Senin, 13 Oktober 2014
Kamu dan Lampu Temaram
Jumat, 19 September 2014
Dia-lo-gue: Killing (Ti)me
Menjelang siang, di koridor belakang ruang perawatan, duduk manis sambil ngunyah apel.
Mr: Perawat ya?
Me: Bukan pak
Mr: Kerja di sini?
Me: Tidak, saya keluarga pasien.
Mr: Ooh, namanya siapa?
Me: Athifah
Mr: Athifah...Namanya cantik, kayak orangnya.
Me: *nyengir sambil ngunyah apel
Mr: Kuliah di mana?
Me: kuliah di FKM UNHAS, pak. Jurusan Manajemen Rumah Sakit.
Mr: Wah hebat dong. Sudah semester berapa?
Me: Saya sudah lulus.
Mr: Oh sudah wisuda ya? Berarti sudah sarjana.
Me: Iya sudah, wisudanya bulan 6 kemarin.
Mr: pasti wisudanya sama 'teman dekat' kan?
Me: wisudanya sama teman dekat? Saya punya banyak teman dekat. *pura-pura bego.
Mr: Maksudnya teman dekat yang spesial.
Me: oooh, kalau teman spesial, saya tidak punya *nyengir kalem sambil lanjutin ngunyah apel.
Mr: Biasanya orang yang punya teman spesial tapi bilangnya tidak ada, nanti ditinggalin karena perempuan lain loh.
Me: Tapi kalau memang tidak punya, tetap harus bilang tidak ada 'kan? *tragis nian kenyataan ini.
Mr: *lanjutin cerita tentang perempuan yang ditinggalin gara-gara tidak mau mengaku punya teman spesial
Me: Tapi saya memang tidak punya teman spesial! *dalam hati mulai sewot! Memangnya saya tampang tukang tipu ya? Ckck
Mr: Lahir tahun berapa?
Me: Tahun 93, pak.
Mr: Wisuda tahun ini kan? Tahun 2014? Berarti 21 tahun sudah sarjana? Sarjana kesehatan kan?
Me: iya pak lulus tahun 2014, sarjana kesehatan masyarakat.
Mr: sama dong dengan keluarga saya (sebutin seseorang). Dia juga sarjana kesehatan masyarakat. Tapi dia sudah lama lulus dan sekarang kerjanya di kementerian kesehatan.
Me: Wah bagus dong pak. Sudah dapat kerjaan, kalau saya masih pengangguran.
Mr: kalau sarjana kesehatan banyak dibutuhkan di desa-desa. Untuk peningkatan karir juga sebenarnya bagus kalau ambil penempatan di pelosok dulu, nanti setelah beberapa tahun baru minta pindah di tempat lain.
Me: Iya pak, bagus juga sih kerjanya di pelosok, lokasi-lokasi yang seperti itu biasanya butuh banyak lulusan kesehatan.
Mr: Tapi kalau perempuan kayak kamu kerjanya di desa, biasanya susah lagi pindah ke tempat lain.
Me: Kenapa pak?
Mr: kalau kerja di desa, kamu pasti dapatnya orang desa. Jadi harus menetap di sana.
Me: *please killing me, sir!*
Kamis, 11 September 2014
Rabu, 10 September 2014
Album Foto
Sabtu, 06 September 2014
#Monolog: Penolakan
Senin, 01 September 2014
Mengalah
Yeah, today is monday! Ini berarti sudah tepat sepekan saya berlagak seperti gadis pingitan. Di saat teman-teman sibuk bolak-balik kampus untuk mengurus ijazah dan berkas lamaran kerja, saya lebih asyik berdiam diri di rumah, istilah kerennya sih sedang menikmati masa transisi.Kamis, 21 Agustus 2014
Minggu, 10 Agustus 2014
Seperti Bulan Malam Ini
Selasa, 05 Agustus 2014
Syawal dan Target Masa Depan
Hmm, kalau sudah mikir masa depan kadang bikin greget sendiri, soalnya target ini itu pasti bakal menghantui satu per satu, mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa, seperti:Ini target paling hectic, soalnya sudah 10 tahun gak pernah balik ke rumah orang tua. Asli kangen bin penasaran sama kondisi di sana. Sabar ya, mama 'kan janjinya setelah ijazah keluar.
Kalau bahas soal kerjaan, pastilah sudah jadi tuntutan wajib setelah sarjana. Semuanya jadi ikut-ikutan sibuk, mulai dari nenek, mama, etta, tante, sampai adik. Mulai terasa deh tekanan sana sini.
Ini WAJIB pake banget! Tarbiyah, tahsin, atau masuk sekolah tahfidz! Belajar agama supaya lebih paham dan gak asal nyambar kiri kanan.
Nah, untuk yang satu ini, asli bikin galau. Kerja dulu deh baru lanjut kuliah. Lanjut kuliah aja dulu, mumpung masih muda. Atau maunya sih lanjutnya setelah nikah aja ya? Iya maunya gitu, kenyataannya bagaimana? Let's see the fact! hihi.
Yakin mau nikah muda? Suka was was juga kalau soal yang satu ini. Nikah emang target paling luar biasa! Ini sih sudah diniatin dari dulu, tapi setelah tahu kalau mama dan etta juga nikah muda (22 tahun), jadi tambah jedeeeer! Terinspirasi lebih dahsyat lagi buat nikah muda.












