Pages

Kamis, 26 Mei 2016

Melepaskan


Cerita kita masih sangat panjang, banyak hal yang perlu kita pahami sebelum membersamai orang yang tepat. 
Aku yakin bahwa Tuhan selalu mempertemukan kita dengan siapa pun untuk alasan baik, meski akhirnya harus ada yang kecewa karena kehilangan. 
Tetaplah lapang, tak peduli betapa resahnya menyembunyikan perasaan demi kebahagiaan orang lain. 
Tetaplah ikhlas, tak peduli betapa pedihnya mengalah demi kebaikan orang lain. 
Tetaplah tersenyum, tak peduli betapa sakitnya saat harus memilih menghapus perasaan yang kita pendam bertahun-tahun karena tahu sahabat sendiri mencintai orang yang sama. 
Mungkin memang benar kata orang, kita harus belajar melepaskan untuk mendapatkan kebahagiaan. 
Tapi seberapa besar pun usahaku membenarkan kata-kata itu, tetap saja bagiku melepaskanmu adalah belajar mencintai luka.


READ MORE - Melepaskan

Jumat, 20 Mei 2016

Perihal Malam Ini


Malam ini, di tengah hingar bingar keramaian kota, aku berdiri di antara ratusan pasang kaki. Mataku terpukau pada kemeriahan panggung pertunjukan, menikmati euforia debaran jantung pada setiap kata-kata dalam puisi.

Malam ini, di bawah kerlap kerlip bintang langit, di antara kegaduhan sorak sorai penonton dan kebisingan lalu lalang kendaraan, tetap saja aku tak berhasil menemukan tempat persembunyian aman darimu. Sebab ternyata, di antara ratusan pasang kaki itu, ada sepasang kakimu yang berdiri tak jauh dariku.

Ini bukan kali pertamanya aku mencari tempat persembunyian darimu, tapi tetap saja tiba-tiba kamu berada di tempat yang sama. Apa ini pertanda bahwa kita harus berdamai dengan takdir? Atau mungkin ini peringatan, bahwa kita sudah terlalu senja untuk bermain kucing-kucingan. 
READ MORE - Perihal Malam Ini

Sabtu, 16 April 2016

Menjaga Perasaan

Kelak di hari bahagia kita, aku enggan melihat ada seseorang yang tersakiti.

Itulah mengapa aku takut menjatuhkan hati pada (si)apapun selainNya sebelum kamu datang.

Tapi, bukankah dicintai diam-diam adalah perkara berbeda?

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita dan menyembuhkan luka siapapun yang telah kita sakiti tanpa sadar.

READ MORE - Menjaga Perasaan

Rabu, 27 Januari 2016

Surat Kaleng


Bising di kepala, kukemasi ke dalam botol-botol kaca. Melalui perantara langit dan laut, aku berharap ia sampai tepat alamat (di tempatmu bersembunyi). Ini serupa pembawa kabar penting untuk dunia, bahwa dalam pikiranku: ada kamu. Menetap selamanya.

READ MORE - Surat Kaleng

Jumat, 15 Januari 2016

Januari dan Lautan


Rencananya akan ada kunjungan sekolah di Pulau Tanakeke pada hari Kamis (14/1). Saya mengajak beberapa teman. Kak Indi dan Eka antusias ingin ikut. Kapal yang sudah deal kami tumpangi, menyanggupi akan mengantar ke Pulau dengan syarat berangkat pukul 06.30 pagi dari Dermaga Takalar Lama, agar bisa langsung pulang pada siang harinya. Jadi, kami harus berangkat dari Gowa sekitar pukul 05.30. Sayangnya, Kak Indi batal ikut karena tidak bisa jika harus berangkat sepagi itu.

Tiba-tiba malamnya, ada kabar pembatalan sepihak. Katanya cuaca kurang bagus untuk menyebrang besok pagi, jadi sekalian pekan depan saja. Saya mulai dongkol, menduga-duga banyak hal. Cuaca buruk? Bukankah itu hal wajar di bulan Januari ini? Sekarang angin musim barat, pastilah gelombang laut agak mengerikan apalagi jika hujan turun. Menurut prediksi cuaca, hingga pekan depan pun masih berpotensi hujan di wilayah Sulawesi Selatan. Jadi, tetap saja akan ada kemungkinan cuaca buruk hingga pekan depan.

Segera kuhubungi Kak Dian dan memastikan kebenaran mengenai kabar pembatalan untuk ke pulau besok.

“Kenapa baru malam begini diinformasikan kalau tidak bisa berangkat, coba dari tadi sore kita masih bisa cari kapal lain. Lagian juga kenapa bukan saya yang langsung dihubungi kalau besok batal.” Keluh Kak Dian dengan nada kecewa.

“Iya kak, saya juga baru dikabari. Padahal tadi sudah ketemu kepala sekolah dan memastikan akan berangkat hari Kamis besok.” suaraku mulai memelas.

“Tadi juga sudah deal kalau bisaji pergi pagi-pagi dan pulang siangnya. Kenapa tiba-tiba dibatalkan.” 

"Pokoknya saya harus tetap berangkat besok pagi, Kak." saya meyakinkan Kak Dian meski tetap saja kekhawatiranku jauh lebih besar.

"Iya, nanti saya coba cari info kapal dulu.” Kak Dian menyanggupi.

Kami melanjutkan percakapan via WhatsApp. 

“Seandainya bukan malam saya dapat info, saya cari memang alternatif lain.”

“Tapi biar bagaimana pun, saya harus usahakan berangkat besok pagi, Kak.” Balasku.

“Kalau tidak dapat info malam ini, mungkin terpaksa minggu depan baru bisa pergi. Soalnya kalau mau menginap kita tinggal di mana?"

“Besok hari pasar kan kak? Kapal penumpang kalau hari pasar biasanya memang tidak ada yang berangkat siang atau sore dari pulau?”

“Itu juga informasinya saya tidak tahu.”

Masih ada kesempatan mencari alternatif lain. Biar bagaimana pun harus dapat kapal pengganti. Beruntunglah kak Dian mau membantu mencarikan kapal lain yang bisa kami tumpangi. Sayangnya sampai tengah malam berchit-chat ria dan mencari informasi melalui teman. Tetap saja hasilnya nihil, kami belum mendapatkan solusi dan titik terang mengenai keberangkatan besok. Dan kabar buruknya lagi, Kak Dian yang juga berencana menemaniku ke pulau, terpaksa harus mengurungkan niat karena dia batal diliburkan, katanya besok tetap harus masuk kantor. 

Informasi mengenai waktu keberangkatan kapal ke pulau maupun sebaliknya masih abu-abu. Satu-satunya solusi paling maksimal yang bisa kami usahakan agar perjalanan ke pulau tidak ditunda hingga pekan depan yaitu besok pagi harus langsung ke dermaga  dan bernegosiasi dengan pemilik kapal yang stay di dermaga. Kukabari Eka via BBM agar membawa pakaian cadangan untuk berjaga-jaga jika kami tidak dapat kapal pulang.

Paginya saya terbangun dengan kepala pening dan mata perih.  Segera kucek layar HP, 7 panggilan tak terjawab. Duh sudah pukul 05.50 pagi. Bagaimana tidak telat kalau tidurnya sekitar pukul 2 dini hari. Aku melompat turun dan segera bergegas.  Eka sudah menunggu di depan rumah sejak 20 menit yang lalu. Kami berangkat pukul 06.10. Sekitar pukul 7 lewat kami tiba di dermaga. 

Cuaca hari ini sangat terik. Semoga tidak hujan hingga kami kembali. Kak Dian mulai bernegosiasi dengan salah satu pemilik kapal. Sedang saya dan Eka menuju warung makan untuk sarapan pagi. Kak Dian mengabarkan bahwa charter kapal untuk pulang pergi harganya Rp 700.000,  kalau mau lebih murah harus menunggu sampai jam 12  dan berangkat bersama penumpang lain sepulang dari pasar. Tapi kami tidak bisa menunggu sebab mengejar jam sekolah. Akhirnya kami sepakat menyewa kapal. Si Dana, salah seorang teman yang kami tunggu  juga sudah tiba di dermaga. 

Suasana di atas kapal saat perjalan pergi
 Kami menuju  kapal dan berangkat bertiga bersama dua nakhkoda kapal. Kami tiba di dermaga Pulau Tanakeke Dusun Tompotanah setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit. Sekolah yang kami tuju letaknya di dusun Dandedandere, itu berarti kami masih harus melanjutkan perjalanan selama 15 menit dengan kapal yang lebih kecil karena air masih surut. Setibanya di Dusun Dandedandere kami berjalan kaki sekitar 15 menit melewati empang dan sungai-sungai kecil berjembatan kayu.

Perjalanan pulang tak sedamai perjalanan pergi. Belum sampai setengah perjalanan, gelombang laut mulai agak tinggi. Saya menoleh memperhatikan ekspresi Eka dan Dana yang duduk di sebelah kanan kiriku. Jelas sekali mereka berdua sangat panik. Mereka mulai mengeratkan genggaman tangannya pada tiang kapal. Ombak menghantam badan kapal, menghempas ke kiri dan kanan. Kami seperti sedang bermain wahana roller coaster.

Suasana di atas Kapal saat perjalanan pulang
Ibuuu Ibuuuu ibuuuuu ibuuuuu…” Eka mulai berteriak. Dana juga ikut berteriak histeris karena ketakutan. Suara mereka tak kalah nyaring dengan suara hantaman ombak yang mulai mengamuk. Posisi dudukku sudah bergeser karena kapal terus terayun-ayun. Saya mulai khawatir, tetapi urung berteriak. Anehnya saya malah tertawa melihat ekspresi Eka dan Dana yang masih histeris. Air laut sudah terpercik masuk ke badan kapal.

Asiiin.” Eka berkomentar sambil mengecap saat air laut juga masuk ke mulutnya.

“Ya iyalah asin, kan air laut.” Jawabku spontan.

Tidak adapi kelihatan daratan" dengan lirih Eka menyuarakan kekhawatirannya, takut  jika harus berlama-lama lagi dihantam ombak. 

“Dana, sempat merekam momen yang tadi tidak?” Tanyaku saat kapal mulai agak tenang. 

“Tidak. Takutka. Ini habismi suaraku berteriak.” Jawab Dana dengan suara agak parau.

Akhirnya kami tiba juga di Dermaga Takalar Lama dengan perasaan sangat lega. Hari yang sangat menyenangkan, tak terkecuali pada bagian "histeris" di tengah lautan saat perjalanan pulang. Lihatlah, Januari dan Lautan tetap saja sulit diajak berdamai.

READ MORE - Januari dan Lautan

Jumat, 08 Januari 2016

Muhammad #3: Sang Pewaris Hujan

"Aku meneruskan hidup, dan mengenang sesuatu yang tak bisa kumiliki seumur hidupku.  Aku tidak memperlakukannya sebagai sebuah penantian.  Sebab, aku tak hendak membebani seseorang yang namanya tak pernah hilang. Aku tak lagi menunggu. Tapi aku tak pernah melupakannya. Seumur hidupku." -Tasaro GK-
READ MORE - Muhammad #3: Sang Pewaris Hujan

Sabtu, 24 Oktober 2015

Pulang

Panciro, 13 Oktober 2015

Sabarlah, rumah sudah dekat.

Sepanjang perjalanan, aku terus mengingat-ingat percakapan terakhir kami dan pesan-pesannya.  "Sering-seringlah datang ke sini" pintahnya sambil mengusap air di sudut matanya.

Sabarlah, rumah sudah dekat. 

Aku semakin gusar. Perjalanan pulang kali ini tampak lebih panjang.

Sabarlah, rumah sudah dekat. 

Matahari hampir terbenam. Aku berjalan lebih cepat. Beberapa orang berjalan beriringan menuju arah yang sama denganku. 

Bendera putih terpasang tepat di depan rumah. Maaf, aku datang terlambat.

Lelaki yang tak asing menyambutku di pintu masuk, tanpa berkata-kata ia langsung merangkul dan menepuk-nepuk bahuku.  Aku hanya diam  kemudian berlalu masuk ke rumah.

Rumah sudah penuh sesak dengan orang-orang terdekat hingga yang tidak kukenali sama sekali. Isak tangis dari mereka tak lantas membuatku ikut menangis. Rasanya aku sudah kebal dengan kehilangan.
READ MORE - Pulang

Sabtu, 15 Agustus 2015

Kepada Lelaki Menyebalkan


Tidak ada yang spesial dengan tempat ini hingga aku menyadari bahwa sejak awal, bermula dari sini, aku diam-diam mengagumi apa pun tentangmu. Meskipun kamu lebih sering bertingkah menyebalkan dibanding bersikap manis. Tetap saja selalu ada hal 'aneh' yang bisa membuatku mengagumimu.

Kamu lihat awan itu? Bentuknya unik, mirip hati. Dan baru hari ini aku menyadarinya, sama seperti hatiku yang baru kusadari sudah jatuh untukmu sejak awal.

Setelah mengecek tanggal gambar ini kuambil, itu tepat bulan ke 13 setelah pertemuan pertama kita. Dan Agustus ini sudah tepat bulan ke 29. Sudah lama sekali, tapi kenapa baru sekarang menyadarinya?



Rumah, Lewat tengah malam.

Sudah sangat larut tapi masih sulit terlelap. Akhirnya berimajinasi sebelum tidur. Jaga kesehatan ya, hatinya juga. ^^

READ MORE - Kepada Lelaki Menyebalkan

Senin, 27 Juli 2015

Menikah itu Rumit

Menikah itu rumit. Mencari dan menunggu saja, butuh waktu yang tidak sebentar. Setelah menemukan, kamu perlu berjuang untuknya. Kemudian, kamu harus bisa meyakinkan keluargamu dan keluarganya bahwa kalian cukup pantas bersama.

Faktor agama, fisik, nasab, dan harta tidak serta merta bisa dipertimbangkan dan difilter dengan mudah. Mungkin kamu sudah terlanjur jatuh hati, tapi restu keluargamu tetap akan menjadi pertimbangan yang paling penting.

Biar bagaimana pun, kita tidak bisa memaksakan kehendak. Rasa suka dan cinta tak pernah bisa kita kendalikan, tapi kita harus siap berbesar hati menerima risiko dan melepaskan jika saja takdir berkata lain.

~Teruntuk kita yang masih menunggu dan mencari. Berdo'alah semoga bisa segera menggenap dan melalui kerumitan dengan bijak.~
READ MORE - Menikah itu Rumit

Selasa, 14 Juli 2015

20.15


Seharusnya rumah menjadi tempat pulang ternyaman. Seharusnya  keluarga adalah orang terdekat yang paling bisa memahami sakit dan sepi kita setelah ditinggal orang yang paling berharga. Tapi semua bisa jadi sangat tidak nyaman dan merasa seperti orang asing karena ego dan amarah. 

Lalu jika tidak ada yang mau memahami dan mengalah, kemana lagi kami hendak  pulang dan mengadu? 

Rabb, tentramkan dan beri kami hati yang lapang. Hilangkan prasangka dan kebencian yang membakar habis kebaikan.
READ MORE - 20.15

Minggu, 14 Juni 2015

Lelaki dan Kekhawatirannya

Sebagai anak perempuan, tentu banyak yang tidak kupahami dari kaum lelaki. Tapi, dari seorang lelaki luar biasa (I call him 'Etta'),  saya bisa belajar memahami bahwa pada dasarnya laki-laki akan melakukan apa pun untuk melindungi dan memberikan yang terbaik untuk perempuan, terutama anaknya. 

Laki-laki jika sudah menjadi ayah akan menjadi sangat egois dan tidak akan pernah ridho jika anak perempuannya disentuh oleh laki-laki (karena sebelum ada yang berani datang melamar anaknya, hanya dia lelaki yang bisa dipercaya). Bagi seorang ayah, selalu ada hal sepele yang bisa membuatnya mengkhawatirkan anak perempuan yang disayanginya melebihi kekhawatirannya terhadap diri sendiri. Dan terkadang kekhawatirannya tersebut bisa membuatku menyadari betapa berharganya seorang perempuan. 

Dia bisa sangat marah hanya karena melihat anaknya berpakaian tidak pantas di depan umum. Sangat tidak suka kalau anaknya berduaan dengan seseorang yang bukan mahram. Atau bahkan sangat jengkel karena melihat anaknya memosting foto selfie sesuka hati di media sosial.Tapi dari banyak lelaki, hanya sedikit yang bisa mengkhawatirkan hal sesepele itu. Karena nyatanya, cuma sedikit lelaki yang paham bagaimana menjaga dan menghormati wanita yang disayanginya.

Tahun lalu menjelang idul fitri, saya membeli baju gamis dengan payet karet pada bagian pinggang sehingga ukurannya terlihat kecil. Malamnya, Ettaku memanggilku, "Ini bajumu? Kenapa ukurannya kecil sekali?" Tanyanya dengan ekspresi tidak suka sambil memperlihatkan baju yang kubeli.

"Iya, itu bajuku. Pastilah kecil, kan badanku juga kecil." Aku merespon seolah semua baik-baik saja.

"Masa kecil begini? Ini pasti ketat. Coba dipakai!" Nada suaranya terdengar khawatir. Dia  sama sekali tidak yakin kalau baju itu cocok untukku.

Saya mengambil baju yang disodorkannya lalu memakainya.
"Ini cocok kan? Pas dengan ukuranku." Kataku santai sambil memperlihatkan bajuku yang sudah terpasang rapih.

Alisnya mengernyit, masih tidak senang melihatku memakai baju dengan ukuran yang menurutnya ketat karena berpayet pada bagian pinggangnya.

Besoknya mama melihatku mengenakan baju yang sama, lalu berkomentar, "Bajunya bagus, cocok karena tertutupi jilbab panjangmu. Etta pikir ketat karena belum lihat jilbabmu."

Sebelum sempat merespon, mama lanjut bercerita, "Dari semalam bajumu terus yang dipusingi Etta. Katanya ketat dan kekecilan. Malah dia heran dan tidak percaya kalau kamu sendiri yang mau beli baju itu." Lapor mama dengan antusias.

Aku hanya bergumam mendengar cerita mama.

Selain itu, Mama juga pernah mengadukan kekhawatiran Etta tentang foto di sosial media. "itu Ettamu kayak orang kebakaran jenggot gara-gara lihat fotonya adekmu di facebook, katanya bergaya sekali pamer-pamer foto. Tapi kenapa Ettamu melapor ke saya?  Atau maksudnya mungkin supaya saya saja yang kasih tahu adekmu untuk tidak pasang fotonya? Seharusnya dia saja yang langsung menegur."

Saya hanya menggelengkan kepala mendengar aduan mama.

Meski masih suka ngeyel dan bandel kalau dinasehati, saya tetap dan akan selalu bersyukur  punya orang tua yang super protektif, terutama dalam persoalan menjaga iffah dan kehormatan anaknya sebagai wanita. Karena mereka paham bahwa anak perempuan sangatlah berharga dan harus dijaga dengan baik.


READ MORE - Lelaki dan Kekhawatirannya

Minggu, 10 Mei 2015

Memintamu PadaNya

Dalam kesyukuran yang penuh suka ci(n)ta, padaNya aku memintamu dengan sipu merona.

Sekeras apa pun hatimu, aku pantang menyerah sebelum mendapati penerimaanmu.

Tersebab bagiku, dengan lebih atau pun kurangmu, jiwamu akan sempurna melengkapiku.



~Terkena sindrom melankolis (lagi) >,< ~
READ MORE - Memintamu PadaNya

Kamis, 30 April 2015

Do'a Hujan

"Kak, perjuangan kita hari ini betul-betul berat ya. Sampai harus hujan-hujanan seperti ini." Katanya sambil berusaha mengeratkan genggaman tangan kanannya pada gagang payung  yang hampir diterbangkan angin.

"Iya berat, sangat berat. Untuk mencari kebaikan memang tidak ada yang mudah 'kan?" Balasku sambil berjinjit menghindari genangan air sebatas mata kaki.

"Betul kak, mencari kebaikan itu nggak semudah yang kita bayangkan. Selalu saja ada rintangannya. Termasuk dengan hujan-hujanan seperti ini."

"Meski hujan, tetap saja saya paling suka dengan saat seperti ini. Sebab hujan salah satu momen paling romantis untuk berdo'a."

"Kalau begitu, do'a kakak apa?" Tanyanya antusias.

"Semoga hujannya membawa banyak berkah dan semoga hati kita berdua dijauhkan dari keluh kesah agar kebaikan-kebaikan yang ada tidak hilang begitu saja."

"Aamiin" dia merespon dengan khusyuk sembari mengelap sepatu dan roknya yang terkena cipratan lumpur.

"Kalau kamu, do'anya apa?"

"Semoga kakakku yang manis ini segera dipertemukan dengan seseorang yang baik hati." Jawabnya dengan senyum manis.

"Do'anya sudah dikabulkan tuh, kan saya sudah ketemu sama kamu."

"Ih kakak, maksudnya seseorang yang akan melengkapi separuh agama,  jodoh gitu."

"Ooh itu toh. Ini lagi nungguin dia kok. Semoga dia bawa payung, 'kan kasihan kalau kelamaan menunggu gara-gara dia terjebak hujan." Balasku dengan gurauan.

~Do'a melangit dan tawa kami, hanyut bersama tetes hujan yang kian menderas.

READ MORE - Do'a Hujan