Puisi dari Tuan Pemurung

Hai Tuan Pemurung, aku masih menyimpan kertas-kertas puisimu. Aku masih suka membacanya. Aku ingat saat pertama kali kau mengajakku bicara dan memberikan puisi-puisimu. Waktu itu, aku meneriakimu pemurung di depan teman-teman sekelas karena tidak suka melihat sikapmu yang sangat pemurung. Dan kau sama sekali tidak meresponku, tetap diam dan bersikap dingin. Lalu, 'tak lama setelahnya kau mendatangiku dengan mimik yang lebih bersahabat. "Kau suka puisi 'kan? Ini, Bacalah!" Katamu sambil menyodorkan kertas-kertas ke tanganku, kumpulan puisimu. Sejak saat itu, aku lebih suka memanggilmu Tuan Puisi.

Teruntuk perempuan keras kepala:
Dari matamu, ada amarah yang menyala-nyala
Apa sebenci itu kau melihatku?
Tapi, 'tak ada peduliku dengan kebencianmu.
Pada matamu, tetap saja aku suka.

Komentar

Posting Komentar

Apa komentarmu? Silakan menuliskannya ^^ ...

Postingan populer dari blog ini

Membincangkan Kehidupan di Pulau Miangas

Bayangan Semu

Surat Kaleng