Sudah beberapa kali aku harus pergi ke bandara sendirian untuk safar dan urusan dinas. Ada dua momen yang sangat membekas di ingatan perihal perjalanan ke bandara ini.
Yang pertama, saat ingin kembali ke Pomalaa setelah belasan tahun tidak pulang, momennya setelah nenekku meninggal pada tahun 2015. Sepanjang perjalanan, dadaku terasa sesak. Biasanya aku pergi dalam keadaan riang gembira, baru kali ini aku pergi saat momen berduka. Seberat ini ya rasanya ditinggalkan seseorang yang seluruh hidupmu selalu dekat dengannya. Di dalam mobil menuju bandara, aku berusaha menahan air mata. Setiap diajak bicara, aku hanya diam karena takut tangisku pecah. Namun, semakin dekat ke bandara, pertahananku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya.
Momen kedua terjadi setelah mengikuti tes CPNS pada akhir 2018. Aku harus kembali ke Sumatera untuk melanjutkan kontrak kerja. Beberapa hari sebelum berangkat, aku sempat berdebat dengan Mama karena persoalan sepatu yang ingin kupakai untuk tes. Keesokan paginya kami tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi ada yang terasa berbeda. Saat ingin ke bandara, aku memesan kendaraan lewat aplikasi online. Mama menemaniku menunggu di ruang tamu. Saat berpamitan, rasanya berat sekali melangkah keluar rumah.
Begitu duduk di dalam mobil, dadaku mendadak sesak. Drivernya sempat mengajakku mengobrol, tetapi di sela percakapan itu aku malah menangis. Rasanya malu karena tiba-tiba menangis, tetapi aku benar-benar tidak bisa menahannya. Saat ia bertanya kenapa, kujawab saja karena batal menikah, padahal sama sekali bukan itu alasannya. Setelah itu, ia hanya diam seribu bahasa.


0 comments:
Posting Komentar
Apa komentarmu? Silakan menuliskannya ^^ ...