Pages

Sabtu, 28 September 2013

When Love Break Us

Tangan kanannya menggenggam tanganku sedang tangan kirinya menyeka air disudut matanya. Kami berjalan pelan-pelan melewati jalan setapak yang masih digenangi air, sisa hujan tadi sore.
"Berikan waktu pada hatimu untuk memahami sakit" aku berbisik lirih padanya. Aku mencerna kata-kata yang lebih pantas kusimpan untuk diriku sendiri.
Dia hanya bergumam. Tangannya masih sibuk menyeka air mata.
Aku tahu bagaimana perasaannya. Patah hati setelah dia memutuskan -tepatnya aku memaksanya memutuskan- pacarnya.
"Berhentilah menangis. Itu akan membuatmu lebih sakit! Lelaki tampan tidak pantas semenderita ini hanya karena cinta!" Suaraku bergetar. Aku tidak pernah melihatnya serapuh ini.
"Maaf kak, aku mengecewakanmu. Aku tidak bisa menjaga diriku. Aku kalah dengan perasaanku" dia terbata menahan tangis. Ada penyesalan dalam suaranya.
Aku menghentikan langkahku. Aku menoleh, memperhatikannya. Dia jauh lebih tegar dari yang kubayangkan. Dia belajar lebih baik dariku, bahkan dia jauh lebih dewasa dari umurnya. Dia bertumbuh sangat cepat. Bagaimana bisa selama ini aku tidak menyadarinya?
"Tidak usah menyalahkan diri sendiri. Belajarlah berdamai dengan hatimu" mataku mulai berkaca-kaca.
Tangannya menggenggamku lebih erat. Setegar apa pun ia di depanku, tetap saja matanya tak bisa menutupi luka.
"Allah sebaik-baiknya penjaga. Maha membolak-balikkan hati. Berdo'alah, minta Allah menjagakan hati kalian. Toh kalau jodoh pasti kembali, tidak mungkin hilang. Tidak usah mencoba-coba. Kalian masih terlalu dini untuk bertindak seperti ini. Kalian hanya saling merusak melalui pacaran. Biar bagaimana pun, bahagia tidak pernah abadi jika kita tidak patuh pada aturan Allah" air mataku tumpah.
Seharusnya aku bisa menjagamu lebih baik dari ini. Aku bodoh membiarkanmu merasakan sakit yang pernah kualami, sama seperti ini. Keluhku dalam hati.

Untuk adikku, lelaki yang menilaiku 'bukan perempuan' dimatanya. Belajarlah menghargai cintamu.
READ MORE - When Love Break Us