Senin, 13 Oktober 2014

Puisi dari Tuan Pemurung

Hai Tuan Pemurung, aku masih menyimpan kertas-kertas puisimu. Aku masih suka membacanya. Aku ingat saat pertama kali kau mengajakku bicara dan memberikan puisi-puisimu. Waktu itu, aku meneriakimu pemurung di depan teman-teman sekelas karena tidak suka melihat sikapmu yang sangat pemurung. Dan kau sama sekali tidak meresponku, tetap diam dan bersikap dingin. Lalu, 'tak lama setelahnya kau mendatangiku dengan mimik yang lebih bersahabat. "Kau suka puisi 'kan? Ini, Bacalah!" Katamu sambil menyodorkan kertas-kertas ke tanganku, kumpulan puisimu. Sejak saat itu, aku lebih suka memanggilmu Tuan Puisi.

Teruntuk perempuan keras kepala:
Dari matamu, ada amarah yang menyala-nyala
Apa sebenci itu kau melihatku?
Tapi, 'tak ada peduliku dengan kebencianmu.
Pada matamu, tetap saja aku suka.

Kamu dan Lampu Temaram

Malam ini ada cahaya dari lampu temaram. 
Juga ada kamu, menemaniku menangisi gusar yang tersimpan sejak seharian.

"Ingatlah Tuhanmu disetiap saat, suka dan duka. Maka, hatimu akan lebih lapang." Katamu menenangkanku.

Dari pertemuan-pertemuan kita, aku belajar membersamai masaku dengan  syukur dan bahagia.

Jumat, 19 September 2014

Dia-lo-gue: Killing (Ti)me

Menjelang siang, di koridor belakang ruang perawatan, duduk manis sambil ngunyah apel.

Mr: Perawat ya?
Me: Bukan pak
Mr: Kerja di sini?
Me: Tidak, saya keluarga pasien.
Mr: Ooh, namanya siapa?
Me: Athifah
Mr: Athifah...Namanya cantik, kayak orangnya.
Me: *nyengir sambil ngunyah apel
Mr: Kuliah di mana?
Me: kuliah di FKM UNHAS, pak. Jurusan Manajemen Rumah Sakit.
Mr: Wah hebat dong. Sudah semester berapa?
Me: Saya sudah lulus.
Mr: Oh sudah wisuda ya? Berarti sudah sarjana.
Me: Iya sudah, wisudanya bulan 6 kemarin.
Mr: pasti wisudanya sama 'teman dekat' kan?
Me: wisudanya sama teman dekat? Saya punya banyak teman dekat. *pura-pura bego.
Mr: Maksudnya teman dekat yang spesial.
Me: oooh, kalau teman spesial, saya tidak punya *nyengir kalem sambil lanjutin ngunyah apel.
Mr: Biasanya orang yang punya teman spesial tapi bilangnya tidak ada, nanti ditinggalin karena perempuan lain loh.
Me: Tapi kalau memang tidak punya, tetap harus bilang tidak ada 'kan? *tragis nian kenyataan ini.
Mr: *lanjutin cerita tentang perempuan yang ditinggalin gara-gara tidak mau mengaku punya teman spesial
Me: Tapi saya memang tidak punya teman spesial! *dalam hati mulai sewot! Memangnya saya tampang tukang tipu ya? Ckck
Mr: Lahir tahun berapa?
Me: Tahun 93, pak.
Mr: Wisuda tahun ini kan? Tahun 2014? Berarti 21 tahun sudah sarjana? Sarjana kesehatan kan?
Me: iya pak lulus tahun 2014, sarjana kesehatan masyarakat.
Mr: sama dong dengan keluarga saya (sebutin seseorang). Dia juga sarjana kesehatan masyarakat. Tapi dia sudah lama lulus dan sekarang kerjanya di kementerian kesehatan.
Me: Wah bagus dong pak. Sudah dapat kerjaan, kalau saya masih pengangguran.
Mr: kalau sarjana kesehatan banyak dibutuhkan di desa-desa. Untuk peningkatan karir juga sebenarnya bagus kalau ambil penempatan di pelosok dulu, nanti setelah beberapa tahun baru minta pindah di tempat lain.
Me: Iya pak, bagus juga sih kerjanya di pelosok, lokasi-lokasi yang seperti itu biasanya butuh banyak lulusan kesehatan.
Mr: Tapi kalau perempuan kayak kamu kerjanya di desa, biasanya susah lagi pindah ke tempat lain.
Me: Kenapa pak?
Mr: kalau kerja di desa, kamu pasti dapatnya orang desa. Jadi harus menetap di sana.
Me: *please killing me, sir!*

Kamis, 11 September 2014

Hiduplah dalam Tulisan

Cepat atau lambat, dirimu akan pikun dengan apa-apa yang telah lewat. Untuk mengekang dan mengenang ingatanmu sendiri, hiduplah dalam tulisan yang sewaktu-waktu bisa membawamu kembali ke cerita yang pernah menguatkan hatimu.

Rabu, 10 September 2014

Album Foto

Saya ingat sekali foto-foto dalam album putih dan coklat yang terselip diantara buku-buku itu. Foto pernikahan orang tuaku dan foto masa kecilku. Waktu baru-baru pindah ke rumah ini, saya suka sekali membongkar-bongkar album foto. Dan menurutku itu adalah kebiasaan yang sangat menyenangkan. Bagian yang paling kusukai dari  melihat foto-foto adalah membayangkan dan mengingat momen saat foto itu diambil.

Hari ini, saya merasa penasaran untuk kembali membukanya. Foto-foto yang kulihat tetap sama, tapi ada hal berbeda yang kutangkap. Saya tidak hanya sebatas menikmati gambar-gambarnya tetapi juga bisa merasakan euforia kebahagiaan yang  dulunya tak pernah kusadari. Wajah gugup, senyum malu-malu, tawa lega, tangis haru, dan tatapan mata dengan binar bahagia. Kini aku paham, seperti inilah ekspresi sederhana dari cinta yang tidak sederhana.

Sabtu, 06 September 2014

#Monolog: Penolakan

Katanya, kau tak 'kan pernah memahami kegilaan seseorang yang jatuh cinta kepadamu jika kau 'tak mencintainya sama sekali. Itulah mengapa terkadang kau bisa menjadi orang paling jahat tanpa sadar. Dan bahkan menjadi sangat keterlaluan karena masih bisa tertawa di hadapan seseorang yang baru saja kau sakiti hatinya tanpa iba.

Senin, 01 September 2014

Mengalah

Hello wor(l)d... Curhat boleh 'kan? Hehe

Yeah, today is monday! Ini berarti sudah tepat sepekan saya berlagak seperti gadis pingitan. Di saat teman-teman sibuk bolak-balik kampus untuk mengurus ijazah dan berkas lamaran kerja, saya lebih asyik berdiam diri di rumah, istilah kerennya sih sedang menikmati masa transisi.

Nah, berhubung saya mulai gelisah dan merasa bosan berdiam diri, rencananya hari ini saya akan bersikap "normal". Sama seperti yang lainnya, berangkat ke kampus dengan semangat menggebu-gebu demi selembar kertas ajaib (baca: ijazah). Sayangnya, lagi-lagi saya harus mengalah dan memilih untuk tetap tinggal di rumah. 

Dulu ya, sebelum negara api menyerang, saya masih bisa keluyuran seenak hati. Tapi, seiring tanggung jawab sebagai anak manusia yang takut durhaka semakin meningkat, naluri bebas kelayapan  otomatis harus dijinakkan. 

Ah, tenanglah anak muda. Inilah masa-masa keemasan untuk belajar memprioritaskan orang lain!  Lagi pula, mementingkan dan memikirkan diri sendiri sama sekali bukan cara bertahan hidup yang membahagiakan 'kan?

Kelak kau akan tahu seberapa berharganya ketika seseorang rela mengorbankan kepentingan-kepentingan lainnya demi dirimu di saat kau betul-betul membutuhkannya. Maka, belajarlah mengalah untuk kebahagiaan orang lain.

Kamis, 21 Agustus 2014

Mengadulah Pada Tuhanmu

Kau bisa menahan air matamu dan berlagak menjadi  terbahagia di hadapan siapa pun. Tapi di hadapanNya, 'tak ada setitik rahasia pun yang bisa kau sembunyikan. 

Seindah-indahnya suka, seperih-perihnya duka, hanya padaNyalah sepantas-pantasnya tempat pengaduanmu. 

Minggu, 10 Agustus 2014

Seperti Bulan Malam Ini

Kau lihat bulan malam ini? 

Sangat menakjubkan 'kan?

Ini salah satu bulan terindah yang pernah kulihat. Ekstra Supermoon. Ia bernama bulan purnama perigee.

Disebut perigee karena purnama bertepatan saat bulan berada pada jarak terdekatnya dengan bumi, tepat di titik perigee.

Katanya akan ada purnama lagi di 9 September mendatang. Tapi bulan malam ini tetap paling indah, sangat dekat dan terang.

Seperti bulan malam ini.  Kelak kamu akan menjadi lelaki terdekatku. Menjadi bagian paling indah yang menerangi bumiku dan mengiringi jalanku menuju syurgaNya. 

Selasa, 05 Agustus 2014

Syawal dan Target Masa Depan

Ini sudah masuk syawal yang ke 21  semasa hidupku.  Alhamdulillah, kuliah bisa terselesaikan di tahun ini meskipun  terlambat 3 bulan dari target. 

Dan setelah sarjana, apa lagi? 

Hmm, kalau sudah mikir masa depan kadang bikin greget sendiri, soalnya target ini itu pasti bakal menghantui satu per satu, mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa, seperti:
1. Pulang kampung
Ini target paling hectic, soalnya sudah 10 tahun gak pernah balik ke rumah orang tua. Asli kangen bin penasaran sama kondisi di sana. Sabar ya, mama 'kan janjinya setelah ijazah keluar.

2. Dapat kerjaan tetap
Kalau bahas soal kerjaan, pastilah sudah jadi tuntutan wajib setelah sarjana. Semuanya jadi ikut-ikutan sibuk, mulai dari nenek, mama, etta, tante, sampai adik. Mulai terasa deh tekanan sana sini.
"Kakak Nurul, mauki lamar kerja? Mau jadi guru TK?" tanya adikku yang umurnya baru 12 tahun.
"Iya bisa-bisa, saya jadi guru TK, yang penting disediakan kotak banyak-banyak! Jadi kalau anak-anaknya nangis semua, tinggal dimasukin ke kotak terus dikirim ke rumahnya." Balasku dengan candaan, karena ngebayangin rewelnya anak-anak balita. Ah kenapa coba dia pikir saya mau jadi guru TK?
"Kan pernahji toh ikut kelas inspirasi? Atau bisa juga jadi guru PAUD. Baru ditinggal sama mamanya sudah nangis-nangis!" Balasnya sambil tertawa.
"Ih, kelas inspirasi kan anak SD yang diajar, bukan anak TK. Dan saya tidak mengajar di kelas inspirasi".

Kalau ngobrolin soal pekerjaan, semuanya jadi kreatif sarankan ini itu, tapi saran yang paling mainstream sih daftar PNS. Kalau saya, maunya kerjaan yang gak jauh-jauh dari bidang kesehatan dan pemberdayaan. Pokoknya coba lamar sana sini saja dulu, dapatnya yang mana, itu urusan belakangan, yang penting halal dan bikin betah.

3. Lebih fokus belajar agama
Ini WAJIB pake banget! Tarbiyah, tahsin, atau masuk sekolah tahfidz! Belajar agama supaya lebih paham dan gak asal nyambar kiri kanan.
Suka malu-malu sendiri juga, sudah 21 tahun tapi agamanya masih bawah standar.
Dan biasanya suka bikin jleb kalau lagi ngobrol tentang apapun sama adik terus ditanya balik, "emang itu ada di al-qur'an? Ada dalilnya? Dibolehkan dalam agama? Hukumnya bagaimana? Bla bla bla".
Apalagi kalau ditanya sama Etta, "Bagaimana ngajinya? Sudah khatam berapa kali?". Ini sih bukan soal banyak-banyakin khatam qur'an, tapi sudah bener gak ngajinya? Sudah sesuai tartil?.
Dan semuanya direspon dengan nyengir kuda atau diam seribu bahasa! Kentara banget 'kan bloonnya kalau soal agama? Hiks :'(
Itu baru pertanyaan dari keluarga, terus bagaimana kelak jawab pertanyaan dan pertanggungjawaban sama Allah?
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Ya Rabb, ya Rahman ya Rahim,mudahkanlah.
Do'akan ya semoga saya bisa kejar target ini semaksimal mungkin.

4. Lanjut kuliah, apply beasiswa dalam/luar negeri
Nah, untuk yang satu ini, asli bikin galau. Kerja dulu deh baru lanjut kuliah. Lanjut kuliah aja dulu, mumpung masih muda. Atau maunya sih lanjutnya setelah nikah aja ya? Iya maunya gitu, kenyataannya bagaimana? Let's see the fact! hihi.

5. Nikah muda
Yakin mau nikah muda? Suka was was juga kalau soal yang satu ini. Nikah emang target paling luar biasa! Ini sih sudah diniatin dari dulu, tapi setelah tahu kalau mama dan etta juga nikah muda (22 tahun), jadi tambah jedeeeer! Terinspirasi lebih dahsyat lagi buat nikah muda.
Nah! Sudah hampir deadline, tapi belum dapat jodohnya . Mungkin karena masih suka labil dan belum pantas kali ya? hehe.
Kita bisa menyusun banyak rencana, tapi Allah tentu lebih tahu apa yang terbaik buat kita kan? *menghibur diri ^^
Jadi, kita maksimalkan saja dulu do'a dan usahanya. Kalau belum terealisasi sesuai target, mungkin kita terlalu banyak berangan-angan tapi usahanya sedikit, atau ada hal yang lebih baik yang Allah takdirkan untuk kita. Pokoknya kejar dan perjuangkan semuanya! Jangan menyerah dan terus libatkan Allah dalam semua rencana kita, tanpaNya kita tidak ada apa-apanya, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Apabila Allah menghendaki suatu urusan, maka Dia cukup mengatakan 'Jadilah!' Lalu jadilah ia" 
(QS Al-Imran:47)

Semangat berjuang! InsyaAllah dapat hadiah terbaik.