. Katanya tidak logis menyimpan perasaan pada sesuatu yang menentang titah Tuhannya. Tapi hati terkadang lancang, suka sembarang menaruh kagum.

~Ya muqallibal qulub tsabit qalbi
‘ala dinika wa tha’atika... Wahai
Zat yang membolak-balikan hati
tetapkanlah hatiku dalam agamaMu dan keta’atan kepadaMu...~

READ MORE - Dilema

Jumat, 24 Oktober 2014

Balada Sebuah Pertanyaan

Selepas shalat dhuhur, laki-laki paruh baya yang mengimami shalat menghampiriku dan menanyakan sesuatu. "Belum, pak." Jawabku singkat. Lalu dia lanjut bertanya. Kali ini, saya  hanya cengengesan menanggapinya, betul-betul bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa.

Duh Rabb, ciptakan telinga dan hati baja untuk hambamu ini, masih banyak orang KEPO yang harus kuhadapi.

Beruntunglah pertanyaan seperti itu tidak ada dalam ujian skripsi. Dan untung juga saya tidak sampai mati konyol karena pertanyaan seajaib itu.

READ MORE - Balada Sebuah Pertanyaan

Selasa, 14 Oktober 2014

Seru, Menegangkan, Tetapi Keren-NBS Part 2

Hari Sabtu, 11 Oktober 2014, merupakan pertemuan perdana NBS part 2. Untuk wilayah Gowa, kami masih mendapatkan sekolah yang sama dengan NBS part 1, yakni SDN Sungguminasa IV. Relawan yang berkesempatan hadir pada hari itu, ada 8 orang, masing-masing 4 orang dari Tim C dan D. Kami mendampingi kelas gabungan IV A dan B.

Tepat pukul 11.15 wita, seharusnya waktu istirahat para siswa sudah berakhir. Namun, suasana sekolah masih ramai. Anak-anak masih berkeliaran di luar kelas, sebagian bermain di lapangan sekolah, ada yang berlalu lalang di koridor, dan sebagiannya lagi masih memilih duduk-duduk di depan kantin. Sempat terpikir, adakah yang istimewa hari ini? Hingga semua siswa-siswi masih sangat antusias berada di luar ruang kelas. Ternyata hari ini, bertepatan dengan prosesi penarikan guru PPL, pantas saja jam belajar kurang diminati.  
Tapi, syukurlah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya beberapa bangku di ruangan kelas IV sudah mulai terisi, meski masih lebih banyak yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Kami memutuskan untuk masuk ke kelas, sementara beberapa relawan lainnya berinisiatif untuk mencari anak kelas IV yang masih berada di luar kelas.

Setelah bersusah payah, kami berhasil mengumpulkan siswa kelas IV yang berjumlah 60 anak dan memulai kegiatan NBS 2014. Suasana kelas cukup riuh, itulah sebabnya kami membutuhkan sedikit waktu untuk menguasai kelas, sehingga bisa memfokuskan perhatian anak-anak. 

Relawan yang mendapatkan tugas pada pertemuan perdana ini, yakni Nabila, Hendra dan Samsir. Nabila mengemban tanggung jawab untuk mengisi sesi perkenalan, Hendra melanjutkan sesi terpenting yakni menjelaskan, bagaimana cara mengarang cerita dari gambar yang mereka lihat?, sedangkan Samsir memberi instruksi dan membagi anak-anak ke dalam beberapa kelompok.

Semua relawan bertugas untuk mendampingi anak-anak di setiap kelompok. Selanjutnya, anak-anak dibagikan gambar dan kertas kosong. Proses menulis dimulai dengan penuh antusias, meski ada sejumlah anak yang enggan mengarang dengan beragam alasan. Inilah tugas terpenting dari kami, yakni memastikan proses belajar menulis berjalan sesuai dengan rencana dan memberikan motivasi pada anak-anak yang tidak memiliki keinginan untuk mengikuti kegiatan menulis.

Sejumlah kendala tidak lantas membuat proses Nulis Bareng Sobat, tidak berjalan menyenangkan. Justru sebaliknya, kami merasa mendapatkan tantangan tersendiri, dikala sejumlah anak mulai kehabisan ide untuk ditulis. Kondisi kelas semakin menarik, ketika setiap relawan mendapatkan kesempatan untuk memilih satu anak yang dinilai hasil tulisannya paling bagus. Anak yang terpilih, berhak mendapatkan reward berupa gambar paper craft.

Suasana kelas sedikit gaduh, ketika seorang anak yang tidak terpilih tampak kecewa dan bergegas meninggalkan kelas yang diikuti sejumlah siswa lainnya. Namun, untungnya mereka kembali masuk ke kelas, setelah mengetahui bahwa diakhir pertemuan, kami akan membagikan buku mengarang. Tetapi, sebelum dibagikan buku mengarang, Samsir menginstruksikan anak-anak untuk membaca do'a, sebelum mengakhiri pertemuan perdana NBS 2014 part 2. 

Proses pembagian buku berlangsung ricuh. Ini lantaran, hanya Anak-anak yang mengumpulkan karanganlah yang akan mendapatkan buku mengarang. Syaratnya cukup dengan menukarkan karangan mereka dengan buku ke relawan pendamping yang bertugas. Ada beberapa siswa yang tadinya enggan untuk menulis, akhirnya memutuskan untuk memulai menulis dengan tergesa, ini lantaran takut tidak kebagian buku. 

Perjuangan kami, masih akan terus berlanjut hingga enam bulan ke depan. Bisa dipastikan pengalaman yang akan kami temui di setiap pertemuan berbeda, tentunya akan berbeda. Semangat teman-teman Sobat LemINA. Tetaplah menjadi relawan yang melakukan hal kecil, untuk mendapatkan efek yang besar di masa yang akan datang, guna kemajuan generasi penerus bangsa. 

Editor: Indah Febriany
READ MORE - Seru, Menegangkan, Tetapi Keren-NBS Part 2

Senin, 13 Oktober 2014

Anak Pemberani


Aku beranjak meninggalkan kelas, hendak mencari anak-anak kelas IV yang masih berkeliaran.
"Kamu kelas empat?" tanyaku pada siswa yang masih berlalu lalang di koridor sekolah.

"Iya, kak." dia menjawabku cepat.

"Masuk ke kelas, anak kelas empat belajar! Mana teman-temanmu yang lain?"

"Itu sana kelas empat." Seraya memberikan isyarat ke sejumlah anak yang masih asyik duduk di depan kantin.

Aku bergegas menuju kantin. Beberapa anak berseragam pramuka sedang mengelilingi anak laki-laki tanpa seragam yang berbadan lebih besar. Tampaknya mereka sedang asyik memperhatikan permainan dari layar gadget yang dipegang anak laki-laki itu.

"Siapa yang kelas empat?" Suaraku mengalihkan perhatian mereka. Beberapa anak menyahut dan mengacungkan tangan.

"Ayo, ke kelas. Kalian belajar!" Ajakku dengan suara lebih tegas. Namun, diluar dugaanku, anak-anak itu, meresponku dengan ogah-ogahan. Bahkan, mereka tetap asyik memperhatikan layar gadget.

"Kalian harus masuk ke kelas! Nanti diabsen, yang tidak mau belajar nanti saya catat namanya." ucapku sambil menunjuk mereka satu per satu seolah menandai anak yang tidak mau ikut belajar.
Anak-anak mulai terpengaruh dengan ancamanku. Beberapa segera berlari ke kelas.

"Nda mauja deh kak!" Ujar satu-satunya anak perempuan dalam gerombolan itu menolak ajakanku. Saya pun tidak menyerah. Dia tetap kubujuk untuk ikut belajar. Akhirnya dia mengalah dan ikut bersamaku ke kelas meski masih menyiratkan kesan terpaksa, namun ia tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas.

Anak perempuan itu, sebenarnya tampak lebih aktif dibandingkan anak perempuan lainnya. Dia duduk bertiga dengan temannya di kursi paling depan. Tepatnya, paling pojok kiri dekat tembok. Saat semua anak duduk di kursinya masing-masing dan memperhatikan penjelasan, dia malah beranjak dari kursinya dan memilih memperhatikan relawan yang asyik mencatat nama di depan kelas. Saat temannya sedang asyik mengarang, tiba-tiba dia meninggalkan tempatnya.“Betul-betul anak yang aktif, tidak bisa duduk tenang.” Ocehku asal membatin.

"Kenapa tidak menulis?" Tanyaku penuh selidik, ketika melihat dia keluar dari kolong meja.  Namun, diluar dugaan, anak perempuan itu hanya menyengir malu-malu, lalu kembali ke tempatnya dengan menggeser meja, agar bisa lewat di samping tembok. Teman sebangkunya kemudian mengadukan sikapnya yang memang seperti itu dan menyebutkan julukan yang kurang baik untuknya. 

Anak perempuan itu berhasil menarik perhatianku, meski kesan yang membekas dibenakku  'Ia sedikit bandel' tapi dia masih mendengarkanku. Dia tetap menuruti pintaku, meski ingin bebas melakukan apa pun semaunya.

Ketika anak-anak mulai beranjak meninggalkan sekolah, dan menyisahkan ruang yang lengang, lantaran sekolah mulai sepi. Kami -relawan NBS- memutuskan untuk tetap tinggal di kelas dan mendiskusikan beberapa hal, terkait persiapan di pertemuan kedua. Tiba-tiba anak perempuan itu tadi, mencoba mengisi ruang kosong di antara para relawan “Kakak...kakak... bukunya untuk mengarang toh?” Ia bertanya dengan intonasi suara yang terdengar antusias dari depan pintu kelas. Beberapa dari kami meresponnya. Lalu Ia beranjak pergi.

Sekitar 30 menit berlalu, diskusi kami berakhir. Kami menuju ke parkiran, siap untuk pulang. Anak perempuan itu kembali ke sekolah setelah berganti pakaian biasa. Ada kantong plastik putih di salah satu genggaman tangannya. Dia mendekati tong sampah yang berada di koridor kelas, membuka tutupnya dan tampak sedang mencari sesuatu. 

"Apa yang dia lakukan? Apakah sedang mencari botol dan gelas plastik?" Aku bersuara lirih, penasaran dengan apa yang dilakukannya.

Kemudian anak itu menoleh memperhatikan kami yang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan sekolah.

"Kak, di mana rumahta?" Anak perempuan itu bertanya dengan ekspresi yang lebih bersahabat, sambil menutup tong sampah di koridor kelas.

"Rumahku di sana, setelahnya jembatan kembar!" Aku berteriak menjawabnya dari parkiran.

Anak perempuan itu, berhasil mengusik kenangan lamaku. Benar-benar telah menarik perhatianku. Dia menarik paksa diriku untuk mengingat tentang sosok teman yang terkesan layaknya anak bandel dan keras kepala. Serta, sangat blak-blakan dan tidak segan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sesuatu, bahkan di depan guru kami. Tapi aku tetap menyukainya, dia terlihat sangat berani.  

READ MORE - Anak Pemberani

Puisi dari Tuan Pemurung

Hai Tuan Pemurung, aku masih menyimpan kertas-kertas puisimu. Aku masih suka membacanya. Aku ingat saat pertama kali kau mengajakku bicara dan memberikan puisi-puisimu. Waktu itu, aku meneriakimu pemurung di depan teman-teman sekelas karena tidak suka melihat sikapmu yang sangat pemurung. Dan kau sama sekali tidak meresponku, tetap diam dan bersikap dingin. Lalu, 'tak lama setelahnya kau mendatangiku dengan mimik yang lebih bersahabat. "Kau suka puisi 'kan? Ini, Bacalah!" Katamu sambil menyodorkan kertas-kertas ke tanganku, kumpulan puisimu. Sejak saat itu, aku lebih suka memanggilmu Tuan Puisi.

Teruntuk perempuan keras kepala:
Dari matamu, ada amarah yang menyala-nyala
Apa sebenci itu kau melihatku?
Tapi, 'tak ada peduliku dengan kebencianmu.
Pada matamu, tetap saja aku suka.
READ MORE - Puisi dari Tuan Pemurung

Kamu dan Lampu Temaram

Malam ini ada cahaya dari lampu temaram. 
Juga ada kamu, menemaniku menangisi gusar yang tersimpan sejak seharian.

"Ingatlah Tuhanmu disetiap saat, suka dan duka. Maka, hatimu akan lebih lapang." Katamu menenangkanku.

Dari pertemuan-pertemuan kita, aku belajar membersamai masaku dengan  syukur dan bahagia.
READ MORE - Kamu dan Lampu Temaram

Jumat, 19 September 2014

Dia-lo-gue: Killing (Ti)me

Menjelang siang, di koridor belakang ruang perawatan, duduk manis sambil ngunyah apel.

Mr: Perawat ya?
Me: Bukan pak
Mr: Kerja di sini?
Me: Tidak, saya keluarga pasien.
Mr: Ooh, namanya siapa?
Me: Athifah
Mr: Athifah...Namanya cantik, kayak orangnya.
Me: *nyengir sambil ngunyah apel
Mr: Kuliah di mana?
Me: kuliah di FKM UNHAS, pak. Jurusan Manajemen Rumah Sakit.
Mr: Wah hebat dong. Sudah semester berapa?
Me: Saya sudah lulus.
Mr: Oh sudah wisuda ya? Berarti sudah sarjana.
Me: Iya sudah, wisudanya bulan 6 kemarin.
Mr: pasti wisudanya sama 'teman dekat' kan?
Me: wisudanya sama teman dekat? Saya punya banyak teman dekat. *pura-pura bego.
Mr: Maksudnya teman dekat yang spesial.
Me: oooh, kalau teman spesial, saya tidak punya *nyengir kalem sambil lanjutin ngunyah apel.
Mr: Biasanya orang yang punya teman spesial tapi bilangnya tidak ada, nanti ditinggalin karena perempuan lain loh.
Me: Tapi kalau memang tidak punya, tetap harus bilang tidak ada 'kan? *tragis nian kenyataan ini.
Mr: *lanjutin cerita tentang perempuan yang ditinggalin gara-gara tidak mau mengaku punya teman spesial
Me: Tapi saya memang tidak punya teman spesial! *dalam hati mulai sewot! Memangnya saya tampang tukang tipu ya? Ckck
Mr: Lahir tahun berapa?
Me: Tahun 93, pak.
Mr: Wisuda tahun ini kan? Tahun 2014? Berarti 21 tahun sudah sarjana? Sarjana kesehatan kan?
Me: iya pak lulus tahun 2014, sarjana kesehatan masyarakat.
Mr: sama dong dengan keluarga saya (sebutin seseorang). Dia juga sarjana kesehatan masyarakat. Tapi dia sudah lama lulus dan sekarang kerjanya di kementerian kesehatan.
Me: Wah bagus dong pak. Sudah dapat kerjaan, kalau saya masih pengangguran.
Mr: kalau sarjana kesehatan banyak dibutuhkan di desa-desa. Untuk peningkatan karir juga sebenarnya bagus kalau ambil penempatan di pelosok dulu, nanti setelah beberapa tahun baru minta pindah di tempat lain.
Me: Iya pak, bagus juga sih kerjanya di pelosok, lokasi-lokasi yang seperti itu biasanya butuh banyak lulusan kesehatan.
Mr: Tapi kalau perempuan kayak kamu kerjanya di desa, biasanya susah lagi pindah ke tempat lain.
Me: Kenapa pak?
Mr: kalau kerja di desa, kamu pasti dapatnya orang desa. Jadi harus menetap di sana.
Me: *please killing me, sir!*

READ MORE - Dia-lo-gue: Killing (Ti)me

Kamis, 11 September 2014

Hiduplah dalam Tulisan

Cepat atau lambat, dirimu akan pikun dengan apa-apa yang telah lewat. Untuk mengekang dan mengenang ingatanmu sendiri, hiduplah dalam tulisan yang sewaktu-waktu bisa membawamu kembali ke cerita yang pernah menguatkan hatimu.
READ MORE - Hiduplah dalam Tulisan

Rabu, 10 September 2014

Album Foto

Saya ingat sekali foto-foto dalam album putih dan coklat yang terselip diantara buku-buku itu. Foto pernikahan orang tuaku dan foto masa kecilku. Waktu baru-baru pindah ke rumah ini, saya suka sekali membongkar-bongkar album foto. Dan menurutku itu adalah kebiasaan yang sangat menyenangkan. Bagian yang paling kusukai dari  melihat foto-foto adalah membayangkan dan mengingat momen saat foto itu diambil.

Hari ini, saya merasa penasaran untuk kembali membukanya. Foto-foto yang kulihat tetap sama, tapi ada hal berbeda yang kutangkap. Saya tidak hanya sebatas menikmati gambar-gambarnya tetapi juga bisa merasakan euforia kebahagiaan yang  dulunya tak pernah kusadari. Wajah gugup, senyum malu-malu, tawa lega, tangis haru, dan tatapan mata dengan binar bahagia. Kini aku paham, seperti inilah ekspresi sederhana dari cinta yang tidak sederhana.
READ MORE - Album Foto

Sabtu, 06 September 2014

#Monolog: Penolakan

Katanya, kau tak 'kan pernah memahami kegilaan seseorang yang jatuh cinta kepadamu jika kau 'tak mencintainya sama sekali. Itulah mengapa terkadang kau bisa menjadi orang paling jahat tanpa sadar. Dan bahkan menjadi sangat keterlaluan karena masih bisa tertawa di hadapan seseorang yang baru saja kau sakiti hatinya tanpa iba.
READ MORE - #Monolog: Penolakan

Senin, 01 September 2014

Mengalah

Hello wor(l)d... Curhat boleh 'kan? Hehe

Yeah, today is monday! Ini berarti sudah tepat sepekan saya berlagak seperti gadis pingitan. Di saat teman-teman sibuk bolak-balik kampus untuk mengurus ijazah dan berkas lamaran kerja, saya lebih asyik berdiam diri di rumah, istilah kerennya sih sedang menikmati masa transisi.

Nah, berhubung saya mulai gelisah dan merasa bosan berdiam diri, rencananya hari ini saya akan bersikap "normal". Sama seperti yang lainnya, berangkat ke kampus dengan semangat menggebu-gebu demi selembar kertas ajaib (baca: ijazah). Sayangnya, lagi-lagi saya harus mengalah dan memilih untuk tetap tinggal di rumah. 

Dulu ya, sebelum negara api menyerang, saya masih bisa keluyuran seenak hati. Tapi, seiring tanggung jawab sebagai anak manusia yang takut durhaka semakin meningkat, naluri bebas kelayapan  otomatis harus dijinakkan. 

Ah, tenanglah anak muda. Inilah masa-masa keemasan untuk belajar memprioritaskan orang lain!  Lagi pula, mementingkan dan memikirkan diri sendiri sama sekali bukan cara bertahan hidup yang membahagiakan 'kan?

Kelak kau akan tahu seberapa berharganya ketika seseorang rela mengorbankan kepentingan-kepentingan lainnya demi dirimu di saat kau betul-betul membutuhkannya. Maka, belajarlah mengalah untuk kebahagiaan orang lain.
READ MORE - Mengalah

Kamis, 21 Agustus 2014

Mengadulah Pada Tuhanmu

Kau bisa menahan air matamu dan berlagak menjadi  terbahagia di hadapan siapa pun. Tapi di hadapanNya, 'tak ada setitik rahasia pun yang bisa kau sembunyikan. 

Seindah-indahnya suka, seperih-perihnya duka, hanya padaNyalah sepantas-pantasnya tempat pengaduanmu. 

READ MORE - Mengadulah Pada Tuhanmu

Minggu, 10 Agustus 2014

Seperti Bulan Malam Ini

Kau lihat bulan malam ini? 

Sangat menakjubkan 'kan?

Ini salah satu bulan terindah yang pernah kulihat. Ekstra Supermoon. Ia bernama bulan purnama perigee.

Disebut perigee karena purnama bertepatan saat bulan berada pada jarak terdekatnya dengan bumi, tepat di titik perigee.

Katanya akan ada purnama lagi di 9 September mendatang. Tapi bulan malam ini tetap paling indah, sangat dekat dan terang.

Seperti bulan malam ini.  Kelak kamu akan menjadi lelaki terdekatku. Menjadi bagian paling indah yang menerangi bumiku dan mengiringi jalanku menuju syurgaNya. 
READ MORE - Seperti Bulan Malam Ini

Selasa, 05 Agustus 2014

Syawal dan Target Masa Depan

Ini sudah masuk syawal yang ke 21  semasa hidupku.  Alhamdulillah, kuliah bisa terselesaikan di tahun ini meskipun  terlambat 3 bulan dari target. 

Dan setelah sarjana, apa lagi? 

Hmm, kalau sudah mikir masa depan kadang bikin greget sendiri, soalnya target ini itu pasti bakal menghantui satu per satu, mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa, seperti:
1. Pulang kampung
Ini target paling hectic, soalnya sudah 10 tahun gak pernah balik ke rumah orang tua. Asli kangen bin penasaran sama kondisi di sana. Sabar ya, mama 'kan janjinya setelah ijazah keluar.

2. Dapat kerjaan tetap
Kalau bahas soal kerjaan, pastilah sudah jadi tuntutan wajib setelah sarjana. Semuanya jadi ikut-ikutan sibuk, mulai dari nenek, mama, etta, tante, sampai adik. Mulai terasa deh tekanan sana sini.
"Kakak Nurul, mauki lamar kerja? Mau jadi guru TK?" tanya adikku yang umurnya baru 12 tahun.
"Iya bisa-bisa, saya jadi guru TK, yang penting disediakan kotak banyak-banyak! Jadi kalau anak-anaknya nangis semua, tinggal dimasukin ke kotak terus dikirim ke rumahnya." Balasku dengan candaan, karena ngebayangin rewelnya anak-anak balita. Ah kenapa coba dia pikir saya mau jadi guru TK?
"Kan pernahji toh ikut kelas inspirasi? Atau bisa juga jadi guru PAUD. Baru ditinggal sama mamanya sudah nangis-nangis!" Balasnya sambil tertawa.
"Ih, kelas inspirasi kan anak SD yang diajar, bukan anak TK. Dan saya tidak mengajar di kelas inspirasi".

Kalau ngobrolin soal pekerjaan, semuanya jadi kreatif sarankan ini itu, tapi saran yang paling mainstream sih daftar PNS. Kalau saya, maunya kerjaan yang gak jauh-jauh dari bidang kesehatan dan pemberdayaan. Pokoknya coba lamar sana sini saja dulu, dapatnya yang mana, itu urusan belakangan, yang penting halal dan bikin betah.

3. Lebih fokus belajar agama
Ini WAJIB pake banget! Tarbiyah, tahsin, atau masuk sekolah tahfidz! Belajar agama supaya lebih paham dan gak asal nyambar kiri kanan.
Suka malu-malu sendiri juga, sudah 21 tahun tapi agamanya masih bawah standar.
Dan biasanya suka bikin jleb kalau lagi ngobrol tentang apapun sama adik terus ditanya balik, "emang itu ada di al-qur'an? Ada dalilnya? Dibolehkan dalam agama? Hukumnya bagaimana? Bla bla bla".
Apalagi kalau ditanya sama Etta, "Bagaimana ngajinya? Sudah khatam berapa kali?". Ini sih bukan soal banyak-banyakin khatam qur'an, tapi sudah bener gak ngajinya? Sudah sesuai tartil?.
Dan semuanya direspon dengan nyengir kuda atau diam seribu bahasa! Kentara banget 'kan bloonnya kalau soal agama? Hiks :'(
Itu baru pertanyaan dari keluarga, terus bagaimana kelak jawab pertanyaan dan pertanggungjawaban sama Allah?
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Ya Rabb, ya Rahman ya Rahim,mudahkanlah.
Do'akan ya semoga saya bisa kejar target ini semaksimal mungkin.

4. Lanjut kuliah, apply beasiswa dalam/luar negeri
Nah, untuk yang satu ini, asli bikin galau. Kerja dulu deh baru lanjut kuliah. Lanjut kuliah aja dulu, mumpung masih muda. Atau maunya sih lanjutnya setelah nikah aja ya? Iya maunya gitu, kenyataannya bagaimana? Let's see the fact! hihi.

5. Nikah muda
Yakin mau nikah muda? Suka was was juga kalau soal yang satu ini. Nikah emang target paling luar biasa! Ini sih sudah diniatin dari dulu, tapi setelah tahu kalau mama dan etta juga nikah muda (22 tahun), jadi tambah jedeeeer! Terinspirasi lebih dahsyat lagi buat nikah muda.
Nah! Sudah hampir deadline, tapi belum dapat jodohnya . Mungkin karena masih suka labil dan belum pantas kali ya? hehe.
Kita bisa menyusun banyak rencana, tapi Allah tentu lebih tahu apa yang terbaik buat kita kan? *menghibur diri ^^
Jadi, kita maksimalkan saja dulu do'a dan usahanya. Kalau belum terealisasi sesuai target, mungkin kita terlalu banyak berangan-angan tapi usahanya sedikit, atau ada hal yang lebih baik yang Allah takdirkan untuk kita. Pokoknya kejar dan perjuangkan semuanya! Jangan menyerah dan terus libatkan Allah dalam semua rencana kita, tanpaNya kita tidak ada apa-apanya, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Apabila Allah menghendaki suatu urusan, maka Dia cukup mengatakan 'Jadilah!' Lalu jadilah ia" 
(QS Al-Imran:47)

Semangat berjuang! InsyaAllah dapat hadiah terbaik.
READ MORE - Syawal dan Target Masa Depan

Minggu, 27 Juli 2014

Kita Saling Melengkapi

Aku, kamu, atau siapa pun. Kita tidak pernah tahu pasti saling apa yang akan menautkan perasaan kita?

Apakah saling mengagumi? Saling mempercayai? Atau bahkan saling mencurigai?

Kita betul-betul tidak bisa memastikannya dengan tepat.

Satu hal yang akan kupastikan: pada akhirnya, kita saling melengkapi.

Seperti tautan simpul temali yang terikat pada ujung-ujung ayunan di sisi kiri dan kanan. Saling melengkapi. Yang menjadikannya selalu berayun beriringan dengan seimbang, meski berada pada dua sisi yang berbeda.
READ MORE - Kita Saling Melengkapi

Rabu, 16 Juli 2014

Cinta itu Takdir

Seperti takdir, cinta selalu penuh kejutan...

Mungkin kita perlu belajar mengalah dengan perasaan kita sendiri. Menerima skenarioNya dengan bahagia meski terkadang tak sesuai yang kita harapkan. Bukankah menerima cinta yang dipilihkanNya dengan ikhlas adalah kesyukuran paling indah?

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu.."(QS Al Baqarah:216)

Terkadang cinta memang semenjengkelkan ini. Tapi semoga saja pilihan kita tidak melukai siapa pun. Kelak kita akan terbiasa, sebab di sini, cinta akan terus hidup untuk mengagungkan namaNya. 

Allah 'Azza Wa Jalla berfirman, "Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan para Syuhada" (HR At-Tirmidzi dari Muadz Ibn Jabal)

Penerimaan yang ikhlas tak hanya sebatas membuka hati pada yang kau sukai tapi juga menundukkan hati pada yang tak kau sukai. Selamat menerima takdir! Semoga Allah menguatkan kita.

Maha besar Allah dengan segala takdir dan cinta yang dirahasiakanNya...
READ MORE - Cinta itu Takdir

Minggu, 13 Juli 2014

Disakiti Prasangka

Apa pernah kau melihat pada mata lelaki yang berani melirikmu diam-diam?
Lalu ia tertunduk malu, membuang wajahnya pada balas tatapmu yang sinis.
Ia nelangsa menyimpan kecewa di benaknya, "Aku mencintai gadis yang pada matanya pun aku tidak berarti sama sekali, apalagi di hatinya?"
Tidakkah ia tahu, gadis yang menatapnya sinis pun terlampau kalut, sebab mata elang yang dikaguminya telah menikam hatinya dalam-dalam.
Ah, prasangka selalu bisa menyakiti  seperti ini.
READ MORE - Disakiti Prasangka

Selasa, 08 Juli 2014

Menjaga Diri dan Menepati Janji

"Saya membaca buku 'Agar Bidadari Cemburu Padamu'... tiba-tiba saya kok ingat dua orang teman." Pesan ini kukirim via line ke salah seorang teman yang teringat.

"Kenapa, Nurul?" Balasan singkat masuk setelah dua jam berlalu.

"Saya ingat kamu dan fulan saat membaca kutipan ini:  Berkomitmen untuk tidak berpacaran."
Dia mulai paham ke mana arah pembicaraan ini.

"Lucu saja, kalian sama-sama temanku. Saya tahu ilmunya bagaimana seharusnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Tapi tetaaaaaap saja saya susah untuk hadapi kenyataan. Saya tidak berani mengomentari sikapnya kalian dari dulu". Saya menyesal membalasnya seperti ini, tapi ini membuatku lebih legah. Pasalnya saya selalu merasa bersalah karena menjadi teman yang pengecut. 

"Iya, saya akui dari awal kita berdua salah. Kita sama-sama berusaha hentikan, tapi perlu proses untuk sampai ke situ." Dengan besar hati, dia merespon teror beruntunku dengan penyesalan yang sangat besar. 

Terimakasih masih mau menyikapiku dengan baik. Semoga kita bisa tegas dan komitmen untuk menepati janji.

Hal ini selalu membuatku teringat tentang percakapan-percakapan kita dulu tentang pacaran dan perilaku menjerumuskan yang sangat dikhawatirkan akan merusak perempuan lemah seperti kita. Apa kau juga masih mengingatnya?

Mungkin aku perlu mengingatkannya...

Waktu itu, pagi hari di tengah barisan anak-anak ingusan berseragam putih biru, seorang teman membisikiku tentang nasihat ayahnya, "perempuan tidak boleh sembarang salaman/bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ini ada haditsnya." katamu dengan sangat serius.

Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas, lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR.Thabrani, dalam Mu’jamul Kabir)

Sejak saat itu, kita takut menyentuh dan menyalami teman laki-laki yang bukan mahram. 

Di lain waktu, pembahasan kita masih sama, tentang interaksi dengan lawan jenis. Kali ini, kau membocorkan tentang pesan ibumu. "Perempuan itu seperti telur yang sangat rapuh, sekali pecah, ia tidak akan pernah bisa kembali utuh seperti sebelumnya. Makanya, kita harus bisa menjaga diri, jangan mau dirusak sama laki-laki tidak baik yang mengajak pacaran."

Sejak saat itu, kita berjanji tidak akan pernah mau pacaran, apa pun yang terjadi.

Lalu, menjelang Ujian Nasional SMP. Saat asyik mengerjakan soal–soal prediksi,  tiba-tiba pembicaraan kita beralih ke soal perasaan yang lagi ngetrend di kalangan ABG seperti kita. "Kau mau tahu cara mengendalikan perasaanmu saat menyukai seseorang? Intinya supaya kita tidak terjerumus dalam pacaran". Dengan sangat bersemangat kamu mengulang pesan dari buku yang kau pegang.

"Bagaimana caranya?" Aku berhenti mengerjakan soal matematika dan mengalihkan fokusku, siap menyimak jawaban pamungkasmu.

"Kau tahu kan, kenapa kita bisa menyukai seseorang? Pasti karena kebaikannya kan? Nah, kita selalu punya kebaikan dan keburukan. Untuk mengendalikan perasaanmu, kau tidak boleh mengingat terus hal baik yang membuatmu menyukainya, tapi sesekali ingatlah keburukannya. Setidaknya itu akan membuatmu lebih rasional."

"Apabila kamu kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!" (Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu)

Sejak saat itu, kita berkomitmen mengendalikan hati agar tidak mudah jatuh cinta dengan siapa pun. 

Terimakasih telah menjadi orang pertama yang mengingatkanku tentang ini.
Terimakasih telah menjadi orang pertama yang meracuniku dengan pesan-pesan ini.
Terimakasih telah menjadi orang pertama yang membuatku menjadi 'orang asing', memilih bersikap beda dari teman-teman yang lain.
READ MORE - Menjaga Diri dan Menepati Janji

Senin, 16 Juni 2014

Dia-lo-gue: The reason for being single

Di tengah keasyikan mengoreksi tulisan, tiba-tiba salah seorang siswi kelas 4 SD menanyakan hal yang menurutku sangat tidak penting dalam sebuah forum kelas menulis seperti ini. Aku menyebutnya perbincangan out of the topic dengan pertanyaan ter-KEPO sejagat raya, "Kak, punyaki pacar?"


Aku mengambil jeda, lalu mengumpan balik dengan pertanyaan, "Menurut kamu?"


"Pasti punya toh kak?" Dia menjawab dengan suara sedikit memelan.


Sebelum sempat meresponnya, anak yang di hadapanku menimpali lebih dulu, "Hah? tidak mungkin! Pasti tidak ada toh kak?" Dia menanggapi dengan ekspresi heran dan nada suara yang lebih tinggi. Dia berusaha meyakinkan temannya bahwa percayalah pendapatmu salah.


Aku berusaha menahan tawa melihat mereka beradu pendapat tentang ada atau tidaknya pacarku. Mereka terlalu jauh memikirkan hal seperti ini. Ah, di masaku dulu, kami belum memusingi perihal 'pacaran', kami masih asyik dengan permainan lompat tali, bongkar pasang dan hal sejenisnya.


"Kenapa menurutmu tidak ada?" Aku lanjut bertanya. Aku betul-betul penasaran dengan alasan dibalik pernyataannya yang sangat tepat.


"Pasti kita' bukanki orang yang mau cari jodoh sembarangan..." Dia berhenti sejenak, mengamati ekspresiku dan memastikan aku setuju dengannya. Kemudian, dia melanjutkannya, "Pasti tidak mauki kalau bukan sama orang yang langsung datang melamar toh kak?" dia menjawab tegas dengan intonasi suara khas orang Makassar. Nada bicaranya berhasil meyakinkan teman-temannya yang ikut menyimak.


"Kalau begitu, nanti saya yang bawa erang-erangnya kalau menikahki kak." Anak yang tadi menganggapku memiliki pacar, dengan senyum lebar dia bergurau dan berakting menekuk lengannya, seolah-seolah sedang membawa sesuatu.


Aku tertawa lepas mendengar perbincangan polos anak-anak itu. Betul-betul mengherankan, darimana anak seumuran mereka memahami hal seperti ini?


Perihal yang satu ini, sebelumnya pun saya pernah mendapatkan pertanyaan yang sama. Hanya saja yang menanyakannya bukan lagi anak perempuan berumur 10 tahun yang 'bahasa ibunya' sama denganku, melainkan seorang lelaki 'asing' berumur 23 tahun. Diakhir perbincangan kami tentang Indonesia dan negerinya, tiba-tiba dia mempertanyakan hal yang sedikit mengejutkan, "Do you have a boyfriend?"


Aku memutar otak sebelum menanggapinya, harus memulai dari mana aku menjelaskan jawabanku.


"No, I don't have a boyfriend"


"Really? Don't you have a boyfriend?" Seperti yang kuduga, dia terkejut mendengar jawabanku.


"Yes, of course. I never wanted to have a boyfriend." Aku berusaha meyakinkannya.


"Why?" Dia masih heran dan tidak mengerti alasan dari jawabanku.


"Because I just wanna have one special man in my life and that's just the man who will be my husband." Aku menyederhanakan alasanku.


"Oh, that's good. But every man and woman that I have known in Makassar, most of them have couple. They have girlfriend or boyfriend." Dia mulai mengerti, tapi dia tidak memahami alasan yang lebih tepat.


Lagi-lagi ini menyangkut prinsip dan nilai 'kepercayaan' yang mengakar batin. Ini sedikit rumit untuk menjelaskannya secara detail kepada seseorang yang notabene belum memahami landasan dasar kenapa aku memutuskan memilih tidak memiliki pasangan spesial (pacar) selain seseorang yang menjadi suamiku. Ini soal keyakinan dan harga diri. 

Aku mulai memikirkan alasan sederhana yang bisa membuatnya paham dan tidak seheran ini. Betapa pandangan mengenai nilai dan prinsip betul-betul berbeda antara kita di Timur dengan mereka yang di Barat. Pertanyaan boleh sama, namun saat kau menjawab 'ya' untuk orang yang memahami nilai dan prinsipmu tetap saja akan sama mengherankannya saat kau menjawab 'tidak' untuk orang yang memiliki nilai dan pemahaman yang berbeda.
 

~Menjadi single itu pilihan. Pilihan cerdas untuk orang yang tahu cara menjaga dirinya dan menghargai orang yang kelak menjadi pasangannya.~
READ MORE - Dia-lo-gue: The reason for being single

Senin, 05 Mei 2014

Untuk Bahagia, Luangkanlah Waktumu Bersama Mereka

Time flies, sabtu kembali datang. Di saat kami merasa lebih nyaman menikmati akhir pekan bersama keluarga, selalu ada alasan yang membuatku memilih meninggalkan zona nyaman dengan perasaan bahagia, tanggung jawab misalnya.

3 Mei 2014, pertemuan ketiga #NulisBarengSobatku untuk kelas IV-B di SDN Sungguminasa IV. Kelas dimulai pukul 11.30 WITA. Anak-anak kuarahkan untuk berhitung dan membagi mereka menjadi tiga kelompok. Kak Dhila mendampingi kelompok 1, Kak Thya mendampingi kelompok 2, dan saya sendiri mendampingi kelompok 3. 

Apa yang kami lakukan di setiap kelompok? Mengoreksi kesalahan umum dalam tulisan: penggunaan tanda baca, imbuhan, huruf besar/ kecil, kekurangan/ kelebihan huruf atau okkots, dan penulisan kata baku.

Berhubung ada beberapa anak yang tidak membawa buku tulisnya karena alasan lupa, jadilah saya berinisiatif memeriksa beberapa tulisan yang ada saja dengan meminta semua anak menyimak penjelasan beberapa kesalahan yang saya koreksi dari tulisan temannya.

"Untuk kata pada awal kalimat, diawali dengan huruf apa?" Tanyaku membuka sesi belajar hari ini.
 
"Huruf besar/ kapital" beberapa anak menjawab.

"Jadi, 'ibu' diganti 'Ibu', huruf 'I' harus kapital." Aku menjelaskan sambil menunjukkan tulisan yang dikoreksi.

Kesalahan umum dalam penulisan huruf besar/ kecil ialah masih sering menuliskan huruf kecil di awal kalimat/ setelah tanda titik ".", huruf besar di tengah kalimat, dan huruf kecil pada awal nama orang.

Selain kesalahan huruf kecil/besar, anak-anak juga kadang keliru dalam penulisan kata baku, seperti kata "pakai" ditulis "pake". Kesalahan ini biasanya disebabkan karena kebiasaan dalam pengucapan/ lisan, kata "pakai" terkadang diucapkan menjadi "pake".


"Nasehat atau nasihat? Kata mana yang lebih baku?" Umpanku saat melihat kata "nasehat" dalam tulisan salah seorang anak.

Banyak dari mereka memilih "nasehat" karena lebih lazim digunakan, namun kenyataannya menurut KBBI, saat kita mencari kata "nasehat" maka akan diarahkan untuk mengecek kata "nasihat". Itu artinya, kata yang baku adalah nasihat.

Penambahan imbuhan pada kata dasar. Kata "celeng", sinonim "tabung", saat mendapatkan awalan "men" maka akan menjadi "menceleng" bukan "menyeleng". Awal kata yang bisa melebur menjadi "ny" saat mendapatkan imbuhan "men" ialah hanya kata yang diawali huruf "S". Contoh: men + sapu = menyapu
 
Penggunaan tanda baca pada kalimat, "Kata ibu guru kalau ..."
Sebaiknya setelah kata guru diberikan tanda koma ",". Kalau dibaca tanpa tanda koma, bisa saja orang mengira ibu gurunya bernama kalau. 

Dan yang terakhir adalah penulisan kata ganti orang. Beberapa anak masih keliru dalam menuliskan kata ganti, namun ada anak yang sudah benar dalam menuliskannya yaitu menyambungnya dengan kata sebelum/ sesudahnya, contoh: "kupakai" dan "pakaianku".

Hari ini, suasana kelas sangat riuh, beberapa anak yang susah diatur dan tidak membawa bukunya memilih berkeliaran dan mengganggu temannya yang lain. Hal ini membuat kami sangat kewalahan. Namun, ada juga yang asyik memperhatikan tulisan temannya yang dikoreksi dan bahkan berinisiatif membuat tulisan baru setelah tahu kesalahannya.

Sebelum pulang, kami berfoto bersama lalu mengingatkan anak-anak untuk tetap menulis dan membawa bukunya di pertemuan berikutnya.

Sesi penutupan, semua anak bergantian menjabat tangan kami. Beberapa anak yang mendekatiku bertanya,

"Kak, kenapa cuma datang dua pekan sekali?" Ucap seorang anak dengan nada kecewa.

"Iya kak, kenapa dua pekan depanpi lagi baru datangki?" teman disampingnya menimpali.

Ternyata, mereka merindukan kedatangan kami. Waktu yang kami luangkan masih belum cukup bagi mereka.

Terima kasih untuk skenario indah ini. Menjebak kami dalam lingkaran "bahagia" yang tak habis-habisnya, membuat kami mensyukuri  waktu luang yang  Engkau berikan untuk pertemuan singkat ini.

Terima kasih juga untuk teman-teman relawan yang notabene sangat sibuk dengan urusan masing-masing tetapi tetap mau meluangkan waktunya dua jam setiap dua pekan untuk mengajar secara sukarela. Semoga pengorbanan dan usaha kita membuahkan hasil yang manis.
READ MORE - Untuk Bahagia, Luangkanlah Waktumu Bersama Mereka

Senin, 28 April 2014

Kenangan bersama Ayah

Dibandingkan dengan adik-adikku, aku sangat jarang mengadukan apa pun padanya. Tapi aku tahu, cintanya sama besarnya untuk kami. Dan aku selalu suka caranya menunjukkan cintanya pada kami, meski hanya dengan perhatian-perhatian yang sangat sederhana.


Aku teringat hari pertama masuk Sekolah Dasar, pagi-pagi sekali dia menemaniku ke sekolah. Kami melalui setiap setapak dengan  berjalan kaki, genggaman tangannya tak lepas dari lengan kecilku. Aku tahu, dia tidak akan membiarkanku sendiri.

Karena sakit, aku absen dari sekolah. Kata temanku, saat itu dia  datang ke sekolah. Tapi bukan surat sakit yang diserahkan, melainkan masuk ke kelasku, lalu dia berdiri di depan kelas, di depan guru dan teman-temanku. Apa yang dilakukannya? Dia meminta maaf karena ketidakhadiranku dan meminta agar aku dido'akan segera sembuh.

Ada soal matematika yang tidak bisa kuselesaikan, soal cerita dengan istilah yang masih asing. Dengan sabar, dia berusaha memahamkanku. Sambil menjelaskan, dia mencoret-coret kertasku. Akhirnya aku tahu,  tanda baca "titik" biasa digunakan sebagai tanda kali (X) dalam matematika dan selisih itu artinya beda yang didapatkan dari hasil pengurangan antara dua angka.

Berhari-hari aku merajuk dan merengek-rengek ingin dibelikan sepeda. Sepulang mengaji, dengan senyuman mengembang dia memberiku kejutan, menunjukkan sepeda ungu yang dibelinya untukku.

Aku dapat tugas keterampilan dari sekolah, membuat bangun datar. Dengan cekatan, dia membuatkannya untukku. Menggambarkan pola bangun datar di atas tripleks, menggergajinya, dan mengecatnya dengan warna hijau. Aku selalu menyukai saat dia melakukan apapun untukku.

Liburan kenaikan kelas 2 SMP. Aku keluar rumah, duduk-duduk santai di halaman. Dia menegurku dengan bijak "perempuan tapi keluar tidak pakai jilbab. Apa tidak malu rambutnya kelihatan?"

Dia menelponku. Kami berbicara sangat lama, kami sama-sama menangis. "Jadilah contoh yang baik untuk adik-adikmu" pesannya dengan haru. Aku mendengarnya sambil sesenggukan menahan tangisku.

Hari pertama ospek SMA, dia mengantarku ke sekolah. Menemaniku menunggu hingga senior menyuruh kami (siswa baru) berkumpul. "Masih ada yang ditunggui orang tuanya?" Seniorku berteriak. Aku menoleh, dia masih tetap di tempatnya. Aku keluar dari barisan dan menghampirinya, "pulang saja, tidak usah ditunggu". Lalu dia berbalik meninggalkanku.

Saat lebaran tiba, dia mengajakku berkunjung ke rumah keluarga. Seperti biasa, saya selalu lebih nyaman keluar dengan mengenakan pakaian dengan rok dan jilbab yang agak longgar. Dia memerhatikanku dari kaki hingga kepala. Dia paham betul, ada yang kurang dengan penampilanku.Sambil tersenyum dia menegurku dengan bijak "Mana kaos kakinya?". Aku hanya cengengesan menanggapinya.

Sepatuku rusak. Meski tidak memintanya membelikanku yang baru, dia mengajakku jalan-jalan dan menemaniku berkeliling mencari sepatu baru.

Menjelang ujian SNMPTN, dia mengirimiku pesan melalui facebook. 
"Assalamu'alaikum...Bagaimana kabarnya? Semoga selalu berduaan dengan ALLAH, sehingga diberikan bimbingan untuk meraih cita-citanya, karena insan hanya berikhtiar, yang menentukan adalah sang khalik."
Di lain waktu, dia memosting pesan di timeline facebookku:
"Ketika ingin menggapai sesuatu cita-cita, maka butuh perjuangan yang sungguh-sungguh, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita berharap pada sang pengabul cita?"

"Jangan pernah menyerah dalam mengejar kesuksesan, tapi ingat sandarkan pada kekuatan iman dan amal serta tawakkal kepada sang khalik".

Dia menjemputku di tempat kursus TOEFL. Saat berbincang dengan Mr.C, dia mengadukanku "saya baru tahu kalau si Nurul ikut kursus, dia tidak pernah bilang sebelumnya. Jadi, selama ini kursusnya dibayar dengan uangnya sendiri." Aku sangat malu saat itu, tapi aku tahu dia bangga padaku.
~...~

Dari ribuan bukti cinta yang ditunjukkannya, selalu ada hal-hal  spesial yang membuatku merasa sangat beruntung memiliki ayah sehebat dia. Terima kasih telah mendidik dan mengajarkan kami menjadi wanita terhormat yang selalu mengingat Allah.
READ MORE - Kenangan bersama Ayah

Kamis, 10 April 2014

Endless Love

Percayalah, akan selalu ada seseorang yang mau menghabiskan waktunya untuk menunggumu. 
 Diam-diam menyebut namamu dalam do'a-do'a khusyuknya.
Seseorang yang akan mengkhawatirkan sakitmu melebihi sakitnya sendiri. 
Dan tak ada apa pun yang diharapkannya kecuali senyum dan tawa bahagiamu. 
Dialah yang selalu setia menyimpan cintanya untukmu. 
Meski dia tahu, pada akhirnya kau akan pergi untuk orang lain.



Mom, Dad... thanks for everything. Thanks for your endless love.

"Allahummaghfirliy waliwaalidayya waarhamhumaa kamaa rabbayaaniy shagiiraa".
"Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, 
serta sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.
READ MORE - Endless Love

Sabtu, 05 April 2014

Membudayakan Menulis Sejak Dini

Pesan singkat dan status facebook dari salah seorang relawan menjadi pemantik semangat untuk aktivitas hari ini: 
"Kita semua adalah sumber daya bagi Indonesia. 
Kirim semangat #PadamuNegeri untuk Relawan anak LemINA 
yang hari ini akan silaturrahim bersama guru dan
Nulis Bareng Sobat kecil kita di Sekolah Dasar. 
Dampingi mereka belajar menulis, agar kelak mereka 
akan menuliskan sejarah indah negeri ini." Bunga.


Hari ini adalah sabtu spesial. Siang tadi, tepat pukul 11.00 WITA. Di depan gerbang SDN Sungguminasa IV, seorang anak perempuan  tersenyum dan mendekatiku setelah melihatku sibuk mengutak-atik HP. 

"Kak, siapa yang kita cari?"

"Tidak adaji dek. Saya menunggu teman" aku tersenyum, meresponnya sambil membalas pesan dari teman yang kutunggu.

"Mau buat apa kak? mengajar ya?"

"Iya, sebentar mau mengajar menulis. Kamu kelas berapa?"

"Kelas 5, kak."

"Sayang sekali, kelas menulisnya cuma untuk kelas 4."

"Kakak yang pernah datang waktu Kelas Inspirasi 'kan?"

"Iya, kamu masih ingat?" Aku sumringah, ternyata masih ada yang mengingatku.

Lalu dengan antusias dia melanjutkan ceritanya tentang Kelas Inspirasi dan  para inspirator hebat yang menginspirasinya. Kami bernostalgia membahas hal yang mengesankan dari Kelas Inspirasi. Beruntunglah, momen menunggu kali ini terlewati dengan menyenangkan. Sekitar 15 menit berlalu, satu per satu tim pengajar "Nulis Bareng Sobatku" yang kutunggu tiba di lokasi. 

Nulis Bareng Sobatku merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LemINA) sebagai bentuk aktivasi Kelas Inspirasi. Kegiatan ini bertujuan untuk membudayakan menulis sejak dini dan mengakrabkan anak-anak dengan dunia literasi. Kegiatan ini rutin dilaksanakan dua pekan sekali di setiap sabtu selama 12 kali pertemuan. Lokasi kegiatan ini ialah beberapa Sekolah Dasar yang turut berpartisipasi dalam Kelas Inspirasi Sulawesi Selatan (Khusus Makassar, Gowa, dan Takalar). Untuk Kabupaten Gowa, lokasinya di SDN Sungguminasa IV dan ditangani oleh tim pengajar sebanyak 5 orang (Thya, Athifah, Dhila, Hendra, dan Samsir).

Setelah pelajaran KTK, Ibu Nismayanti, wali kelas IV B mempersilakan kami memulai kegiatan menulis ini. Kami memulai dengan perkenalan singkat. Saling tebak-menebak nama. Dan mereka menebak tiga nama dengan tepat. Mereka sangat menakjubkan! 

Setelah perkenalan, anak-anak mulai rileks mengikuti kelas menulis. Sebelum memulai materi, kak Samsir memperlihatkan beberapa majalah anak dan novel karya anak-anak seumuran mereka. Dan hal itu cukup menarik perhatian mereka.

Di kelas perdana ini, kami membahas tentang bagian-bagian tubuh dan fungsinya. Mereka diajak mengidentifikasi dan menuliskan jenis bagian tubuh  yang mereka dengar dari cerita pendek yang dibacakan oleh kak Samsir. Selanjutnya mereka mencoba memikirkan dan mencari tahu apa saja fungsi dari setiap bagian tubuh yang mereka tulis.

Kelas semakin riuh saat mereka kehabisan akal untuk menebak beberapa fungsi bagian tubuh. Mereka mulai mondar-mandir, satu per satu  menanyakan beberapa fungsi tubuh yang tak lazim untuk mereka.

Apa fungsi lutut, kak? | Apa fungsi wajah, kak? | Apa fungsi dagu, kak? | Apa fungsi bahu, kak? | Apa fungsi punggung, kak? | Apa fungsi otot, kak? | Apa fungsi pipi, kak? | Apa fungsi dahi, kak? 

Sungguh, pertanyaan-pertanyaan yang menggemaskan. Setelah semua pertanyaan dijawab dengan jawaban-jawaban aneh tapi masuk akal, akhirnya sesi kelas menulis berakhir bahagia. Ditutup dengan do'a bersama.

Sampai bertemu dipertemuan berikutnya dan bersiaplah dengan kejutan spesial lainnya.

 ~***~

Kita terlalu kecil untuk bisa tahu kebesaranNya dalam waktu singkat. 
Belajar itu setiap saat, tidak hanya sesaat.
READ MORE - Membudayakan Menulis Sejak Dini