Pages

Senin, 16 Juni 2014

Dia-lo-gue: The reason for being single

Di tengah keasyikan mengoreksi tulisan, tiba-tiba salah seorang siswi kelas 4 SD menanyakan hal yang menurutku sangat tidak penting dalam sebuah forum kelas menulis seperti ini. Aku menyebutnya perbincangan out of the topic dengan pertanyaan ter-KEPO sejagat raya, "Kak, punyaki pacar?"


Aku mengambil jeda, lalu mengumpan balik dengan pertanyaan, "Menurut kamu?"


"Pasti punya toh kak?" Dia menjawab dengan suara sedikit memelan.


Sebelum sempat meresponnya, anak yang di hadapanku menimpali lebih dulu, "Hah? tidak mungkin! Pasti tidak ada toh kak?" Dia menanggapi dengan ekspresi heran dan nada suara yang lebih tinggi. Dia berusaha meyakinkan temannya bahwa percayalah pendapatmu salah.


Aku berusaha menahan tawa melihat mereka beradu pendapat tentang ada atau tidaknya pacarku. Mereka terlalu jauh memikirkan hal seperti ini. Ah, di masaku dulu, kami belum memusingi perihal 'pacaran', kami masih asyik dengan permainan lompat tali, bongkar pasang dan hal sejenisnya.


"Kenapa menurutmu tidak ada?" Aku lanjut bertanya. Aku betul-betul penasaran dengan alasan dibalik pernyataannya yang sangat tepat.


"Pasti kita' bukanki orang yang mau cari jodoh sembarangan..." Dia berhenti sejenak, mengamati ekspresiku dan memastikan aku setuju dengannya. Kemudian, dia melanjutkannya, "Pasti tidak mauki kalau bukan sama orang yang langsung datang melamar toh kak?" dia menjawab tegas dengan intonasi suara khas orang Makassar. Nada bicaranya berhasil meyakinkan teman-temannya yang ikut menyimak.


"Kalau begitu, nanti saya yang bawa erang-erangnya kalau menikahki kak." Anak yang tadi menganggapku memiliki pacar, dengan senyum lebar dia bergurau dan berakting menekuk lengannya, seolah-seolah sedang membawa sesuatu.


Aku tertawa lepas mendengar perbincangan polos anak-anak itu. Betul-betul mengherankan, darimana anak seumuran mereka memahami hal seperti ini?


Perihal yang satu ini, sebelumnya pun saya pernah mendapatkan pertanyaan yang sama. Hanya saja yang menanyakannya bukan lagi anak perempuan berumur 10 tahun yang 'bahasa ibunya' sama denganku, melainkan seorang lelaki 'asing' berumur 23 tahun. Diakhir perbincangan kami tentang Indonesia dan negerinya, tiba-tiba dia mempertanyakan hal yang sedikit mengejutkan, "Do you have a boyfriend?"


Aku memutar otak sebelum menanggapinya, harus memulai dari mana aku menjelaskan jawabanku.


"No, I don't have a boyfriend"


"Really? Don't you have a boyfriend?" Seperti yang kuduga, dia terkejut mendengar jawabanku.


"Yes, of course. I never wanted to have a boyfriend." Aku berusaha meyakinkannya.


"Why?" Dia masih heran dan tidak mengerti alasan dari jawabanku.


"Because I just wanna have one special man in my life and that's just the man who will be my husband." Aku menyederhanakan alasanku.


"Oh, that's good. But every man and woman that I have known in Makassar, most of them have couple. They have girlfriend or boyfriend." Dia mulai mengerti, tapi dia tidak memahami alasan yang lebih tepat.


Lagi-lagi ini menyangkut prinsip dan nilai 'kepercayaan' yang mengakar batin. Ini sedikit rumit untuk menjelaskannya secara detail kepada seseorang yang notabene belum memahami landasan dasar kenapa aku memutuskan memilih tidak memiliki pasangan spesial (pacar) selain seseorang yang menjadi suamiku. Ini soal keyakinan dan harga diri. 

Aku mulai memikirkan alasan sederhana yang bisa membuatnya paham dan tidak seheran ini. Betapa pandangan mengenai nilai dan prinsip betul-betul berbeda antara kita di Timur dengan mereka yang di Barat. Pertanyaan boleh sama, namun saat kau menjawab 'ya' untuk orang yang memahami nilai dan prinsipmu tetap saja akan sama mengherankannya saat kau menjawab 'tidak' untuk orang yang memiliki nilai dan pemahaman yang berbeda.
 

~Menjadi single itu pilihan. Pilihan cerdas untuk orang yang tahu cara menjaga dirinya dan menghargai orang yang kelak menjadi pasangannya.~
READ MORE - Dia-lo-gue: The reason for being single