Terimakasih untuk pesan kesan sederhana yang kalian tuliskan. Ini seperti kertas-kertas ajaib yang seketika bisa mengubah mood. Pesan positif yang menjadi pemantik semangat dalam menjalani tanggung jawab baru di tempat yang pertama kali ingin kujejaki. Tempat perantauan yang jaraknya ribuan kilometer dari rumah, Kab. Pesisir Selatan Sumatera Barat.
Sabtu, 08 September 2018
Kamis, 04 Januari 2018
Yakin Nggak?
Selalu takjub dengan skenario Allah yang penuh kejutan. Allah tahu apa yang kita butuhkan, Allah tahu apa yang terbaik untuk kita, jadi kita harus beryukur dan bersabar menerima apapun yang baik dan yang kurang menyenangkan. InsyaAllah semua cerita suka duka akan berakhir bahagia bagi yang yakin sama Allah.
Pernah beberapa kali memperjuangkan sesuatu yang betul-betul sangat diinginkan, dibela-belain mengejar meski deadline di depan mata. Setelah perjuangan panjang, pengumuman tiba dan dari banyak daftar nama, namaku nihil. Awalnya kecewa, tapi tetap berpikir positif sama Allah, rezeki ndak bakal salah alamat, insyaAllah ada yang lebih baik. Akhirnya bisa mengikhlaskan dan melepasnya tanpa beban. Hari-hari berlalu, yang dulu sudah dilepaskan karena yakin akan ada gantinya, ternyata kembali dengan cara yang indah.
Alhamdulillahilladzi bini'matih tatimmus shalihaat
Yakinlah, apa yang menjadi milikmu tak akan pernah tertukar atau pun diambil orang lain. Tak usah risau, insyaAllah semua akan datang dari jalan manapun dan melalui perantara siapapun tanpa terduga.
Sabtu, 17 September 2016
Imam Desa Himbau Masyarakat Untuk Tidak BAB Sembarang Tempat
Pemerintah Kab.Takalar bekerjasama dengan UNICEF dan Lembaga Mitra Ibu dan Anak, sukses melaksanakan Sosialisasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Sosialisasi ini khusus untuk Imam Desa sekabupaten Takalar di Gedung PKK selama 2 hari, pada 7-8 September 2016. Kegiatan ini, diinisiasi oleh Dinas Kesehatan dan Kemenag Kab. Takalar untuk menyosialisasikan Program STBM kepada Tokoh Agama, agar mereka bisa menjadi salah satu ujung tombak dalam membantu memicu perubahan perilaku masyarakat.
“Pemuka agama/ imam desa diundang dalam sosialisasi ini, karena diharapkan bisa menyebarluaskan informasi terkait kebersihan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PH BS), sehingga dapat memicu masyarakat tidak BAB sembarangan. Program ini, merupakan program Pemerintah Kab.Takalar bekerjasama dengan UNICEF dan LemINA. Di Takalar, ada dua program yaitu STBM dan WASH in School. Dalam kegiatan ini UNICEF mempercayakan kami (LemINA) sebagai mitra untuk melaksanakan program.” Ujar Ibu Nurtang Gani, Project Manager WASH (Water and Sanitation Hygiene) LemINA saat pembukaan kegiatan.
Imam Desa diharapkan mampu menyinergikan informasi PHBS ke dalam ceramah/ khutbah agama nantinya. Melalui ceramah, imam desa bisa menghimbau dan menganjurkan masyarakat untuk menghentikan kebiasaan BABS (Buang Air Besar Sembarang) seperti di sungai, laut sawah, ladang, semak-semak dan sebagainya. Ini lantaran, BABS berdampak buruk terhadap kualitas hidup dan kesehatan masyarakat, dimana dapat menjadi faktor pemicu terjadinya kenaikan angka kesakitan dan kematian secara signifikan.
Imam Desa diharapkan mampu menyinergikan informasi PHBS ke dalam ceramah/ khutbah agama nantinya. Melalui ceramah, imam desa bisa menghimbau dan menganjurkan masyarakat untuk menghentikan kebiasaan BABS (Buang Air Besar Sembarang) seperti di sungai, laut sawah, ladang, semak-semak dan sebagainya. Ini lantaran, BABS berdampak buruk terhadap kualitas hidup dan kesehatan masyarakat, dimana dapat menjadi faktor pemicu terjadinya kenaikan angka kesakitan dan kematian secara signifikan.
“Dalam agama kita ini, kebersihan merupakan hal yang sangat penting maka bapak-bapak sebagai imam desa yang merupakan ujung tombak dalam masyarakat, kami harap bisa menyampaikan mengenai perilaku hidup bersih sehat dan pentingnya kebersihan. Kita harus bisa memberikan penyuluhan dan sosialisasi terhadap masyarakat.” Himbau Bapak Drs. Mustajab, MM, Kasi Bimas Islam Kemenag kepada seluruh Imam Desa/Kelurahan dan Kepala KUA yang hadir.
Program Sanitasi Total Berbasis masyarakat ini bukanlah program baru. Program ini, mungkin klise karena hanya mengurusi orang yang Buang Air Besar Sembarang. Kenapa organisasi dunia sangat gencar mengurusi persoalaan BABS ini? Berdasarkan data WHO, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia sebagai negara BABS terbanyak. Ini adalah salah satu prestasi yang sangat disayangkan, mengingat di Indonesia sebagian besar penduduknya adalah muslim. Oleh karena itu kita berharap prestasi ini bisa menurun.
“Satu orang yang BABS akan memberikan dampak untuk orang sekampung. Efek sampingnya bukan hanya kita sendiri tapi orang lain, bahkan orang yang tidak pernah bersilatuahmi dengan kita sekalipun bisa terkena dampaknya, mereka bisa terkena penyakit yang dibawa oleh lalat dari kotoran manusia.” Ungkap Ibu Eveline, District Fasilitator UNICEF.
Kamis, 26 Mei 2016
Melepaskan
Cerita kita masih sangat panjang, banyak hal yang perlu kita pahami sebelum membersamai orang yang tepat.
Aku yakin bahwa Tuhan selalu mempertemukan kita dengan siapa pun untuk alasan baik, meski akhirnya harus ada yang kecewa karena kehilangan.
Tetaplah lapang, tak peduli betapa resahnya menyembunyikan perasaan demi kebahagiaan orang lain.
Tetaplah ikhlas, tak peduli betapa pedihnya mengalah demi kebaikan orang lain.
Tetaplah tersenyum, tak peduli betapa sakitnya saat harus memilih menghapus perasaan yang kita pendam bertahun-tahun karena tahu sahabat sendiri mencintai orang yang sama.
Mungkin memang benar kata orang, kita harus belajar melepaskan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Tapi seberapa besar pun usahaku membenarkan kata-kata itu, tetap saja bagiku melepaskanmu adalah belajar mencintai luka.
Jumat, 20 Mei 2016
Perihal Malam Ini
Malam ini, di tengah hingar bingar keramaian kota, aku berdiri di antara ratusan pasang kaki. Mataku terpukau pada kemeriahan panggung pertunjukan, menikmati euforia debaran jantung pada setiap kata-kata dalam puisi.
Malam ini, di bawah kerlap kerlip bintang langit, di antara kegaduhan sorak sorai penonton dan kebisingan lalu lalang kendaraan, tetap saja aku tak berhasil menemukan tempat persembunyian aman darimu. Sebab ternyata, di antara ratusan pasang kaki itu, ada sepasang kakimu yang berdiri tak jauh dariku.
Ini bukan kali pertamanya aku mencari tempat persembunyian darimu, tapi tetap saja tiba-tiba kamu berada di tempat yang sama. Apa ini pertanda bahwa kita harus berdamai dengan takdir? Atau mungkin ini peringatan, bahwa kita sudah terlalu senja untuk bermain kucing-kucingan.
Sabtu, 16 April 2016
Menjaga Perasaan
Kelak di hari bahagia kita, aku enggan melihat ada seseorang yang tersakiti.
Itulah mengapa aku takut menjatuhkan hati pada (si)apapun selainNya sebelum kamu datang.
Tapi, bukankah dicintai diam-diam adalah perkara berbeda?
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita dan menyembuhkan luka siapapun yang telah kita sakiti tanpa sadar.
Rabu, 27 Januari 2016
Surat Kaleng
Bising di kepala, kukemasi ke dalam botol-botol kaca. Melalui perantara langit dan laut, aku berharap ia sampai tepat alamat (di tempatmu bersembunyi). Ini serupa pembawa kabar penting untuk dunia, bahwa dalam pikiranku: ada kamu. Menetap selamanya.
Jumat, 15 Januari 2016
Januari dan Lautan
Rencananya akan ada kunjungan sekolah di Pulau Tanakeke pada hari Kamis (14/1). Saya mengajak beberapa teman. Kak Indi dan Eka antusias ingin ikut. Kapal yang sudah deal kami tumpangi, menyanggupi akan mengantar ke Pulau dengan syarat berangkat pukul 06.30 pagi dari Dermaga Takalar Lama, agar bisa langsung pulang pada siang harinya. Jadi, kami harus berangkat dari Gowa sekitar pukul 05.30. Sayangnya, Kak Indi batal ikut karena tidak bisa jika harus berangkat sepagi itu.
Tiba-tiba malamnya, ada kabar
pembatalan sepihak. Katanya cuaca kurang bagus untuk menyebrang besok pagi,
jadi sekalian pekan depan saja. Saya mulai dongkol, menduga-duga banyak hal.
Cuaca buruk? Bukankah itu hal wajar di bulan Januari ini? Sekarang angin musim barat, pastilah gelombang laut agak mengerikan apalagi jika hujan turun. Menurut
prediksi cuaca, hingga pekan depan pun masih berpotensi hujan di wilayah Sulawesi Selatan. Jadi, tetap saja akan ada kemungkinan cuaca buruk hingga pekan depan.
Segera kuhubungi Kak Dian dan
memastikan kebenaran mengenai kabar pembatalan untuk ke pulau besok.
“Kenapa baru malam begini diinformasikan kalau tidak bisa berangkat, coba
dari tadi sore kita masih bisa cari kapal lain. Lagian juga kenapa bukan saya
yang langsung dihubungi kalau besok batal.” Keluh Kak Dian dengan nada kecewa.
“Iya kak, saya juga baru dikabari. Padahal tadi sudah ketemu kepala
sekolah dan memastikan akan berangkat hari Kamis besok.” suaraku mulai
memelas.
“Tadi juga sudah deal kalau bisaji pergi pagi-pagi dan pulang siangnya.
Kenapa tiba-tiba dibatalkan.”
"Pokoknya saya harus tetap berangkat besok pagi, Kak." saya
meyakinkan Kak Dian meski tetap saja kekhawatiranku jauh lebih besar.
"Iya, nanti saya coba cari info kapal dulu.” Kak Dian
menyanggupi.
Kami melanjutkan percakapan via WhatsApp.
“Seandainya bukan malam saya dapat info, saya cari memang alternatif lain.”
“Tapi biar bagaimana pun, saya harus usahakan berangkat besok pagi, Kak.”
Balasku.
“Kalau tidak dapat info malam ini, mungkin terpaksa minggu depan baru
bisa pergi. Soalnya kalau mau menginap kita tinggal di mana?"
“Besok hari pasar kan kak? Kapal penumpang kalau hari pasar biasanya
memang tidak ada yang berangkat siang atau sore dari pulau?”
“Itu juga informasinya saya tidak tahu.”
Masih ada kesempatan mencari
alternatif lain. Biar bagaimana pun harus dapat kapal pengganti. Beruntunglah
kak Dian mau membantu mencarikan kapal lain yang bisa kami tumpangi. Sayangnya
sampai tengah malam berchit-chat ria
dan mencari informasi melalui teman. Tetap saja hasilnya nihil, kami belum mendapatkan solusi dan
titik terang mengenai keberangkatan besok. Dan kabar buruknya lagi, Kak Dian
yang juga berencana menemaniku ke pulau, terpaksa harus mengurungkan niat karena
dia batal diliburkan, katanya besok tetap harus masuk kantor.
Informasi mengenai waktu keberangkatan
kapal ke pulau maupun sebaliknya masih abu-abu. Satu-satunya solusi paling
maksimal yang bisa kami usahakan agar perjalanan ke pulau tidak ditunda hingga
pekan depan yaitu besok pagi harus langsung ke dermaga dan bernegosiasi dengan pemilik kapal yang stay di dermaga. Kukabari Eka via BBM agar
membawa pakaian cadangan untuk berjaga-jaga jika kami tidak dapat kapal pulang.
Paginya saya terbangun dengan
kepala pening dan mata perih. Segera kucek
layar HP, 7 panggilan tak terjawab. Duh sudah pukul 05.50 pagi. Bagaimana tidak
telat kalau tidurnya sekitar pukul 2 dini hari. Aku melompat turun dan segera bergegas.
Eka sudah menunggu di depan rumah sejak
20 menit yang lalu. Kami berangkat pukul 06.10. Sekitar pukul 7 lewat kami tiba
di dermaga.
Cuaca hari ini sangat terik. Semoga
tidak hujan hingga kami kembali. Kak Dian mulai bernegosiasi dengan salah satu
pemilik kapal. Sedang saya dan Eka menuju warung makan untuk sarapan pagi. Kak
Dian mengabarkan bahwa charter kapal untuk pulang pergi harganya Rp 700.000, kalau mau lebih murah harus menunggu sampai
jam 12 dan berangkat bersama penumpang
lain sepulang dari pasar. Tapi kami tidak bisa menunggu sebab mengejar jam
sekolah. Akhirnya kami sepakat menyewa kapal. Si Dana, salah seorang teman yang
kami tunggu juga sudah tiba di dermaga.
![]() |
| Suasana di atas kapal saat perjalan pergi |
Kami
menuju kapal dan berangkat bertiga bersama
dua nakhkoda kapal. Kami tiba di dermaga Pulau Tanakeke Dusun Tompotanah setelah
menempuh perjalanan sekitar 45 menit. Sekolah yang kami tuju letaknya di dusun Dandedandere, itu berarti kami masih harus melanjutkan perjalanan selama 15 menit dengan kapal
yang lebih kecil karena air masih surut. Setibanya di Dusun Dandedandere kami berjalan
kaki sekitar 15 menit melewati empang dan sungai-sungai kecil berjembatan kayu.
Perjalanan pulang tak sedamai
perjalanan pergi. Belum sampai setengah perjalanan, gelombang laut mulai agak tinggi.
Saya menoleh memperhatikan ekspresi Eka dan Dana yang duduk di sebelah kanan kiriku.
Jelas sekali mereka berdua sangat panik. Mereka mulai mengeratkan genggaman
tangannya pada tiang kapal. Ombak menghantam
badan kapal, menghempas ke kiri dan kanan. Kami seperti sedang bermain wahana roller coaster.
![]() |
| Suasana di atas Kapal saat perjalanan pulang |
“Ibuuu Ibuuuu ibuuuuu ibuuuuu…” Eka mulai berteriak. Dana juga ikut berteriak
histeris karena ketakutan. Suara mereka tak kalah nyaring dengan suara hantaman
ombak yang mulai mengamuk. Posisi dudukku sudah bergeser karena kapal terus
terayun-ayun. Saya mulai khawatir, tetapi urung berteriak. Anehnya saya malah
tertawa melihat ekspresi Eka dan Dana yang masih histeris. Air laut sudah terpercik
masuk ke badan kapal.
“Asiiin.” Eka berkomentar sambil mengecap
saat air laut juga masuk ke mulutnya.
“Ya iyalah asin, kan air laut.” Jawabku spontan.
“Tidak adapi kelihatan daratan" dengan lirih Eka menyuarakan kekhawatirannya,
takut jika harus berlama-lama lagi dihantam
ombak.
“Dana, sempat merekam momen yang
tadi tidak?” Tanyaku saat kapal mulai agak tenang.
“Tidak. Takutka. Ini habismi suaraku berteriak.” Jawab Dana dengan
suara agak parau.
Akhirnya kami tiba juga di Dermaga
Takalar Lama dengan perasaan sangat lega. Hari yang sangat menyenangkan, tak
terkecuali pada bagian "histeris" di tengah lautan saat perjalanan pulang. Lihatlah, Januari dan Lautan tetap saja sulit diajak berdamai.
Jumat, 08 Januari 2016
Sabtu, 24 Oktober 2015
Pulang
![]() |
| Panciro, 13 Oktober 2015 |
Sabarlah, rumah sudah dekat.
Sepanjang perjalanan, aku terus mengingat-ingat percakapan terakhir kami dan pesan-pesannya. "Sering-seringlah datang ke sini" pintahnya sambil mengusap air di sudut matanya.
Sabarlah, rumah sudah dekat.
Aku semakin gusar. Perjalanan pulang kali ini tampak lebih panjang.
Sabarlah, rumah sudah dekat.
Matahari hampir terbenam. Aku berjalan lebih cepat. Beberapa orang berjalan beriringan menuju arah yang sama denganku.
Bendera putih terpasang tepat di depan rumah. Maaf, aku datang terlambat.
Lelaki yang tak asing menyambutku di pintu masuk, tanpa berkata-kata ia langsung merangkul dan menepuk-nepuk bahuku. Aku hanya diam kemudian berlalu masuk ke rumah.
Rumah sudah penuh sesak dengan orang-orang terdekat hingga yang tidak kukenali sama sekali. Isak tangis dari mereka tak lantas membuatku ikut menangis. Rasanya aku sudah kebal dengan kehilangan.
Langganan:
Postingan (Atom)






















