Senin, 27 Juli 2015

Menikah itu Rumit

Menikah itu rumit. Mencari dan menunggu saja, butuh waktu yang tidak sebentar. Setelah menemukan, kamu perlu berjuang untuknya. Kemudian, kamu harus bisa meyakinkan keluargamu dan keluarganya bahwa kalian cukup pantas bersama.

Faktor agama, fisik, nasab, dan harta tidak serta merta bisa dipertimbangkan dan difilter dengan mudah. Mungkin kamu sudah terlanjur jatuh hati, tapi restu keluargamu tetap akan menjadi pertimbangan yang paling penting.

Biar bagaimana pun, kita tidak bisa memaksakan kehendak. Rasa suka dan cinta tak pernah bisa kita kendalikan, tapi kita harus siap berbesar hati menerima risiko dan melepaskan jika saja takdir berkata lain.

~Teruntuk kita yang masih menunggu dan mencari. Berdo'alah semoga bisa segera menggenap dan melalui kerumitan dengan bijak.~

Selasa, 14 Juli 2015

20.15


Seharusnya rumah menjadi tempat pulang ternyaman. Seharusnya  keluarga adalah orang terdekat yang paling bisa memahami sakit dan sepi kita setelah ditinggal orang yang paling berharga. Tapi semua bisa jadi sangat tidak nyaman dan merasa seperti orang asing karena ego dan amarah. 

Lalu jika tidak ada yang mau memahami dan mengalah, kemana lagi kami hendak  pulang dan mengadu? 

Rabb, tentramkan dan beri kami hati yang lapang. Hilangkan prasangka dan kebencian yang membakar habis kebaikan.

Minggu, 14 Juni 2015

Lelaki dan Kekhawatirannya


Sebagai anak perempuan, tentu banyak yang tidak kupahami dari kaum lelaki. Tapi, dari seorang lelaki luar biasa (I call him 'Etta'),  saya bisa belajar memahami bahwa pada dasarnya laki-laki akan melakukan apa pun untuk melindungi dan memberikan yang terbaik untuk perempuan, terutama anaknya. 

Laki-laki jika sudah menjadi ayah akan menjadi sangat egois dan tidak akan pernah ridho jika anak perempuannya disentuh oleh laki-laki (karena sebelum ada yang berani datang melamar anaknya, hanya dia lelaki yang bisa dipercaya). Bagi seorang ayah, selalu ada hal sepele yang bisa membuatnya mengkhawatirkan anak perempuan yang disayanginya melebihi kekhawatirannya terhadap diri sendiri. Dan terkadang kekhawatirannya tersebut bisa membuatku menyadari betapa berharganya seorang perempuan. 

Dia bisa sangat marah hanya karena melihat anaknya berpakaian tidak pantas di depan umum. Sangat tidak suka kalau anaknya berduaan dengan seseorang yang bukan mahram. Atau bahkan sangat jengkel karena melihat anaknya memosting foto selfie sesuka hati di media sosial.Tapi dari banyak lelaki, hanya sedikit yang bisa mengkhawatirkan hal sesepele itu. Karena nyatanya, cuma sedikit lelaki yang paham bagaimana menjaga dan menghormati wanita yang disayanginya.

Tahun lalu menjelang idul fitri, saya membeli baju gamis dengan payet karet pada bagian pinggang sehingga ukurannya terlihat kecil. Malamnya, Ettaku memanggilku, "Ini bajumu? Kenapa ukurannya kecil sekali?" Tanyanya dengan ekspresi tidak suka sambil memperlihatkan baju yang kubeli.

"Iya, itu bajuku. Pastilah kecil, kan badanku juga kecil." Aku merespon seolah semua baik-baik saja.

"Masa kecil begini? Ini pasti ketat. Coba dipakai!" Nada suaranya terdengar khawatir. Dia  sama sekali tidak yakin kalau baju itu cocok untukku.

Saya mengambil baju yang disodorkannya lalu memakainya.
"Ini cocok kan? Pas dengan ukuranku." Kataku santai sambil memperlihatkan bajuku yang sudah terpasang rapih.

Alisnya mengernyit, masih tidak senang melihatku memakai baju dengan ukuran yang menurutnya ketat karena berpayet pada bagian pinggangnya.

Besoknya mama melihatku mengenakan baju yang sama, lalu berkomentar, "Bajunya bagus, cocok karena tertutupi jilbab panjangmu. Etta pikir ketat karena belum lihat jilbabmu."

Sebelum sempat merespon, mama lanjut bercerita, "Dari semalam bajumu terus yang dipusingi Etta. Katanya ketat dan kekecilan. Malah dia heran dan tidak percaya kalau kamu sendiri yang mau beli baju itu." Lapor mama dengan antusias.

Aku hanya bergumam mendengar cerita mama.

Selain itu, Mama juga pernah mengadukan kekhawatiran Etta tentang foto di sosial media. "itu Ettamu kayak orang kebakaran jenggot gara-gara lihat fotonya adekmu di facebook, katanya bergaya sekali pamer-pamer foto. Tapi kenapa Ettamu melapor ke saya?  Atau maksudnya mungkin supaya saya saja yang kasih tahu adekmu untuk tidak pasang fotonya? Seharusnya dia saja yang langsung menegur."

Saya hanya menggelengkan kepala mendengar aduan mama.

Meski masih suka ngeyel dan bandel kalau dinasehati, saya tetap dan akan selalu bersyukur  punya orang tua yang super protektif, terutama dalam persoalan menjaga iffah dan kehormatan anaknya sebagai wanita. Karena mereka paham bahwa anak perempuan sangatlah berharga dan harus dijaga dengan baik.


Minggu, 10 Mei 2015

Memintamu PadaNya

Dalam kesyukuran yang penuh suka ci(n)ta, padaNya aku memintamu dengan sipu merona.

Sekeras apa pun hatimu, aku pantang menyerah sebelum mendapati penerimaanmu.

Tersebab bagiku, dengan lebih atau pun kurangmu, jiwamu akan sempurna melengkapiku.



~Terkena sindrom melankolis (lagi) >,< ~

Kamis, 30 April 2015

Do'a Hujan

"Kak, perjuangan kita hari ini betul-betul berat ya. Sampai harus hujan-hujanan seperti ini." Katanya sambil berusaha mengeratkan genggaman tangan kanannya pada gagang payung  yang hampir diterbangkan angin.

"Iya berat, sangat berat. Untuk mencari kebaikan memang tidak ada yang mudah 'kan?" Balasku sambil berjinjit menghindari genangan air sebatas mata kaki.

"Betul kak, mencari kebaikan itu nggak semudah yang kita bayangkan. Selalu saja ada rintangannya. Termasuk dengan hujan-hujanan seperti ini."

"Meski hujan, tetap saja saya paling suka dengan saat seperti ini. Sebab hujan salah satu momen paling romantis untuk berdo'a."

"Kalau begitu, do'a kakak apa?" Tanyanya antusias.

"Semoga hujannya membawa banyak berkah dan semoga hati kita berdua dijauhkan dari keluh kesah agar kebaikan-kebaikan yang ada tidak hilang begitu saja."

"Aamiin" dia merespon dengan khusyuk sembari mengelap sepatu dan roknya yang terkena cipratan lumpur.

"Kalau kamu, do'anya apa?"

"Semoga kakakku yang manis ini segera dipertemukan dengan seseorang yang baik hati." Jawabnya dengan senyum manis.

"Do'anya sudah dikabulkan tuh, kan saya sudah ketemu sama kamu."

"Ih kakak, maksudnya seseorang yang akan melengkapi separuh agama,  jodoh gitu."

"Ooh itu toh. Ini lagi nungguin dia kok. Semoga dia bawa payung, 'kan kasihan kalau kelamaan menunggu gara-gara dia terjebak hujan." Balasku dengan gurauan.

~Do'a melangit dan tawa kami, hanyut bersama tetes hujan yang kian menderas.

Sabtu, 27 Desember 2014

Masih Ada Senyuman Untukku kan?

Rabb, ada hal yang sangat ingin kuperjuangkan hingga akhir. Sayangnya, tanganku mulai gigil menggenggamnya. Apa akan lebih baik jika menyerah saja? Tapi, aku takut menjadi pengecut. Aku ingin berlari jauh, jauh sekali. Tapi, aku terlampau malu melarikan diri. DuniaMu masih siap menampung resahku 'kan?  Kian hari, penglihatanku semakin buram oleh air mata. Sampai-sampai, parasku tak lagi kurupa saat bercermin. Aku betul-betul lupa diri. Perasaanku pun mulai sulit kupahami. Dadaku sudah sangat sesak. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Kau masih mau mendengar keluhanku 'kan? Sebab tanpaMu, aku tidak berani menghadapi sorotan sinis setiap pasang mata. Apa di luar sana masih ada senyuman yang bisa Kau hadiahkan untukku? Aku ingin berkeliling mencarinya.

Kamis, 25 Desember 2014

Wanita-Wanita Matahari

Ngubek-ngubek file foto dan ketemu folder "Temu Kangen". Ini nih salah satu momen kece di akhir tahun 2012, tepatnya 29 Desember. Semuanya masih single loh saat foto ini diabadikan, sebut saja "Wanita-Wanita Matahari" (disesuaikan dengan judul bukunya, hehe). Sekarang kita sudah berada di penghujung tahun 2014, dua tahun berlalu. Tanpa ada unsur kesengajaan dan skenario yang dibuat-buat, empat wanita di deretan atas, kompakan update status jadi "Istri-Istri Sholehah" (Alhamdulillah, Barakallaah ^^). Hmm, siapakah gerangan yang akan segera menyusul? Harap penonton mendo'akan dengan khusyuk ya, semoga Wanita-Wanita Matahari yang masih single tetap diberikan kekuatan dan keistiqomahan dalam menjaga diri dan hati (pokoknya tetap jomblo sampai halal! Hidup JOSH!), tetap semangat untuk belajar dan memantaskan diri karena Allah, serta dimudahkan dalam proses pencarian jodohnya dan segera update status juga di tahun 2015. Aamiin ya Rabbal Alamiin. 

#Anggap saja catatan ini sebagai harapan tersurat dari pemilik blog.


“Cinta tidak mengenal ruang dan waktu. Dia akan selalu menjadi pemenang.” 
~Aisyah Qahar, Wanita-Wanita Matahari~


This entry was posted in

Ada yang Menunggu

Segeralah bergegas! Di depan sana, ada seseorang yang telah lama bersabar menanti kadatanganmu.  Berjalanlah cepat-cepat! Di depan sana, ada seseorang yang memilih memelankan langkahnya, bahkan mengorbankan waktunya hanya untuk menunggumu tiba. 

Kamis, 18 Desember 2014

Sabtu, 13 Desember 2014

Mimpi Dibangun Di Atas Semangat Berlapis

Hujan membasahi bumi Gowa sejak kemarin. Tapi haruskah menjadi penghalang langkahku hari ini?. Karena hujan tak pantas menjadi
alasan yang bisa menggagalkan rencana hebat kita, kan?.

Bagaimana pun wajah yang ditampilkan bumi, pokoknya hari ini harus tetap semangat ke sekolah untuk mengisi pertemuan ke 5 NBS.  Agar menghindari risiko basah kuyup, saya memutuskan berdamai dengan diriku untuk melakukan hal yang
berbeda, berjalan kaki memakai payung. Tidak seperti Sabtu-sabtu
sebelumnya diantar dengan motor.

Dua puluh menit waktuku, kunikmati dengan berjalan santai dari rumah ke sekolah. Saya tiba di sekolah
ketika semua anak sudah berada di dalam kelas mereka. Terlihat Wali kelas IV masih berdiri di depan kelas sambil memberi pengarahan kepada anak-anak.

Di luar kelas, tampak dua orang relawan yang lebih dulu tiba. Masih
menunggu di koridor depan kelas. Keduanya terlihat sangat panik
dan khawatir, itu tampak jelas dari
ekspresi mereka yang masam dengan senyum dipaksakan. Salah seorang masih berusaha menghubungi relawan lain yang sepertinya terhalang
hujan dan membuatnya bakal hadir tak tepat waktu.

Sebenarnya, sejak dua pekan lalu, kami merencanakan untuk mengisi pertemuan kali oni dengan menonton film dan menuliskan kembali ceritanya. Menurut kami, zangat tidak kondusif untuk menghandle anak-anak yang “sangat aktif” untuk story telling.

Relawan yang bertanggungjawab
menyiapkan peralatan, belum kunjung datang. Rencana B pun dijalankan. Kami kembali mengarang seperti biasa, dengan tema lingkungan
sekolah.

Pertemuan kali ini, menyadarkan kami bahwa keadaan tim sedang dalam kondisi yang memprihatinkan,
yang membuat beberapa relawan menampakkan kekesalan.

Salah satu masalah yang urgent untuk diperbaiki adalah koordinasi dan komunikasi dalam tim, yang terasa kurang maksimal. Saya dapat merasakan bahwa kami belum sepenuhnya berada pada frekuensi yang sama. Istilah kerennya chemistry-nya belum dapat.

Namun, menurutku inilah yang membuat program NBS akan semakin menarik. Ibarat menjadi anak sekolah, setiap akan naik kelas pasti ada ujian yang harus dilalui terlebih dahulu.

Semoga, masalah itulah yang membuat kami lebih peduli dan sadar bahwa kami tidak bisa berbuat apa-apa tanpa siapa pun. Untuk berjalan dan berlari jauh dalam waktu singkat, kita sulit mencapainya jika hanya dengan satu kaki.

Karena mimpi seharusnya dibangun dari semangat yang berlapis dari para relawan NBS. Agar semua mimpi kecil adik-adik yang mengikuti program ini, sedikit demi sedikit dapat terwujud.

"Jangan sampai kekesalan kecil mengubah kebaikan hati kita. Tetaplah baik dan positif thinking, meski imiian dibangun di atas beberapa cobaan." (Anonim)

Editor: Indah Febriany