Pages

Senin, 14 Desember 2009

Maaf, Ini Rahasia

   
Aku berjalan menelusuri koridor sekolah baruku sambil celingak-celinguk memperhatikan papan nama tiap ruangan yang kulalui. Setelah lama berkeliling akhirnya aku menemukan kelas yang ditujukan untukku. Kelas XII IPA 4. Aku tak langsung masuk, sejenak aku terdiam di depan kelas. Aku mengatur napasku dan  berusaha menenangkan pikiran untuk menghilangkan rasa gugupku.
Suasana di kelas itu sangatlah gaduh. Tampaknya mereka keasyikan  menertawakan aksi konyol salah satu siswa yang sedang beraksi di depan kelas. Pikirku itu sejenis orasi. Sejenak siswa sempat terdiam. Selang beberapa saat kemudian, mereka serentak tertawa, terdengar beberapa siswa meneriakkan celetukan jail yang diiringi dengan hentakan pukulan keras ke meja belajar sehingga terciptalah kegaduhan yang memekakkan telinga.    
Setelah suasana menjadi sedikit tenang, kuberanikan diriku untuk mengetuk pintu kelas yang sama sekali tidak tertutup. “tok.. tok.. tok.. , permisi!!!” kurasa aksiku itu sudah cukup untuk membuat perhatian seluruh penghuni kelas tertuju kepadaku.
Silakan masuk!!!”  Jawab seorang guru yang sedang mengajar di kelas itu sambil berjalan ke arahku. Ia memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan penuh tanya.
Pa..pagi Bu!!!” ku jawab tatapannya dengan sapaan yang terdengar canggung.
Ia menanggapi sapaanku dengan mengangguk-anggukan kepalanya sambil memperbaiki letak kacamata yang dipakainya. “Hmm.. pagi. Kamu murid pindahan dari Bogor ,bukan?!”..
Oh.. iya Bu, betul!” jawabku lebih ramah.
Silakan masuk dan perkenalkan dirimu!!” ia berbalik dan berjalan menuju mejanya. Aku mengikutinya dari belakang dengan langkah cuek. Dalam keheningan terdengar bisikan-bisikan beberapa siswa yang memberi komentar tentang diriku sehingga suasana kelas menjadi sedikit riuh.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!!!” ucapan salamku membuat semua pandangan tertuju ke arahku.
Setelah aku selesai, semuanya serentak menjawab salamku, “wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!!!
Perkenalkan nama saya Kinan Faizah , saya biasa disapa Kinan. Saya berasal dari SMA 17 Bogor. Saya pindah ke sini karena ikut orangtua yang dipindahtugaskan.
Setelah memperkenalkan diri aku mengarahkan pandangan ke arah Ibu guru yang berdiri pada jarak tiga meter dariku. Aku memberi anggukan kepadanya sebagai tanda bahwa cukup itu saja perkenalan awal dariku.
Kurasa ia mengerti akan maksudku. Ia langsung mengambil alih perhatian. “Kinan, kamu bisa duduk di samping Dafi.”  tawarannya kepadaku.    
Aku hanya memberikan respon berupa anggukan sebagai simbol persetujuanku. Tapi, itu hanya di luar saja sebab hatiku tak bisa menerima tawaran itu sepenuhnya. Suka atau tidak, aku harus menerimanya karena tidak ada pilihan untuk menolak, sebab hanya itulah satu-satunya tempat yang kosong di ruangan itu.
Hai… Kinan!!!”. Sapa Dafi.
Hai!!!” jawabku dengan jutek. “Kenapa sih aku sekelas sama kamu dan harus duduk bersebelahan denganmu!!!” umpatku dalam hati.
Dafi, tetangga baruku. Orang yang pernah menyelipkan harapan indah dalam anganku. Pernah menggoreskan kisah pilu di masa laluku. Sampai akhir hayatku aku tak akan pernah bisa melupakan jasanya.

***
Pada hari itu…
Aku berada di puncak bersama tujuh teman-temanku. Kami berlibur di sana selama dua minggu. Malam keempat kami di sana, seorang teman  mengajakku ke taman. Tempat yang sangat indah. Pemandangan malam di taman itu sangat menakjubkan. Langit kelam yang berhiaskan bulan dan bintang-bintang tampak jauh lebih memikat.
Dalam keheningan malam, kami berdua duduk bersebelahan di bangku taman dengan jarak yang cukup jauh. Saling membisu, asyik dengan angan masing-masing. Setelah lama terdiam, dia angkat bicara, “Ki, sudah berapa banyak orang yang menyatakan cinta padamu?” tanyanya padaku seperti ingin menginterogasiku. Pertanyaannya sungguh mengagetkanku. Aku menghela napas sebelum menjawab. “Sudah lumayan banyak. Aku tak tahu berapa jumlah pastinya. Hmm, mungkin sekitar 20 orang.” Jawabku mantap.
Aku sudah menduga. Yah… itu hal wajar bagi seseorang yang sangat sempurna sepertimu”. Jawabnya sambil melirik ke arahku. “Memang sih, sudah banyak yang menyatakan namun tak satu pun kuterima.” Tambahku. “Kenapa bisa?” tanggapnya dengan nada heran. “ya.. karena aku tak ingin berpacaran.” Jawabku datar. Ia hanya memberi respon berupa anggukan.

Suasana hening sejenak. Lalu ia kembali melontarkan pertanyaan,“Bagaimana jika aku yang menyatakannya kepadamu?!” ia diam sejenak untuk memberiku kesempatan menjawab . 

Tentu jawabannya sama seperti sebelum-sebelumnya!!!” jawabku tanpa ragu sedikit pun. 

Aku tak kecewa dengan jawabanmu. Tapi, kau kan jadi yang pertama dan terakhir bagiku… semoga!!!” balasnya dengan nada suara yang tegas. 

Dia seperti mengekangku, aku tak suka dia berkata seperti itu. “Itu sih terserah kamu!!! Tapi, aku tak bisa menjamin!!! ”. Balasku ketus. 

Maaf jika perkataanku terdengar memaksakan kehendak. Tapi, itu aku nyatakan bukan berarti aku ingin mengekangmu. Bagiku kau bisa memilih. Tak mesti bersamaku.Ia berusaha menanggapi dengan tenang.

Jujur aku memang suka dengannya. Tapi aku tak bisa mencintai seseorang yang belum jadi milikku secara resmi. Aku tak ingin membiarkan hatiku terbuai dengan keindahan fatamorgana yang semu. Cintaku hanyalah untuk seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku kelak.

Ki, hati-hati… Jangan sembarang menghayal!!!” tegurnya padaku. “Siapa juga yang menghayal sembarangan!?” elakku dengan nada kaget. 

Oh.. maaf kalau aku sembaramg menuduhmu.” Ia menanggapi dengan nada bersalah.

Berlama-lamaan di sini nggak enak juga yah! Suhu udaranya sangat dingin. Bagaimana kalau kita kembali ke penginapan masing-masing? ” tawarnya padaku. Aku hanya memberi tanggapan berupa anggukan.
Dalam perjalanan pulang kami sama sekali tak bicara. Sungguh pernyataannya hampir saja menggoyahkan tekadku untuk tidak berpacaran. Tapi aku tak mau harga diriku jatuh. Aku tak ingin menjadi orang yang munafik.
  Sejak saat itu, ia terus berusaha meyakinkanku akan perasaannya kepadaku. Tapi tetap saja aku tak goyah sama sekali. Namun penolakanku tak membuatnya patah arang, bahkan ia semakin bertekad kuat untuk meluluhkan hatiku. Dan hal yang tak bisa kupungkiri hingga saat ini ialah ia telah berhasil meluluhlantahkan hatiku. Tapi, yang ia tahu cintanya padaku bertepuk sebelah tangan.
Seiring dengan bergulirnya waktu, pikiranku semakin terbuai olehnya. Dan semakin keras usahaku melenyapkannya dari anganku, semakin kuat pula kendalinya dalam menghantui hati dan pikiranku. Aku tak bisa melupakannya dengan mudah. Itulah kenyataan yang harus kuterima.
Sebelum meninggalkan puncak, kami sepakat untuk bertemu di taman. Aku tiba di taman itu sekitar pukul 10 pagi, sesuai dengan waktu yang kami sepakati.  Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa sudah 5 jam aku berada di taman itu. Bodohnya lagi aku tetap mau menunggunya tanpa ada kepastian. Yang kutahu, rasa rindulah yang membuatku tetap sabar menunggu.  Kebetulan hari itu hujan, aku hanya bisa duduk termenung di gazebo yang berada di tengah taman. Menikmati pemandangan taman sembari berusaha mempertahankan agar signal HPku tetap ada. Aku berharap akan ada pesan atau telepon darinya. Aku tak bisa menghubunginya, sebab HP yang kupegang pulsanya habis. Menunggu selama itu tentulah aku merasa sangat bosan dan jenuh. Tapi aku tetap setia menunggunya, meskipun kemurnian dari perasaan rindu yang teramat dalam di hatiku tinggal 1 %. 99% sisanya dipenuhi dengan rasa campur aduk.
Aku menunggu, menunggu, dan menunggu. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau dia tidak akan mengingkari janjinya. Aku menunggu lebih lama, mengira-ngira kalau dia sudah berada pada jarak yang tidak jauh. Aku terus menunggu. Setengah jam pun berlalu. Adzan magrib terdengar. Jalan sudah tidak hujan lagi. Aku berniat untuk sholat terlebih dahulu. Aku menuju ke arah masjid yang letaknya tak jauh dari taman.
Handphoneku berdering. Tanpa menunggu terlalu lama, akhirnya aku mengangkat telepon tersebut, berharap dia bisa bertemu dan menghabiskan waktu lebih lama denganku. Aku pun seolah melupakan apa yang telah kualami sejak pagi tadi. Namun, pernyataannya  membuatku seolah tidak percaya dengan apa yang telah kualami. Aku tak percaya dia tega membuat usahaku sia-sia begitu saja. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Cukup kesunyian malam saja yang  menjadi saksi bisu akan pengkhianatan yang kuterima.
Aku terbangun, perasaanku kacau balau. Dadaku sesak. Air mata terus mengalir dari sudut mataku. Lagi-lagi kejadian 3 tahun silam kembali menghantui diriku, merasuki alam impianku. Aku sungguh kecewa dengannya. Dia yang pernah menyelipkan harapan indah dalam anganku dan lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Namun, kini dia kembali datang mengisi hari-hariku. 

***

Aku terdiam dalam kegelapan
Termenung dalam kesunyian malam
Tertunduk dalam rengkuhan sengsara
Pikiran dan hatiku mencoba tuk renungi nasib diri yang telah tertakdirkan
Pandanganku  tetap terarah ke satu-satunya sumber cahaya yang kekal di malam itu
Tanpa sengaja mataku terpaku akan wujud itu
Anehnya, ada getar dalam hati yang kembali mengguncangkan kerinduan yang terpendam
Namun, bibir ini tak mampu menafsirkannya dalam sebuah kata
Respon yang kudapat hanyalah linangan air mata yang perlahan mengalir dari sudut mataku
Pikiranku terus meronta-ronta, tak mampu memahami yang telah di rasakan sang hati

Hari-hari begitu cepat berlalu. Tak bisa kupungkiri bahwa semua yang telah terjadi kepadaku bukanlah salah Dafi sepenuhnya. Inilah takdir hidup untukku. Aku sungguh tak adil jika tetap menyalahkannya akan kejadian tempo hari. Kini, aku bisa menerima semuanya dengan lapang. Aku sudah bisa memberikan kesempatan kepada hatiku untuk memaafkan Dafi.
Kini sikapku terhadap Dafi tidak lagi secuek dan sejutek yang sebelumnya. Aku kembali menjadi Kinan yang dulu ia kenal. Sosok teman yang selalu bersedia membantunya dalam menyelesaikan problematika hidupnya. Kami memang selalu bersama. Disetiap ada waktu luang, kami selalu menyempatkan untuk menceritakan masalah masing-masing. Kami tidak pernah bosan dengan semua itu. Rumah dan tempat duduk di sekolah yang bersebelahanlah yang  membuat kami semakin akrab dan lebih terbuka satu sama lain.
Hari yang kulalui tentu tidak sebaik yang kuharapkan dan juga tidak seburuk yang dibayangkan. Ya.. relatiflah. Baik buruknya seimbang.  Kurasa itu hal yang wajar. Hidup memang kadang pahit dan kadang manis. Begitu pula dengan permasalahan aku dan Dafi. Memang sih, tak bisa dipungkiri kami masih sering bertengkar jika kejadian 3 tahun yang lalu kembali terungkit. Tapi, aku berusaha melupakan semua hal yang berkaitan tentang kejadian itu. Perlahan semua kenangan buruk mulai tergantikan dengan lembaran yang jauh lebih baik.

***

" Kiinaaan,, Kiiinaaaan!!!! " Teriak Dafi tepat di telinga Kinan sambil berusaha mengguncang-guncangkan tubuh kinan yang masih terlelap.
Kinan tersentak kaget. Ia  beranjak dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa. Tubuhnya masih labil dan ia hampir saja menabrak kursi yang bertengger manis di seberang tempat tidurnya. Raut wajahnya tampak emosi.

Daaafiiii!!! Kenapa sih kamu harus membangunkanku dengan cara sekasar itu!! Mimpi indahku kan jadi berakhir buruk hanya karena suara cemprengmu itu!!! .”

Maaf  Ki… aku nggak bermaksud seperti itu.” Dafi membela diri dengan wajah memelas.  

Trus, Ngapain coba kamu masuk ke kamarku tanpa seizinku??!” bentak kinan.

Gimana caranya minta izin kalau kamu tidurnya kayak orang mati, lagian aku kan sudah mengetuk-ngetuk pintu kamarmu!!!”Balas Dafi tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Tapi kamu kan bisa nungguin sampai aku bangun!!!” balas Kinan dengan nada kasar.

Sorry!! Sorry!! Aku punya masalah penting, aku sangat  perlu bantuanmu dan ini nggak bisa ditunda lagi!!!.” Balas Dafi dengan ekspresi memohon.

Oh.. masalah  apa sih?” Kinan menanggapi dengan nada cuek dan ekspresi jutek. Tanpa basa-basi ia segera menuju ke kamar mandi, siap dengan handuk serta peralatan mandinya. Sebelum ia betul-betul lenyap dari pandangan Dafi, ia berbalik, “Tunggu saja di Luar!!! Aku akan membantumu setelah pikiranku kembali normal.” 

Tanpa sempat memberi respon, Kinan sudah mendobrak pintu kamar mandi. Dafi hanya cengengesan  melihat tingkah kinan. Lalu tanpa basa-basi ia segera membalikkan badan dan meninggalkan kamar Kinan.

Daafiiii!!!” teriak Kinan sambil menuruni tangga. 

Heii!! tumben mandinya cepat!!!” Dafi yang sedari tadi menunggu sambil mondar-mandir di ruang tamu yang berada tepat di bawah tangga menyahut dengan sigap.

Masalah apa lagi sih yang mau dibahas?” Tanya Kinan sebagai tanda dimulainya sesi problem solving

Permasalahan yang memegang kendali besar untuk masa depanku”. Jawab Dafi dengan nada yang mendramatisir.

 “Huek!!! Kamu sangat berlebihan. Memangnya tentang apa?” tanggap Kinan sambil cekikikan. 

Bingung nih Ki, sampai sekarang saya masih gak tahu mau lanjut kuliah dimana.”. Jawab Dafi datar.

Huahahaha… kirain masalah apaan. Gitu aja kok bingung!? Pilih aja yang sesuai dengan bakat dan keinginan hatimu.

Ki, kamu masih betah 'kan sahabatan sama aku?" tanya Dafi mengalihkan perbincangan.

Kamu kok jadi mempertanyakan hal sebodoh itu sih?" balas kinan sambil cengengesan.

Nggak kok, aku cuma takut kamu berubah" Dafi menanggapi lebih santai.

Kinan hanya diam, ia tampak memikirkan sesuatu.

 well, pas kuliah kita masih bisa sama-sama 'kan? Tetap sahabatan seperti ini?" sambung Dafi. 

 Ngomong apaan sih, kamu kok jadi cengeng gitu! Kita tetap sahabatan, kapanpun itu" Kinan menjawab lebih serius.

Mereka tampak asyik dalam perbincangan tersebut. Saking asyiknya mereka sampai lupa bahwa hari sudah menjelang malam. Mereka berdua memang selalu saja seperti itu. Setiap ketemu pasti tidak pernah kehabisan bahan cerita. 

***

Waktu bergulir begitu cepat, rasanya baru kemarin aku menjalani masa-masa SMAku. Tapi aku harus menerima kenyataan bahwa inilah malam terakhir bagiku berada di tempat ini. Di rumah yang penuh kegembiraan. Aku sedih karena aku harus berpisah dari orang-orang yang aku cintai, tapi aku gembira karena aku bisa mewujudkan impianku untuk bersekolah di universitas yang kudambakan selama ini.
Sudah hampir satu jam aku berbaring di atas tempat tidurku. Namun, mataku tetap saja tidak bisa terpejam. Pikiranku sungguh kacau, kepalaku juga sangat pusing. Kepergianku besok sama sekali belum diketahui oleh Dafi. Aku sengaja tak memberitahukannya. Meski hatiku tak tega memperlakukannya seperti itu, namun ada sisi lain dalam diriku yang sangat tidak mengharapkan dirinya tahu akan kepergianku. Aku takut dia semakin terluka karena keputusan yang telah kutetapkan. Tapi, aku betul-betul tidak bisa mengungkapkan alasannya saat ini.
Esok paginya, aku berangkat ke bandara seorang diri di saat hari masih gelap. Ya tentu saja, karena aku mengambil penerbangan pertama dan jarak rumahku dari bandara tidaklah dekat. Aku tiba di bandara sekitar pukul 06.45. Masih ada waktu satu jam sebelum pesawat yang kutumpangi  lepas landas. Pikiranku sungguh tak tenang. Aku mondar-mandir di ruang tunggu seperti anak yang kehilangan orang tua. Huft.. pemberitahuan akan berangkatnya pesawat yang akan kutumpangi semakin membuatku tidak tenang. Aku pasrah, tak ada lagi waktu untuk bertemu dengan Dafi dan bahkan tidak untuk selamanya. Lagi-lagi timbul penyesalan dalam hati akan apa yang kuderita selama ini. Penyakit akut yang mungkin akan mengantarku ke gerbang kematian dalam jangka waktu yang tidak lama lagi. Aku berjalan meninggalkan ruang tunggu dengan langkah yang gontai.

Kiiinaaaan!!!!” seseorang berteriak memanggilku. Aku mengenal suara itu, aku yakin dia betul-betul Dafi. Tapi aku tak ingin berbalik melihatnya. Aku hanya terdiam terpaku di tempatku berpijak. Dia semakin dekat, jarak kami mungkin tak lebih dari dua meter lagi. Dia menarik lenganku sehingga kami berada dalam posisi yang saling berhadapan.

Ki... kamu yakin akan melanjutkan studimu di luar negeri?! kamu betul-betul akan pergi meninggalkanku?” dia berbicara dengan nada kecewa.

Aku yakin! Tekadku sudah bulat!!! Keputusanku sudah tidak bisa digoyahkan lagi!” aku menjawab dengan tegas tapi pandanganku tetap terarah ke tempat kaki sekarang berpijak.

Lalu, mengapa kamu tidak mengatakan dari awal kalau kamu harus pergi hari ini?

Nggak ada gunanya kamu tahu aku harus pergi hari ini!!!” aku membentakkanya.

Kamu tega yah!!! Bagaimana bisa kamu berpikiran bahwa semua ini sangatlah tidak berguna untukku? Asal kamu tahu saja, Aku betul-betul tidak rela melepaskanmu begitu saja!!!” Suaranya terdengar ketir. 

Dan aku lebih tidak rela lagi kamu berada di sampingku!!! ” aku menjawab dengan lantang.

Kau betul-betul mengecewakanku!!! Aku ingin kau memberikanku penjelasan yang dapat membuatku menerima keputusanmu!!!

Aku tak perlu memberikan penjelasan untukmu!!! Biarlah waktu yang menjawab semua ini!!!

Kamu ini kenapa sih? Memangnya kamu nggak pernah sadar? Apakah pernyataanku dan perhatianku yang selama ini kutujukan padamu masih belum cukup untuk membuktikan kalau aku sayang sama kamu???

Aku sadar!! Dan aku sudah menyadarinya sebelum kamu menyatakannya!!! Dan justru cintamu itulah yang kumanfaatkan untuk menyakitimu!! Aku tak bisa menerima cintamu!! Aku membencimu!! Sangat-sangat membencimu!! Semua perhatianku selama ini hanya kepalsuan semata!! Apakah ini sudah cukup jelas untukmu?! ” Aku sungguh lepas kendali. Aku tak percaya dengan apa yang kukatakan.

Dafi diam terpaku. Ia tak mampu menanggapi lagi perkataanku.

Kuharap pengakuan palsuku itu bisa membantumu tuk melepaskanku.” Bisikku dalam hati

Aku tak sanggup menatap wajahnya. Aku sudah tak berani menatap sorot matanya. Tatapannya tajam menusuk hatiku. Aku berbalik arah, berusaha menyembunyikan kesedihanku darinya. Air mataku perlahan mengalir dari sudut mataku. Aku berjalan terus tanpa ingin berbalik melihat ke arahnya. Aku tak ingin ia melihat kesedihanku. Aku ingin ia beranggapan bahwa aku bahagia karena perpisahan ini. Itulah pertemuan terakhirku dengannya. Pertemuan terakhir yang kuharap bisa menyelipkan kebencian di hatinya.

Sikapku yang seperti dulu..
Mungkin hanya bisa berlaku jika kau bertemu denganku di alam impian
Karena semua telah berubah
Aku yang kau kenal dulu jauh berbeda dengan aku yang sekarang
Dulu kita memang sangatlah dekat
Tapi, sekarang aku telah memutuskan untuk mengambil jarak
Dulu kita begitu akrab
Tapi, sekarang aku telah berusaha menghindarimu
Dulu kau selalu ada untukku
Tapi, sekarang aku tak menginginkanmu ada hanya untukku
Tapi kuharap kau tak mempertanyakan mengapa aku melakukan semua itu.
Karena sampai kapan pun kau takkan mendapatkan jawaban dariku.
Biarlah alasan-alasan itu kupendam dalam hatiku saja
Aku tak ingin menyakitimu, aku tak ingin…
Cukup aku saja yang menderita karena luka masa laluku yang takkan bisa kusembuhkan

***
Lima tahun telah berlalu. Namun, waktu tak bisa menghapuskan segala sesuatu tentang Kinan dari pikiranku dengan mudah. Jujur, aku masih berharap takdir masih memberikan kesempatan tuk mempertemukan kami. Aku menginginkan penjelasan yang pasti darinya. Aku tidak bisa menerima perlakuannya  tempo hari.
Aku terus berusaha mencari informasi tentangnya. Namun, semuanya nihil. Ia bagai tertelan bumi. Aku sudah sangat lelah, namun aku tidak ingin berhenti mencarinya. Ya… Setelah bertahun-tahun, akhirnya usahaku itu membuahkan hasil.
Kini aku tahu dia dimana. Tapi, aku tidak bisa percaya dengan apa yang kulihat. Tapi, inilah kemungkinan yang betul-betul nyata. Aku harus menerima kenyataan ini, meski ini sangatlah pahit. Aku masih tertunduk, mataku tertuju ke arah bongkahan tanah yang telah menjadi pemisah antara aku dan kinan. Kini dunia kami telah berbeda. Aku tak bisa lagi membendung air mataku. Lidahku terasa kelu. Hatiku seperti tercabik-cabik.

Aku tahu jasadmu memang sudah lenyap…
Tapi sosokmu akan terus ada dalam  anganku
Aku tahu takkan ada lagi celotehan darimu…
Tapi aku tak akan lupa dengan semua nasihatmu
Semua tentangmu kan terkubur abadi dalam hatiku tuk selamanya.
Maafkan aku atas kenangan pilu yang telah kutorehkan di masa lalumu
Selamat tinggal sahabatku, selamat tinggal cinta pertamaku…
Kau kan terus hidup dalam imajinasiku sebagai cintaku yang abadi.



Makassar, Desember 2009
Cerpen pertama. Dikumpulkan sebagai tugas menulis cerpen pada mata pelajaran Bahasa Indonea.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa komentarmu? Silakan menuliskannya ^^ ...