Minggu, 26 Juli 2026

Ya Allah, Berilah Aku Kepastian, Bukan Penantian Tanpa Arah

Ya Allah, aku tidak memohon agar Engkau mengubah takdir-Mu demi keinginanku. 

Aku hanya memohon, jika ini memang takdirku, maka mudahkanlah hingga menjadi halal. 

Namun jika bukan, maka jangan biarkan aku menghabiskan bertahun-tahun lagi dalam kebingungan. 

Berilah aku jawaban yang jelas, hati yang lapang untuk menerimanya, dan keberanian untuk melangkah menuju takdir terbaik yang telah Engkau pilih.

Jumat, 17 Juli 2026

Muara yang Kucari


Semakin mengenal diri sendiri, aku kadang berpikir, dari jutaan kekurangan dan sikapku yang tak selalu sesuai ekspektasi orang lain, apa masih ada yang mau menerimaku sepenuhnya?

Yang dengan senang hati memperjuangkanku. Yang bersedia mendidikku di tengah keras kepalaku.  Yang siap menjadi orang paling kuandalkan seumur hidup. Yang memilih tetap bertahan bersamaku meski hidup tak selalu baik-baik saja.  Dan yang bertekad menjadikanku satu-satunya pendamping hidup.

Semoga dari banyak kurangku, dia bisa memiliki sabar yang jauh lebih luas.
Dari sedikitnya kebaikanku, dia bisa memiliki rasa syukur yang tak terhingga. Semoga dari perangaiku yang tak disukainya, dia tetap memilih setia berjalan di sisiku hingga akhir.

Laki-laki seperti apa ya yang kelak berani menerima segenap diriku dan memilihku menjadi istrinya?

Selasa, 14 Juli 2026

Perjalanan Menuju Bandara


Sudah beberapa kali aku harus pergi ke bandara sendirian untuk safar dan urusan dinas. Ada dua momen yang sangat membekas di ingatan perihal perjalanan ke bandara ini. 

Yang pertama, saat ingin kembali ke Pomalaa setelah belasan tahun tidak pulang, momennya setelah nenekku meninggal pada tahun 2015. Sepanjang perjalanan, dadaku terasa sesak. Biasanya aku pergi dalam keadaan riang gembira, baru kali ini aku pergi saat momen berduka. Seberat ini ya rasanya ditinggalkan seseorang yang seluruh hidupmu selalu dekat dengannya. Di dalam mobil menuju bandara, aku berusaha menahan air mata. Setiap diajak bicara, aku hanya diam karena takut tangisku pecah. Namun, semakin dekat ke bandara, pertahananku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya.


Momen kedua terjadi setelah mengikuti tes CPNS pada akhir 2018. Aku harus kembali ke Sumatera untuk melanjutkan kontrak kerja. Beberapa hari sebelum berangkat, aku sempat menelpon mama dan marah karena persoalan sepatu yang ingin kupakai untuk tes. Keesokannya kuanggap tak ada masalah lagi, tetapi ada yang terasa berbeda. Saat ingin ke bandara, aku memesan kendaraan lewat aplikasi online. Mama menelponku saat menunggu di ruang tamu. Saat berpamitan, rasanya berat sekali melangkah keluar rumah.


Begitu duduk di dalam mobil, dadaku mendadak sesak. Drivernya sempat mengajakku mengobrol, tetapi di sela percakapan itu aku malah menangis. Rasanya malu karena tiba-tiba menangis, tetapi aku benar-benar tidak bisa menahannya. Saat ia bertanya kenapa, kujawab saja karena batal menikah, padahal sama sekali bukan itu alasannya. Setelah itu, ia hanya diam seribu bahasa.


Minggu, 05 Juli 2026

Kamis, 02 Juli 2026

Arah yang Sama

Ia tidak pernah ingin tergesa-gesa dalam urusan hati. Di tengah dunia yang sering kali menganggap hubungan hanya sebagai pelarian sepi, ia memilih untuk tetap berdiri pada prinsipnya: menjaga diri agar tidak jatuh pada hubungan yang tanpa arah. Bukan karena ia menutup diri, tetapi karena ia percaya bahwa perasaan seharusnya tidak mengaburkan tujuan hidup yang sedang ia bangun.

Setiap kali seseorang datang dengan perhatian dan kata-kata manis, ia tidak langsung larut di dalamnya. Ia belajar menilai dengan tenang. Apakah orang ini hanya ingin singgah, atau benar-benar siap berjalan ke arah yang sama? Ia tidak mencari yang sempurna, hanya yang mau tumbuh bersama, yang tidak membuatnya kehilangan dirinya sendiri di tengah hubungan yang seharusnya saling menguatkan.

Baginya, cinta bukan tentang seberapa cepat dua hati saling memiliki, tetapi seberapa dalam keduanya mampu berjalan dalam satu arah tanpa saling menarik ke jurang dosa. Maka ia memilih untuk menunggu, bukan karena takut mencoba, tetapi karena ia ingin memastikan bahwa ketika ia melangkah bersama seseorang, itu bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan perjalanan yang benar-benar menuju arah kebaikan.

Rabu, 01 Juli 2026

Dalam Wajah yang Bukan Kamu


Dari banyak jalan yang kulalui, dari beberapa tempat yang kudatangi.

Aku berharap bisa tiba-tiba menemuimu di salah satunya, tanpa sengaja.

Tapi rasanya itu terlalu mustahil.

Ternyata aku seberharap itu ya?

Aku sudah berkali-kali berusaha menghindari perasaanku sendiri. Entah sudah yang ke berapa kalinya.

Aku juga pernah bertekad menganggapmu tak pernah ada. Tapi selalu gagal.

Rasanya setiap jalan yang kupilih, selalu berakhir pada harapan yang sama, barangkali ada kamu di ujungnya.

Dari beberapa orang yang kuberi kesempatan untuk mengenaliku.

Tetap saja aku selalu mencarimu di antara mereka. Entah itu leluconnya, cara berpikirnya, jawabannya saat merespon pertanyaanku, nada bicaranya, sikapnya saat mendengarku bercerita, caranya menjaga diri dan membatasi pergaulan. 

Tanpa sadar, aku selalu membandingkan mereka denganmu.


#CeritaFiksi #RuangKata #Literasi #BelajarBercerita #TulisAjaDulu #KreatifMenulis

Minggu, 28 Juni 2026

Isyarat Semu


Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa kusadari jadi rutinitas setiap kali melihat postingan yang lewat di beranda. Aku selalu berhenti lebih lama, beberapa detik hingga selang beberapa menit saat melihat postingan yang kau sukai atau kau posting ulang. 

Aku biasanya membaca kata demi kata dengan lebih saksama, mencoba memahami setiap kalimat dalam postingan... Lalu sibuk menerka, adakah yang kau maksud itu tentang aku?

Tapi aku kadang berpikir, apakah ada orang lain yang juga menerka serupa denganku? 

Lalu dengan bodohnya aku menjadi kesal sendiri. 

Apa ini artinya aku cemburu?

Rabu, 24 Juni 2026

Kok Belum Nikah?



"Kak apa lagi sih yang ditunggu? Kok belum nikah?" Tanya seseorang tiba-tiba.

Tentu aku speechless dan tidak tahu mau jawab apa lagi. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum 

Semakin berumur, pertimbangan untuk menerima seseorang menjadi pasangan tentu akan lebih banyak. Bukan hanya sekedar saya suka sama dia ataupun sebaliknya. Tapi aspek-aspeknya jadi lebih kompleks dan yang paling utama untukku adalah YAKIN kalau aku bisa menaatinya seumur hidupku. Karena ini salah satu poin penting untuk memastikan bahwa bersamanya, tujuan akhirku bisa kuraih, yaitu Syurga-Nya. 

Bagi seorang wanita, salah satu jalurnya adalah dengan taat kepada suami. Dan bagiku, menemukannya sungguh tidak mudah. Entah sudah berapa kali aku mencoba melalui jalur ta’aruf, tetap saja belum ada yang berhasil. Saat aku yakin, eh malah dianya yang gak yakin. Begitu pun sebaliknya. Mungkin butuh lebih sabar dan introspeksi diri.

Beberapa teman pun malah kadang menghiburku dengan kata-kata mutiara, "Sabar ya, akan ada waktunya. Nikmati dulu masa-masa singlemu. Belajar dan jadi versi terbaik dari dirimu. InsyaAllah Allah akan datangkan yang terbaik di waktu yang tepat."

Tentu itu masuk akal, toh gak ada lagi yang bisa diperbuat, selain ikhtiar, tawakkal, memperbanyak taubat & doa, dan tentu saja harus sabar menerima apa pun takdir Allah. 

Senin, 22 Juni 2026

Galau ya?



22.40

Sudah sempat tertidur, tapi tiba-tiba terbangun. 

Lalu memikirkan hal random dan mau cari tahu lebih detail tentang itu. 

Padahal sebenarnya itu nggak harus kupikirin juga sih. 

Ya Rabb, tenangkan hatiku, tenangkan pikiranku. 

Aku kesel banget sama diri sendiri yang suka memikirkan skenario-skenario yang belum pasti terjadi. 

Menduga-duga sesuatu yang bikin aku nangis sendiri, padahal belum tentu begitu faktanya. 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالْحَزَنِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih.”


Rabu, 27 Mei 2026

Teman yang Menghilang


Beberapa teman yang sudah kukenal sekitar 20 tahunan lalu, karena faktor kesibukan dan jarak domisili yang sudah beda pulau, saat ini kami lebih sering melihat kehidupan satu sama lain lewat media sosial dibanding bertemu langsung. Dari postingan di media sosial ini pun kadang malah ada yang kuanggap over sharing. Tapi ada yang baru kusadari, beberapa teman yang biasanya over sharing justru tiba-tiba menghilang. Kupikir mungkin mereka sedang sibuk aja.


Dan fakta yang baru kuketahui dari pertemuan dengan teman-teman di malam lebaran kemarin adalah ada kabar dan cerita yang sebenarnya sangat berat dan tak pernah bisa mereka bagikan. Aku pun bisa menyimpulkan, bersyukurlah jika teman-temanmu masih aktif membuat status atau postingan di media sosial, itu artinya dia masih baik-baik saja.


Namun, jika ada yang tiba-tiba menghilang, sesekali tanyakanlah kabarnya. Bisa jadi ada masalah besar yang membuatnya memilih diam dan tidak bisa membagikan cerita apa pun lagi di media sosialnya.


Hal ini membuatku menyadari bahwa teman yang pernah sesekali kureply storynya ternyata sedang menghadapi masalah, dan itu membuatnya memilih menghilang dan menjauh. Kemarin pun aku berinisiatif mengiriminya pesan singkat lewat instagram, dan sampai saat ini dia tidak merespon. Dia betul-betul menghilang dari jangkauan. Teman lain pun mencoba mengecek nomor WhatsApp-nya dan ternyata tidak aktif. Dihubungi lewat telepon biasa pun hasilnya nihil. Rasanya aku mulai overthinking dengan kondisi dan keberadaannya. Aku berharap dia baik-baik saja.

Jumat, 01 Mei 2026

Jaga Kesehatan ya!


Awal Mei ini rasanya agak berat. Aku sadar, ternyata capek juga ya pura-pura kuat terus. Aku masih mencoba memulai lagi mimpi yang sempat aku tunda, sambil tetap menjalani pekerjaan yang akhir-akhir ini cukup menyita energi. Kasus campak meningkat, ada yang sampai meninggal, dan DBD mulai muncul lagi.

Aku sering terlihat biasa saja, tapi sebenarnya kepalaku penuh. Bukan cuma soal kerja atau mimpi, tapi juga soal bagaimana aku bertahan tanpa kehilangan diriku sendiri.

Mungkin aku nggak harus selalu kuat. Aku cuma perlu jujur kalau lagi capek, dan tetap menyelesaikan semua pekerjaan sebisaku, tanpa memaksa semua harus baik-baik saja hari ini.

Dan di tengah kesibukan ini, aku cuma ingin mengingat satu hal sederhana,  "jaga kesehatan". Karena tidak semua hal bisa kita ulang kembali, tapi kita masih punya pilihan untuk lebih menjaga diri sendiri. Jangan tunggu sakit baru peduli. Karena di balik setiap kasus, selalu ada cerita kehilangan yang tidak ingin dilalui oleh siapa pun.

Senin, 27 April 2026

Mari Kita Mulai Lagi

Ada salah satu mimpi yang pernah membuat hatiku nyala bahkan hanya dengan memikirkannya. Tapi karena khawatirku yang amat besar dan terlalu banyak tapi, aku memilih mengubur dan menundanya hampir 2 tahun. 

Hari ini (Senin, 27 April 2026) aku memutuskan untuk memulai semuanya dari awal. Segala persiapan dan hal-hal lainnya yang kuanggap sulit, akan kuusahakan lebih giat. 

Aku berharap bisa lebih fokus mengejarnya. Sebenarnya khawatirnya tetap ada, tapi aku berusaha mengabaikan dan tidak memikirkan hal-hal yang buruk. Setidaknya nanti aku tidak akan menyesalinya karena sudah berani memulai.

Jumat, 24 April 2026

Lelah Pikiran



Akhir-akhir ini aku suka tertrigger hanya karena membaca beberapa postingan di sosial media, tak jarang aku marah sekali, atau kadang bisa sampai nangis sesenggukan. 

Rasanya pikiranku sangat amburadul. 
Aku sering sibuk sendiri menerka-nerka beragam skenario di kepala. Lalu akhirnya jadi lebih emosional.

Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya, nangis seharian sampai mata bengkak. Kadang juga suka terbangun tiba-tiba saat tidur, akhirnya kualitas tidurku jadi kurang baik. 

Bahkan aku pernah terbangun uring-uringan, tanganku mencoba meraih smartphone lalu mengirim pesan singkat ke atasan, menginfokan bahwa aku tidak masuk kantor karena kepalaku rasanya berat sekali.

Minggu, 07 Desember 2025

Kamu Tak Sendiri


Tidak ada orang yang benar-benar kuat... Kamu pasti paling paham itu, kan?

Di saat semua sibuk menghakimi dan menjelek-jelekkan, memiliki satu orang yang tetap percaya padamu, yang berdiri di sampingmu tanpa ragu, rasanya pasti sangat menenangkan, meski bebanmu seberat apapun.

Senin, 17 November 2025

Antara Ketakutan dan Harapan dalam Doa

 Akhir-akhir ini, aku sering banget kepikiran hal-hal yang sebenarnya nggak ingin kupikirkan. Seperti berita perselingkuhan yang berujung pada perceraian. Makin ke sini, rasanya kasus-kasus seperti itu bukannya berkurang, malah semakin sering muncul di beranda. Dan entah kenapa, semuanya langsung masuk ke kepalaku, mengubah mindsetku, bahkan sampai memengaruhi alam bawah sadarku.

Padahal, aku belum menikah. Tapi setiap kali membaca cerita tentang pengkhianatan, ketakutan untuk menikah itu justru makin besar. Kadang aku sampai berpikir, mungkin lebih baik tidak menikah sama sekali daripada harus menikah dan berakhir patah karena diselingkuhi.

Aku nggak bisa bohong, aku takut. Takut membangun sesuatu yang kuanggap suci, hanya untuk berakhir hancur karena seseorang memilih orang lain di belakangku.

Lalu aku bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya membuat seseorang berselingkuh? Apa yang kurang? Apa nggak terpikir betapa rapuhnya hati pasangan yang mereka khianati? Hubungan itu kan seharusnya tentang dua orang yang saling menjaga, tapi kenapa ada yang memilih untuk berpaling?

Dari situ, aku mulai merenung: kira-kira kriteria pasangan seperti apa sih yang perlu kita cari agar bisa menghindari masalah perselingkuhan ini sejak awal? Pasangan seperti apa yang benar-benar bisa dipercaya? Apakah ada seseorang yang betul-betul memegang komitmen sekuat itu?

Dalam hati kecilku, aku percaya bahwa seseorang yang taat dan takut kepada Allah akan lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan. Tapi meskipun aku percaya itu, rasa was-was tetap datang sesekali. Siapa yang bisa menjamin? Siapa yang bisa memastikan?

Namun, aku tetap berdoa. Semoga Allah masih menyimpan satu laki-laki yang setia untukku, yang bisa menjaga interaksinya, laki-laki yang mahal karena sangat menjaga kehormatannya, yang tahu bahwa pernikahan itu adalah komitmen seumur hidup, bukan permainan. Seseorang yang mengerti bahwa pernikahan adalah mitsaqan ghaliza di hadapan Allah, bukan sekadar janji di bibir. Perjanjian yang kuat dan agung, amanah yang harus dijaga seumur hidup.


Rabu, 20 Agustus 2025

Perempuan dan Luka


Aku duduk nyaman di kursiku dan fokus melihat layar laptop, memeriksa rekam medis elektronik dan menganalisis data untuk laporan mingguan, sementara dia sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya.

“Lama menunggu, jauh lebih baik daripada menyesal belakangan.” katanya sambil memeriksa berkas.


Aku tersenyum dan mengangguk pelan, “Iya, aku paham.”


Dia tertawa pelan, tapi suara tawanya terasa agak hampa. “Lihat deh, aku masih bisa ketawa kan? Meski hatiku sudah hancur berkeping-keping.”


Aku tahu dia jauh lebih kuat dari yang terlihat.


“Kalau aku ada di posisimu, mungkin kondisiku jauh lebih kacau. Belum tentu aku bisa bertahan,” ucapku sambil menginput laporan.


"Nggak ada yang benar-benar bisa melupakan. Kita memaafkan dan memberikan kesempatan kedua. Tapi kecurigaan dan prasangka itu nggak pernah bisa hilang." Ucapnya dengan suara lebih tegar.


“Yaaah, impossible buat ngelupain." Lanjutku setuju.


Aku berhenti sejenak, menarik napas. "Doain ya, semoga aku bisa dapat partner yang bener-bener punya prinsip kuat, minimal takut sama Allah dulu, biar nggak gampang goyah sama hal-hal di luar nalar.”


Dia menoleh, “Mungkin kamu sudah bosan ya dengar ini, tapi aku cuma mau bilang... Sabar aja, nikmati apa yang kamu punya saat ini. Setelah nikah pun, ujiannya ada-ada aja.”


Aku mengangguk pelan, “Ya, memang. Tapi kadang, di usia kayak gini, pasti sudah mulai panik kan? Kadang mikir, apa masih ada yang mau? Apa beneran bakal ketemu jodohnya? Jangan-jangan nanti lebih duluan dijemput ajal lagi.”


Dia tersenyum samar, “Usia bukan ukuran, kok. Kamu cuma belum ketemu orang yang tepat. Kamu tahu, hidup nggak melulu soal siapa yang ada di samping kita, tapi soal bagaimana kualitas kita. Selama masih dalam ketaatan, tenang ajaaa!"


Aku terdiam sejenak, merenung. Dia benar. Kadang kita lupa bahwa bukan cuma pasangan yang menentukan bahagia kita. Kebahagiaan sejati datang dari dalam, dari cara kita menerima dan menghargai perjalanan hidup kita, meski belum berjalan sesuai rencana.


"Kadang aku mikir, mungkin aku terlalu memusingi hal yang belum terjadi, padahal yang lebih penting adalah apa yang aku miliki sekarang. Teman-teman, keluarga, dan kesempatan untuk tumbuh, untuk belajar lebih banyak."


Dia mengangguk, seolah mengerti apa yang aku rasakan. “Betul, kamu punya banyak hal yang luar biasa, nggak cuma yang kelihatan. Yang paling penting, tetap berproses. Jangan pernah ragu dengan dirimu sendiri.”


Kami terdiam sejenak, lalu kembali fokus pada pekerjaan masing-masing, sibuk dengan to-do list yang terus bertambah. Tapi kali ini rasanya lebih ringan.

Jumat, 25 Juli 2025

Dunia yang Tak Terlihat

Melihat dalamnya lautan seperti menyaksikan dunia yang penuh rahasia. Di bawah permukaan, ada kehidupan yang tak terlihat, dari terumbu karang warna-warni hingga makhluk-makhluk unik yang jarang muncul ke permukaan. Lautan menyimpan banyak misteri yang membuat kita terkagum-kagum.

Di kedalaman sana, segala sesuatu berjalan dengan cara yang sempurna dan saling bergantung. Lautan mengajarkan kita untuk menghargai apa yang tersembunyi, ada banyak hal yang tak bisa kita lihat atau pahami, tapi tetap ada dan hidup di sana.

Kamis, 17 Juli 2025

Membaca Dirimu

Terkadang, ada saatnya kamu merasa seperti halaman-halaman buku usang yang tak sempat dibaca orang lain. Kamu hadir, kamu berbicara, kamu mencoba untuk terbuka, tapi tetap saja dunia terasa terlalu sibuk untuk benar-benar membaca dirimu. Bahkan kamu mulai ragu, apakah kata-kata yang kamu tulis dalam sikap, tawa, dan diam itu bisa dimengerti siapa pun?


Meski demikian, jangan pernah terburu-buru menghapus bagian-bagian penting dari dirimu hanya karena belum ada yang memahami isinya. Seperti buku yang menunggu pembacanya, kamu pun sedang menunggu waktu yang tepat.


Mungkin butuh waktu, tapi kelak kamu akan bertemu orang-orang baik yang membaca dirimu apa adanya, bukan dengan prasangka, tapi dengan hati yang utuh dan niat yang tulus.


Orang-orang itu tidak akan hanya melihat sampulmu atau menilai dari bab awal hidupmu. Mereka akan sabar menyimak cerita yang kamu bawa, bahkan bagian-bagian yang sulit dimengerti sekalipun. Mereka tidak akan memaksamu mengubah alur atau menyembunyikan luka, karena bagi mereka, dirimu sebagaimana adanya sudah cukup indah untuk dipahami.


Jadi tetaplah menjadi dirimu, meski dunia belum mengerti. Karena suatu hari, seseorang akan datang dan tak hanya membaca, tapi mencintai seluruh isi ceritamu.


Senin, 14 Juli 2025

Baper dengan Bijak

“Makanya jangan gampang baper!” celetukmu sambil cengengesan, wajahmu santai seperti biasa. Di tengah obrolan hangat bersama beberapa teman, kamu menanggapi cerita-cerita random dengan lepas, seolah tak ada beban yang mengganggu.

Suara tawa dan canda mengisi ruangan, percakapan kalian mengalir begitu seru. Sedangkan aku? Sedari tadi hanya duduk diam, sesekali mengangguk-angguk kecil, menyimak tanpa banyak bicara.


Kalian semakin heboh membahas soal perasaan, sesuatu yang selalu rumit tapi juga menarik. Aku yang tadinya cuma diam akhirnya ikut nimbrung, “Memangnya kita beneran bisa mengendalikan perasaan ya? Bagaimana kalau tiba-tiba kamu ketemu seseorang, tanpa aba-aba, dan tiba-tiba hatimu jatuh, terkesima saat melihat dia? Padahal dia cuma diam, nggak ngapa-ngapain.”


Aku menatap satu per satu teman yang hadir dengan penasaran, “Kalian pernah ngalamin hal kayak gitu?”


Salah satu dari mereka tersenyum, “Gak pernah sih, tapi seandainya aja tiba-tiba kejadian seperti itu, kayaknya wajar banget, ya?”


Kamu mengangguk pelan dan mulai menjelaskan dengan suara tenang, “Gini loh, sebenarnya, mengendalikan perasaan itu bukan tentang memaksakan diri buat gak ngerasain apa-apa. Tapi lebih ke bagaimana kita bisa ngatur respon kita, menetapkan batas supaya kita nggak sampai hilang arah atau bikin keputusan yang nantinya disesali, nggak melakukan hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang kita pegang, aturan agama misalnya.”


Aku mengerutkan dahi, “Kalau perasaan itu datang tanpa diduga, gimana caranya kita bisa sadar dan pasang batas? Kadang kita baru sadar kalau udah kebablasan.”


Kamu mengangkat bahu, “Itu memang sulit. Tapi yang namanya perasaan itu natural. Yang penting, setelah sadar, kita harus bisa ambil langkah bijak. Jangan sampai perasaan yang datang tiba-tiba itu yang mengatur kita, sebaliknya, kita yang harus bisa mengendalikan perasaan itu.”


Seorang teman lain menimpali, “Iya, misalnya kamu lagi jatuh cinta, tapi sadar kalau nggak perlu buru-buru membuat keputusan atau ngebayangin masa depan yang belum jelas. Santai aja dulu, kasih waktu untuk saling mengenal.”


Aku tersenyum kecil, merasa mendapat pelajaran penting malam itu. “Jadi, intinya, bukan berarti kita harus menahan atau mengabaikan perasaan. Tapi kita harus bisa mengenali dan memahami perasaan itu, lalu mengelolanya dengan bijak supaya nggak sampai menyakiti diri sendiri atau orang lain.”


Kamu mengangguk setuju, “Bener banget. Perasaan boleh datang dan pergi, tapi kita yang pegang kendali atas diri sendiri.”


Suasana menjadi hening sesaat, lalu tawa dan obrolan kembali mengalir. Aku merasa, malam itu aku belajar sesuatu yang berharga, bahwa untuk bisa hidup dengan tenang, kita harus paham kapan harus membuka hati dan kapan harus menjaga jarak, bukan untuk membuat diri kita jadi dingin atau tertutup, tapi supaya kita tetap kuat dan bijak dalam menghadapi segala perasaan yang datang.

Jumat, 11 Juli 2025

Choose Wisely

Saat dihadapkan pada sebuah pilihan, terlebih jika itu terkait teman seumur hidup, tentu banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Dari banyak kriteria yang kau sebut dalam do'a-do'amu...

Akhirnya kamu akan memilih seseorang yang membuatmu tenang, dia yang terus memperjuangkanmu, yang nggak menyerah meski tahu kurangmu sangat banyak. Karena dia yakin kalian punya tujuan sama, yaitu menuju syurga-Nya.


Menentukan pasangan hidup bukan sekadar soal perasaan. Bukan hanya tentang siapa yang membuatmu tersenyum paling lebar atau siapa yang paling sering hadir di hari-harimu. Tapi tentang siapa yang tetap tinggal saat kamu tak lagi sekuat biasanya. Siapa yang bersedia menapaki jalan panjang, menempuh suka dan duka bersamamu, tanpa pernah ingin menyerah di tengah jalan.

Pilihan itu harus bijak. Karena menikah bukan garis akhir, justru awal dari perjalanan baru yang jauh lebih kompleks dan penuh ujian. Maka, kamu butuh seseorang yang bisa menjadi teman seperjuangan, bukan hanya teman bersenang-senang.

Pilihlah ia yang menuntun, bukan yang menuntut. Yang mengingatkanmu saat lalai, bukan yang meninggalkanmu saat kamu jatuh. Yang sabar dengan prosesmu, bukan yang hanya hadir saat kamu sudah 'berhasil'.

Pasangan hidup yang baik bukan yang sempurna. Tapi yang tahu bahwa kalian sama-sama tidak sempurna, dan tetap memilih untuk memperbaiki diri bersama. Ia tahu bahwa cinta butuh kerja keras, bukan hanya kata-kata manis. Bahwa hubungan yang baik itu dibangun, bukan ditemukan begitu saja.

Dan pada akhirnya, kamu akan memilih bukan karena siapa dia sekarang, tapi karena apa yang ingin kalian capai bersama. Sebab cinta yang sejati akan selalu membawa dua jiwa untuk tumbuh dan bertemu kembali di tempat terbaik: surga-Nya.

Choose wisely. Karena hidup ini terlalu berharga untuk dijalani dengan orang yang salah.