Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Kita Saling Melengkapi

Gambar
Aku, kamu, atau siapa pun. Kita tidak pernah tahu pasti saling apa yang akan menautkan perasaan kita?
Apakah saling mengagumi? Saling mempercayai? Atau bahkan saling mencurigai?
Kita betul-betul tidak bisa memastikannya dengan tepat.
Satu hal yang akan kupastikan: pada akhirnya, kita saling melengkapi.
Seperti tautan simpul temali yang terikat pada ujung-ujung ayunan di sisi kiri dan kanan. Saling melengkapi. Yang menjadikannya selalu berayun beriringan dengan seimbang, meski berada pada dua sisi yang berbeda.

Cinta itu Takdir

Gambar
Seperti takdir, cinta selalu penuh kejutan...
Mungkin kita perlu belajar mengalah dengan perasaan kita sendiri. Menerima skenarioNya dengan bahagia meski terkadang tak sesuai yang kita harapkan. Bukankah menerima cinta yang dipilihkanNya dengan ikhlas adalah kesyukuran paling indah?
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu.."(QS Al Baqarah:216)
Terkadang cinta memang semenjengkelkan ini. Tapi semoga saja pilihan kita tidak melukai siapa pun. Kelak kita akan terbiasa, sebab di sini, cinta akan terus hidup untuk mengagungkan namaNya. 
Allah 'Azza Wa Jalla berfirman, "Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan para Syuhada" (HR At-Tirmidzi dari Muadz Ibn Jabal)
Penerimaan yang ikhlas tak hanya sebatas membuka hati pada yang kau sukai tapi juga menundukkan hati pada yang tak kau sukai. Selamat menerima takdir! Semoga Allah menguatkan kita.
Maha besar Allah dengan segala t…

Disakiti Prasangka

Gambar
Apa pernah kau melihat pada mata lelaki yang berani melirikmu diam-diam? Lalu ia tertunduk malu, membuang wajahnya pada balas tatapmu yang sinis. Ia nelangsa menyimpan kecewa di benaknya, "Aku mencintai gadis yang pada matanya pun aku tidak berarti sama sekali, apalagi di hatinya?" Tidakkah ia tahu, gadis yang menatapnya sinis pun terlampau kalut, sebab mata elang yang dikaguminya telah menikam hatinya dalam-dalam. Ah, prasangka selalu bisa menyakiti  seperti ini.

Menjaga Diri dan Menepati Janji

Gambar
"Saya membaca buku 'Agar Bidadari Cemburu Padamu'... tiba-tiba saya kok ingat dua orang teman." Pesan ini kukirim via line ke salah seorang teman yang teringat.
"Kenapa, Nurul?" Balasan singkat masuk setelah dua jam berlalu.
"Saya ingat kamu dan fulan saat membaca kutipan ini:  Berkomitmen untuk tidak berpacaran." Dia mulai paham ke mana arah pembicaraan ini.
"Lucu saja, kalian sama-sama temanku. Saya tahu ilmunya bagaimana seharusnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Tapi tetaaaaaap saja saya susah untuk hadapi kenyataan. Saya tidak berani mengomentari sikapnya kalian dari dulu". Saya menyesal membalasnya seperti ini, tapi ini membuatku lebih legah. Pasalnya saya selalu merasa bersalah karena menjadi teman yang pengecut. 
"Iya, saya akui dari awal kita berdua salah. Kita sama-sama berusaha hentikan, tapi perlu proses untuk sampai ke situ." Dengan besar hati, dia merespon teror beruntunku dengan penyesalan yang sangat besar. 
Te…