Selasa, 04 April 2023

Cahaya Kunang-Kunang #3



Nenek tidak langsung menjawab, dia terdiam beberapa detik. Keningnya berkerut, matanya menatap kosong ke arah daun rumbia yang tersusun rapi di langit-langit rumah. Dia berjerih payah memutar otak, mengira-ngira apa yang harus  dia katakan untuk menjawab pertanyaan Aya. 

 

“Nenek juga belum pernah melihat seperti apa bentuk rumah kunang-kunang.” Akhirnya Nenek bersuara setelah menimbang-nimbang beberapa saat. Lalu Nenek perlahan menggeser badannya ke kiri agar bisa tidur menyamping, melihat ke arah Aya.

 

“Sepertinya kunang-kunang tidak memiliki rumah, tidak seperti lebah yang bisa membangun rumahnya sendiri dan memiliki sarang yang ditempati untuk tinggal dan bekembang biak.” Nenek melanjutkan jawabannya.

 

“Oh seperti itu ya Nek.” Aya juga menggeser badannya, berbaring menyamping ke arah kanan, menghadap ke Nenek. Dia siap menyimak cerita selanjutnya.

 

“Nenek cuma pernah melihat kunang-kunang terbang bebas di depan rumah, di sawah, di kebun, di ladang, di hutan, di...” Nenek berhenti, berusaha mengingat-ingat di mana lagi dia pernah melihat kunang-kunang terbang. 

 

“Seruuu sekaliiii! Asyik ya Nenek bisa lihat kunang-kunang di mana-mana.” Sahut Aya antusias.

 

Tanpa sadar Nenek tersenyum hangat, mengingat kenangan indah di masa kecil  bersama teman-temannya. Betapa bahagianya mereka saat melihat  kunang-kunang  terbang  dengan cahayanya yang berkelap-kelip. Setiap malam, sepulang dari Shalat Magrib di Masjid, nenek selalu bermain bersama teman-temannya dan mengejar segerombolan kunang-kunang yang terbang menembus kegelapan. 

 

Tiba-tiba Aya mengambil sarung yang terlipat di sisi kanan nenek. Lamunan Nenek pun langsung buyar. Udara dingin mulai terasa menusuk ke tulang, berhembus masuk melalui celah-celah dinding rumah, Nenek refleks menarik sarung yang melorot di kakinya untuk menutupi seluruh badan.

 

“Jadi, kunang-kunang bisa hidup di mana pun ya, Nek?” Aya lanjut bertanya setelah dia menyelimuti badannya dengan sarung. 

 

“Iya betul, kunang-kunang hidup bebas di alam, tapi tidak semua lokasi bisa ditempati kunang-kunang untuk hidup.” Lanjut Nenek sambil mengucek mata.

 

“Jadi kunang-kunang juga suka memilih-milih tempat yang bagus untuk ditinggali ya, Nek?” Tanya Aya sambil menguap. Dia masih melanjutkan pertanyaannya meski sudah mengantuk. 

 

“Untuk bertahan hidup, kunang-kunang mencari tempat yang lembab, hangat dan rindang seperti ladang, rawa-rawa, sawah, hutan dan tempat lain yang ditumbuhi banyak tanaman dan pohon.”  Jelas Nenek  sambil berusaha menahan agar matanya tetap terbuka lebar.

 

“Selain itu, kunang-kunang juga harus mencari tempat yang aman agar bisa menghidari hewan dan serangga lain yang bisa memangsanya.” Nenek masih melanjutkan ceritanya.

 

“Tapi sekarang, jumlah kunang-kunang sudah berkurang, lebih sedikit dari yang pernah Nenek lihat.” Suara Nenek terdengar sedih, menyayangkan karena kunang-kunang sudah tidak sebanyak dulu. 

 

“Kenapa jumlah kunang-kunang menjadi sedikit, Nek?” Aya bertanya dengan suara yang mulai memelan. Dia sudah menguap beberapa kali, matanya juga sudah sangat berat tidak bisa menahan kantuk.

 

“Karena tempat yang digunakan kunang-kunang untuk  tinggal dan berkembang biak sudah banyak yang rusak. Rumah-rumah lebih banyak dibangun di lahan yang tadinya ditempati kunang-kunang, pohon-pohon sudah berkurang, kondisi lingkungan juga sudah mulai berubah.” Jelas Nenek.

 

Aya tidak merespon lagi, matanya sudah  terpejam. Cerita Nenek seperti dongeng pengantar tidur. 

 

Aya kebingungan karena tersesat saat ingin pulang ke rumah.  Dia ingat arah jalan pulang, tapi kenapa saat menyusuri jalan yang biasanya dia lewati, tiba-tiba dia berada di tempat yang sangat asing. Ujung jalan yang dilewatinya sangat berbeda dari biasanya. Entah sudah berapa kali dia bolak-balik, tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan jalan pulang. Tangisnya sudah hampir pecah, tiba-tiba dia melihat cahaya kunang-kunang yang berkelap-kelip menghampirinya. Perasaannya langsung berbunga-bunga, dia legah, ada kunang-kunang yang menemaninya menyusuri jalan yang gelap gulita  dan mengantarnya pulang ke rumah. 

 

Ratusan kunang-kunang hadir dalam bunga tidur Aya.

 

***

 

Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Aya yang kesebelas. Cuaca sangat bagus, langit berwarna biru cerah, matahari bersinar terang, angin berhembus sepoi-sepoi, dan kicauan burung terdengar merdu. Baru beberapa menit lalu nenek selesai menjemur semua pakaian yang dicuci di sungai tadi pagi. Aya baru saja pulang dari sekolah, dia hanya masuk ke rumah untuk berganti pakaian, lalu pergi lagi bermain dengan Alin dan teman-temannya yang lain. Meski ini hari ulang tahunnya, Aya tetap saja merasa seperti tidak ada apa-apa, dia hanya menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain seharian dengan teman-temannya, sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya.

 

Mungkin bagi sebagian orang, hari ulang tahun merupakan hari spesial yang paling dinantikan setiap tahun. Hari penting yang disambut dengan riang gembira dan penuh sukacita. Hari yang dirayakan dengan pesta meriah bersama keluarga dan teman-teman terdekat. Hari di mana banyak orang terdekat kita melangitkan do’a-do’a  kebaikan dengan tulus, berharap agar segala hal menyenangkan dan keberkahan hidup selalu menyertai kita. 

 

Tapi bagi Aya, hari ulang tahunnya tidak sespesial, tidak sepenting, dan tidak semeriah yang orang lain rasakan. Setiap tahun, Aya tidak pernah bisa merayakan ulang tahunnya dengan sukacita. Nenek pun demikian, meski mengingat hari ulang tahun Aya dan sangat ingin melihatnya tersenyum, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab mau bagaimana pun, takdir tidak bisa diubah. Setiap tahun, di hari ulang tahun Aya, perasaan mereka tetap saja diliputi dukacita mendalam. Bagaimana bisa Aya merayakan hari kematian Ibunya dengan sukacita? 

 

Itulah sebabnya, setiap hari ulang tahun Aya, tidak pernah ada perayaan pesta ulang tahun yang meriah, tidak ada gaun cantik, tidak ada kue, tidak ada hadiah, dan tidak ada balon. Sangat berbeda dengan hari ulang tahun teman-temannya yang lain.

 

Bagi Aya, hari kelahirannya adalah hari berkabung, karena bertepatan dengan hari kematian ibunya. Sejak dia dilahirkan, Aya langsung berstatus anak piatu. Ibunya menghembuskan nafas terakhir beberapa menit setelah ia terlahir ke dunia ini. Aya tidak pernah melihat bagaimana bentuk wajah dan paras Ibunya. Aya hanya mengetahui tentang Ibunya dari cerita-cerita Nenek. 

 

Terkadang, di hari ulang tahunnya, Aya hanya bisa menangis setelah Nenek tertidur pulas. Sekuat apa pun dia di hadapan orang lain, dia tetaplah anak-anak yang masih butuh kasih sayang seorang ibu. Dia juga  ingin menjadi anak yang memiliki orang tua yang lengkap, seperti Alin dan teman-temannya yang lain. Bisa merayakan ulang tahunnya dengan pesta meriah, mendapatkan kado ulang tahun, mencicipi kue ulang tahun yang dibuatkan oleh Ibu, bisa melihat dan memeluk ibu, berkeluh kesah dan bercerita tentang apa pun yang dialami di sekolah, mengadukan teman yang mengganggunya, ada yang membela saat dia bertengkar dengan temannya, menceritakan permainan kesukaannya, mengerjakan PR bersama ibu, meminta ibu memasak makanan yang disukai setiap hari, dan melakukan apa pun seperti yang dilakukan anak-anak lain bersama ibunya.

 

Tapi Aya tidak bisa berbuat apa-apa selain melampiaskan kesedihannya dengan menangis. Tidak ada siapa pun juga yang bisa disalahkan dengan apa yang terjadi padanya. Bersyukur masih ada nenek yang menemani dan merawatnya dengan sabar. 

 

 

 


Senin, 03 April 2023

Cahaya Kunang-Kunang #2



Setelah melihat kunang-kunang, Aya dan Alin berjalan pelan-pelan, meraka masih memperhatikan sekeliling, menengok ke kiri dan ke kanan, berharap masih ada kunang-kunang lain yang melintas di depan mereka. 

 

Mereka berdua juga menanyakan banyak hal tentang kunang-kunang kepada Nenek. Tak heran jika perjalanan dari sawah ke rumah yang biasanya bisa ditempuh selama lima menit dengan berjalan kaki, menjadi dua kali lipat lebih lama karena keasyikan bercerita tentang kunang-kunang.

 

Nenek mengangkat tangan kirinya lebih tinggi saat menyadari cahaya dari lampu minyak yang dibawanya lebih redup, “ternyata minyak tanahnya sudah  hampir habis.” Gumam Nenek.

 

Aya dan Alin juga mengedarkan pandangan ke arah lampu minyak yang di pegang Nenek, mereka serius memerhatikan cahaya lampu yang meredup. 

 

Syukur jalanan mulai terlihat lebih terang, beberapa rumah sudah tampak di sebelah kanan jalan. Rumah pertama adalah rumah Alin, berjarak sekitar 150 meter dari tempat mereka berdiri, rumah Nenek dan Aya berada tepat di sebelahnya.  

 

“Ayo kita berlomba lari! kita buktikan siapa yang bisa lebih cepat sampai di depan rumahku.” Tantang Alin penuh semangat.

 

Tanpa berpikir panjang, Aya langsung menerima tantangan Alin dengan berani, “siapa takut! Ayo kita mulai, satu… dua… tiga…”  

 

Aya dan Alin langsung berlari secepat mungkin. Mereka berkejaran sambil tertawa girang. Dua sejoli itu sama-sama mempunyai tekad yang kuat, tidak ada yang mau mengalah. 

 

Tak heran jika ada yang mengatakan bahwa teman adalah cerminan diri kita. Sebab nyatanya, seseorang akan cenderung memiliki karakter dan kebiasaan yang mirip dengan orang-orang terdekat yang biasa bersamanya. Begitu pun Aya dan Alin, mereka memiliki banyak kesamaan karena sudah lama berteman. Meski pun bukan saudara kandung, mereka seperti pinang di belah dua.

 

Nenek yang tertinggal di belakang hanya tertawa geli, “ada-ada saja kelakuan mereka berdua.” Batinnya sambil menggelengkan kepala melihat mereka berlari terbirit-birit. Nenek turut mempercepat langkah kakinya, tapi meski pun sudah berusaha, tetap saja ia tidak bisa menyamai kecepatan dua anak itu karena harus berjalan dengan menyeret tongkat kayunya.

 

Saat Nenek tiba di depan rumah Alin, pintu rumah masih belum terbuka. Alin dan Aya masih menunggu di depan rumah, meraka duduk nyaman di kursi kayu panjang di teras rumah sambil bernyanyi riang. 

 

“Kalian sudah mengetuk pintu?” Tanya Nenek kepada Aya dan Alin.

 

“Belum, Nek.” Jawab Aya dengan cepat.

 

“Kami menunggu Nenek.” Lanjut Alin menimpali.

 

Nenek bergegas memberi salam dan mengetuk pintu rumah Alin. 

 

Tak lama kemudian, Mama Alin membuka pintu, senyum mengembang di wajahnya saat melihat Nenek, Aya dan Alin. Setelah mengobrol beberapa saat, Nenek dan Aya langsung berpamitan untuk pulang. 

 

“Terimakasih Nenek sudah menjemput kami di sawah.” Ujar Alin sambil melambaikan tangan kanannya saat Nenek dan Aya beranjak pulang.

 

***

 

Sekitar setengah jam setelah tiba di rumah, Nenek dan Aya menikmati makan malam mereka. Aya makan dengan lahap. Setelah makanan di piringnya hampir habis, dia menambah lagi untuk kedua kalinya. Aya menyendok semua makanan yang dihidangkan Nenek ke piringnya, nasi putih, sayur bening, tahu, tempe dan ikan goreng. 

 

Sudah dua kali Aya menambah makanannya, sedangkan makanan Nenek di piring masih belum habis-habis juga. Gigi nenek sudah tidak lengkap, jadi butuh waktu yang lebih lama untuk mengunyah makanannya dengan baik. 

 

“Makan yang banyak, Nak. Tidak usah terburu-buru, makanannya dikunyah pelan-pelan supaya tidak tersedak.” Pesan Nenek saat melihat Aya menyuap makanannya dengan sangat lahap.

 

Aya tidak pernah memilih- milih makanan, dia selalu lahap dan menghabiskan apa pun yang dimasak oleh Nenek. Bagi Aya, masakan Nenek adalah makanan terlezat yang ada di dunia ini. 

 

“Makanannya sangat enaaak, apa pun yang Nenek masak, Aya sanggung menghabisi semuanya.” Puji Aya setelah makanan di piringnya habis tak tersisa. 

 

Mendengar pujian Aya, Nenek tersenyum sumringah memamerkan gigi ompongnya. Nenek mengunyah makanannya sampai habis dengan perasaan bahagia. 

 

Setelah makan malam dan bersih-bersih. Nenek dan Aya bersiap untuk tidur, mereka menggelar tikar di kamar, melapisinya dengan sarung dan meletakkan bantal di atasnya.  Mereka berbaring dan mengobrol panjang lebar tentang apa pun sebelum tidur. 

 

“Nek, kayaknya enak ya tinggal di rumah dinding bata seperti rumah Alin.” Celetuk Aya.

 

“Pasti rasanya lebih hangat kalau malam dan tidur pun bisa lebih nyenyak.” Sambungnya.

“Meski tidak sebagus rumah Alin, rumah kita juga nyaman. Masih bisa ditempati untuk berteduh dari hujan dan panas.” Nenek menanggapi dengan bijak.

 

“Iya juga ya Nek.” Aya mengangguk, setuju dengan ucapan Nenek.

 

“Coba kamu pikirkan, orang-orang di luar sana yang tidak punya rumah. Pasti mereka sangat kesulitan mencari tempat berteduh dan tidak bisa istirahat dengan nyaman.”

 

Aya menyimak cerita-cerita Nenek, ia jadi lebih bersyukur dengan apa pun yang dimilikinya. Bagaimana pun kondisi mereka, tentu jauh lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang tidak punya rumah.

 

Tiba-tiba, Aya teringat dengan kunang-kunang yang mereka temui tadi.

 

“Kalau kunang-kunang tinggalnya dimana ya, Nek? Apa mereka juga punya rumah?” Tanya Aya penasaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cahaya Kunang-Kunang #1

 


Beberapa pasang kaki kecil melangkah dengan riang menyusuri pematang yang berada di antara bentangan padi hijau yang mulai menguning. Mereka terlihat sangat gembira. Berjalan berbaris dengan langkah cepat. Mereka berusaha menyeimbangkan tubuh dengan merentangkan kedua tangan sejajar bahu agar tidak terjatuh. Beberapa anak memegang gelas plastik dan jaring untuk menangkap belalang. Sesekali mereka berhenti, mengamati tingkah belalang yang melompat-lompat lincah di dahan padi yang tersapu semburat senja. 

 

“Berhasil! Dapat satu belalang.” Aya, Juwita Cahaya, berseru riang sambil melambaikan tangan kanannya yang menggenggam erat jaring. Teman-temannya mendekat, penasaran ingin melihat.

 

Belalang yang terperangkap berusaha mencari celah agar bisa bebas dari jaring. Melihat belalang yang bersusah-payah, gelak tawa mereka menggema, lalu sayup-sayup tenggelam dalam alunan merdu suara jangkrik, nyanyian tonggeret, kicauan burung, dan lantunan shalawat yang terdengar samar dari menara masjid. Suara khas di pedesaan menjelang senja, terdengar sangat damai dan menenangkan hati.

 

Sudah dua jam mereka bermain, tapi belum ada yang bergegas pulang. Mereka masih asyik saling mengejar dan berlomba menangkap belalang.

 

“Ayaaa, belalangnya lepaaaas.” Teriak Alina Kemala setelah menyadari gelas plastik di genggaman kecilnya sudah kosong, matanya menilik dahan-dahan padi di kiri kanannya, mencoba mencari belalalangnya yang lepas. 

 

“Ayoooo buruan cari lagi, Alin!” Ujar Aya sambil menoleh ke arah Alin. 

 

Beberapa detik kemudian, Aya mengangkat gelas plastik di tangannya sejajar dengan mata bulatnya, ia mengawasi dengan cermat, “syukurlah, masih ada.” Gumamnya setelah melihat dua ekor belalang tangkapannya masih bertengger manis di dalam gelas plastik. Lalu pandangannya kembali menyapu hamparan sawah yang luas. 

 

Teman-temannya yang lain sudah tidak terlihat, hanya tertinggal Juwita Cahaya dan Alina Kemala yang masih sibuk mencari belalang.

 

“Cepat lariiii Alin, yang lain sudah tidak ada!” Seru Aya saat menyadari teman-temannya yang lain sudah pulang. 

 

Dengan sigap Alin mempercepat langkahnya, tak peduli lagi dengan belalangnya yang sudah melarikan diri tanpa jejak.

 

Matahari di ufuk barat sudah hilang tertelan cakrawala, terbenam di antara hamparan sawah. Aya menengadahkan kepala, “langitnya sangat indaaaaah!” Aya berdecak kagum, terpukau dengan warna langit senja. 

 

“Waaaah warnanya cantik sekaliiiii.” Lontar Alin tak kalah takjub.

 

Langit senja di desa memang selalu memukau mata dan sangat menakjubkan, perpaduan warna jingga kebiruan dengan semu merah muda dan ungu terlihat sangat indah. 

 

“Ayaaaa cepat pulaaaang, sudah magriiiib. Banyak setan berkeliaraaan!” Nenek Aya berteriak dari ujung pematang sawah, suaranya terdengar agak serak. Dia berdiri membungkuk, tangan kanannya yang penuh keriput menggenggam erat tongkat kayu untuk menjaga keseimbangan, sedangkan tangan kirinya menenteng lampu minyak.

 

“Tunggu Neeek!” Aya menjawab dengan lantang.

 

Gadis kecil itu berlari lebih cepat, tanpa sadar kakinya memijak tanah yang licin, ia hampir saja terjerambab. Beruntung Alin berdiri tepat di belakangnya, sigap menangkap pergelangan tangannya sebelum ia merosot ke bawah. 

 

“Aduuuh hampir saja kakiku masuk ke lumpur.” Keluh Aya panik.

 

“Hati-hati kalau jalan, syukur kakimu tidak terkilir.” Tambah Alin. Dia sudah seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.

 

Nenek sudah menunggu mereka selama sepuluh menit, dari ekspresi wajahnya, jelas ia sangat cemas.

 

“Kalian ini, suka lupa waktu kalau bermain. Sudah nenek ingatkan, harus pulang ke rumah sebelum magrib.” Gerutu nenek setelah Aya dan Alin berada di dekatnya. 

 

“Maaf, Nek, kami terlalu asyik menangkap belalang.” Aya menjawab dengan nada suara yang terdengar kikuk. Sedangkan Alin hanya diam tak bergeming. Mereka tidak berani membantah karena sadar diri telah berbuat salah. Baru kali ini mereka melanggar pesan nenek karena keasyikan bermain sampai lupa waktu. 

 

“Lain kali, kalian tidak boleh seperti ini lagi.” Pinta Nenek khawatir.

 

“Baik Nek, kami tidak akan mengulanginya.” Tutur Aya dengan sangat menyesal.

 

Juwita Cahaya adalah anak yang ceria dan penurut, dia satu-satunya cucu Nenek, sedangkan Alina Kemala adalah teman bermainnya, mereka sudah seperti dua sejoli yang selalu bersama sejak lahir, hari ulang tahu mereka hanya selisih 2 hari.  Rumah mereka juga berdekatan, berjarak 10 meter dan diantarai dengan pohon mangga. Namun nasib mereka sedikit berbeda, sejak usia 3 bulan, Aya tinggal berdua dengan Nenek di rumah berdinding anyaman rotan dan beratap rumbia, sedangkan Alin tinggal berempat dengan kedua orang tua dan kakak laki-lakinya di rumah berdinding bata dan beratap seng.

 

Mereka pulang ke rumah, berjalan beriringan ditemani kemeriahan paduan suara jangkrik dan tonggeret. Alin di sebelah kiri nenek dan Aya di sebelah kanan. Sepanjang jalan menuju ke rumah, suasana di sekeliling terlihat temaram, satu-satunya sumber cahaya hanya dari lampu minyak yang dipegang nenek, sebab tidak ada rumah penduduk, hanya ada pohon kelapa, pohon pisang, pohon mangga, pohon jambu, pohon bambu dan beragam pohon lain yang entah apa namanya.

 

Aya mengedip-ngedipkan mata,  “Nek, apa itu yang menyala?” Jari mungilnya menunjuk ke arah cahaya yang berkelap-kelip di antara pepohonan, terbang mengitari udara yang mulai terasa dingin. 

 

“Apa itu lampu terbang?.” Celetuk Alin dengan polos.

 

Aya hanya terkekeh mendengarnya.

 

“Itu sejenis serangga, namanya kunang-kunang.” Nenek menjelaskan dengan suara memelan.

 

“Waaah kunang-kunang, cantik sekali!” Ungkap Aya dengan takjub, intonasi suaranya terdengar bahagia. 

 

“Aku baru tahu ada serangga yang membawa lampu.” Beber Alin heran.

 

Ini pertama kalinya mereka melihat kunang-kunang, serangga yang bisa menyala, memendarkan cahaya. 

 

“Dulu waktu Nenek seusia kalian, jumlah kunang-kunang jauh lebih banyak. Terlihat sangat indah saat mereka berterbangan di depan rumah setelah magrib.” Nenek mengenang masa kecilnya.

 

“Kata orang tua dulu, kunang-kunang itu kukunya orang meninggal.” Lanjut Nenek.

 

“Kukunya orang meninggal? Ih sereeem.” Aya bergidik ketakutan.

 

“Waktu pertama kali diberitahu seperti itu, Nenek percaya kalau itu kuku orang meninggal.” Nenek tertawa mengingat kepolosannya, “Setelah dewasa, Nenek baru tahu, ternyata itu hanya mitos.” Beber Nenek.

 

 

“Waaah kirain betulan kukunya orang meninggal. Ternyata hanya mitos.” Jelas Alin legah setelah mendengar cerita Nenek.

 

“Beruntung ya kita  masih bisa melihat kunang-kunang.” Terang Aya dengan senyum sumringah.