Pages

Selasa, 27 September 2011

Gubuk dalam Istana

       
   Selepas perkuliahan aku bergegas memburu langkah. Makassarku masih sepanas yang lalu. Teriknya membuatku sangat tidak betah berdiam diri di tempat tak teduh. Alih-alih berdiam diri, melintasinya saja sudah membuat keningku sedikit berkerut. Langkahku semakin cepat saat pendanganku menangkap mobil plat kuning yang berhenti mulus sekitar 20 meter di depanku.
 
    Di tengah hiruk pikuk kepadatan lalu lintas, refleks kepalaku menggeleng miris melihat aksi nekat para "pengulur tangan" yang rela menentang matahari demi koin-koin penyambung hidup. Merasa  tidak tega melihat lansia berpakaian lusuh dengan pikulan karung  yang mengais rezeki di tumpukan sampah pinggir jalan. Merasa ibah melihat bocah seumuran 8 tahun memikul barang dagangannya dengan susah payah, bahkan sesekali ia terseok sambil menyekah keringat di keningnya.

   Sangat miris menyaksikan perjuangan pahit mereka melawan kemiskinan. Hidup mereka bagai pemandangan gubuk dalam istana.

  Astaghfirullah, sungguh kekeliruan yang fatal bila menilai mereka tidak pantas, mungkin saja kita yang lebih pantas di mata manusia ini terlihat jauh lebih kumuh dihadapan Sang pemilik semesta.
Mari sejenak menengok potret hidup mereka yang masih tak seberuntung kita.

Semoga ini menjadi nilai berharga yang dapat membangunkan kita dari keluhan dan pemikiran negatif sejenisnya.

Bersyukurlah untuk nikmat terindah yang kita rengkuh. Berikan senyuman terindahmu untuk harimu meskipun itu sangat melelahkan


4 komentar:

Apa komentarmu? Silakan menuliskannya ^^ ...