Pages

Selasa, 08 Juli 2014

Menjaga Diri dan Menepati Janji

"Saya membaca buku 'Agar Bidadari Cemburu Padamu'... tiba-tiba saya kok ingat dua orang teman." Pesan ini kukirim via line ke salah seorang teman yang teringat.

"Kenapa, Nurul?" Balasan singkat masuk setelah dua jam berlalu.

"Saya ingat kamu dan fulan saat membaca kutipan ini:  Berkomitmen untuk tidak berpacaran."
Dia mulai paham ke mana arah pembicaraan ini.

"Lucu saja, kalian sama-sama temanku. Saya tahu ilmunya bagaimana seharusnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Tapi tetaaaaaap saja saya susah untuk hadapi kenyataan. Saya tidak berani mengomentari sikapnya kalian dari dulu". Saya menyesal membalasnya seperti ini, tapi ini membuatku lebih legah. Pasalnya saya selalu merasa bersalah karena menjadi teman yang pengecut. 

"Iya, saya akui dari awal kita berdua salah. Kita sama-sama berusaha hentikan, tapi perlu proses untuk sampai ke situ." Dengan besar hati, dia merespon teror beruntunku dengan penyesalan yang sangat besar. 

Terimakasih masih mau menyikapiku dengan baik. Semoga kita bisa tegas dan komitmen untuk menepati janji.

Hal ini selalu membuatku teringat tentang percakapan-percakapan kita dulu tentang pacaran dan perilaku menjerumuskan yang sangat dikhawatirkan akan merusak perempuan lemah seperti kita. Apa kau juga masih mengingatnya?

Mungkin aku perlu mengingatkannya...

Waktu itu, pagi hari di tengah barisan anak-anak ingusan berseragam putih biru, seorang teman membisikiku tentang nasihat ayahnya, "perempuan tidak boleh sembarang salaman/bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ini ada haditsnya." katamu dengan sangat serius.

Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas, lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR.Thabrani, dalam Mu’jamul Kabir)

Sejak saat itu, kita takut menyentuh dan menyalami teman laki-laki yang bukan mahram. 

Di lain waktu, pembahasan kita masih sama, tentang interaksi dengan lawan jenis. Kali ini, kau membocorkan tentang pesan ibumu. "Perempuan itu seperti telur yang sangat rapuh, sekali pecah, ia tidak akan pernah bisa kembali utuh seperti sebelumnya. Makanya, kita harus bisa menjaga diri, jangan mau dirusak sama laki-laki tidak baik yang mengajak pacaran."

Sejak saat itu, kita berjanji tidak akan pernah mau pacaran, apa pun yang terjadi.

Lalu, menjelang Ujian Nasional SMP. Saat asyik mengerjakan soal–soal prediksi,  tiba-tiba pembicaraan kita beralih ke soal perasaan yang lagi ngetrend di kalangan ABG seperti kita. "Kau mau tahu cara mengendalikan perasaanmu saat menyukai seseorang? Intinya supaya kita tidak terjerumus dalam pacaran". Dengan sangat bersemangat kamu mengulang pesan dari buku yang kau pegang.

"Bagaimana caranya?" Aku berhenti mengerjakan soal matematika dan mengalihkan fokusku, siap menyimak jawaban pamungkasmu.

"Kau tahu kan, kenapa kita bisa menyukai seseorang? Pasti karena kebaikannya kan? Nah, kita selalu punya kebaikan dan keburukan. Untuk mengendalikan perasaanmu, kau tidak boleh mengingat terus hal baik yang membuatmu menyukainya, tapi sesekali ingatlah keburukannya. Setidaknya itu akan membuatmu lebih rasional."

"Apabila kamu kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!" (Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu)

Sejak saat itu, kita berkomitmen mengendalikan hati agar tidak mudah jatuh cinta dengan siapa pun. 

Terimakasih telah menjadi orang pertama yang mengingatkanku tentang ini.
Terimakasih telah menjadi orang pertama yang meracuniku dengan pesan-pesan ini.
Terimakasih telah menjadi orang pertama yang membuatku menjadi 'orang asing', memilih bersikap beda dari teman-teman yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa komentarmu? Silakan menuliskannya ^^ ...