Senin, 01 September 2014

Mengalah

Hello wor(l)d... Curhat boleh 'kan? Hehe

Yeah, today is monday! Ini berarti sudah tepat sepekan saya berlagak seperti gadis pingitan. Di saat teman-teman sibuk bolak-balik kampus untuk mengurus ijazah dan berkas lamaran kerja, saya lebih asyik berdiam diri di rumah, istilah kerennya sih sedang menikmati masa transisi.

Nah, berhubung saya mulai gelisah dan merasa bosan berdiam diri, rencananya hari ini saya akan bersikap "normal". Sama seperti yang lainnya, berangkat ke kampus dengan semangat menggebu-gebu demi selembar kertas ajaib (baca: ijazah). Sayangnya, lagi-lagi saya harus mengalah dan memilih untuk tetap tinggal di rumah. 

Dulu ya, sebelum negara api menyerang, saya masih bisa keluyuran seenak hati. Tapi, seiring tanggung jawab sebagai anak manusia yang takut durhaka semakin meningkat, naluri bebas kelayapan  otomatis harus dijinakkan. 

Ah, tenanglah anak muda. Inilah masa-masa keemasan untuk belajar memprioritaskan orang lain!  Lagi pula, mementingkan dan memikirkan diri sendiri sama sekali bukan cara bertahan hidup yang membahagiakan 'kan?

Kelak kau akan tahu seberapa berharganya ketika seseorang rela mengorbankan kepentingan-kepentingan lainnya demi dirimu di saat kau betul-betul membutuhkannya. Maka, belajarlah mengalah untuk kebahagiaan orang lain.

Kamis, 21 Agustus 2014

Mengadulah Pada Tuhanmu

Kau bisa menahan air matamu dan berlagak menjadi  terbahagia di hadapan siapa pun. Tapi di hadapanNya, 'tak ada setitik rahasia pun yang bisa kau sembunyikan. 

Seindah-indahnya suka, seperih-perihnya duka, hanya padaNyalah sepantas-pantasnya tempat pengaduanmu. 

Minggu, 10 Agustus 2014

Seperti Bulan Malam Ini

Kau lihat bulan malam ini? 

Sangat menakjubkan 'kan?

Ini salah satu bulan terindah yang pernah kulihat. Ekstra Supermoon. Ia bernama bulan purnama perigee.

Disebut perigee karena purnama bertepatan saat bulan berada pada jarak terdekatnya dengan bumi, tepat di titik perigee.

Katanya akan ada purnama lagi di 9 September mendatang. Tapi bulan malam ini tetap paling indah, sangat dekat dan terang.

Seperti bulan malam ini.  Kelak kamu akan menjadi lelaki terdekatku. Menjadi bagian paling indah yang menerangi bumiku dan mengiringi jalanku menuju syurgaNya. 

Selasa, 05 Agustus 2014

Syawal dan Target Masa Depan

Ini sudah masuk syawal yang ke 21  semasa hidupku.  Alhamdulillah, kuliah bisa terselesaikan di tahun ini meskipun  terlambat 3 bulan dari target. 

Dan setelah sarjana, apa lagi? 

Hmm, kalau sudah mikir masa depan kadang bikin greget sendiri, soalnya target ini itu pasti bakal menghantui satu per satu, mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa, seperti:
1. Pulang kampung
Ini target paling hectic, soalnya sudah 10 tahun gak pernah balik ke rumah orang tua. Asli kangen bin penasaran sama kondisi di sana. Sabar ya, mama 'kan janjinya setelah ijazah keluar.

2. Dapat kerjaan tetap
Kalau bahas soal kerjaan, pastilah sudah jadi tuntutan wajib setelah sarjana. Semuanya jadi ikut-ikutan sibuk, mulai dari nenek, mama, etta, tante, sampai adik. Mulai terasa deh tekanan sana sini.
"Kakak Nurul, mauki lamar kerja? Mau jadi guru TK?" tanya adikku yang umurnya baru 12 tahun.
"Iya bisa-bisa, saya jadi guru TK, yang penting disediakan kotak banyak-banyak! Jadi kalau anak-anaknya nangis semua, tinggal dimasukin ke kotak terus dikirim ke rumahnya." Balasku dengan candaan, karena ngebayangin rewelnya anak-anak balita. Ah kenapa coba dia pikir saya mau jadi guru TK?
"Kan pernahji toh ikut kelas inspirasi? Atau bisa juga jadi guru PAUD. Baru ditinggal sama mamanya sudah nangis-nangis!" Balasnya sambil tertawa.
"Ih, kelas inspirasi kan anak SD yang diajar, bukan anak TK. Dan saya tidak mengajar di kelas inspirasi".

Kalau ngobrolin soal pekerjaan, semuanya jadi kreatif sarankan ini itu, tapi saran yang paling mainstream sih daftar PNS. Kalau saya, maunya kerjaan yang gak jauh-jauh dari bidang kesehatan dan pemberdayaan. Pokoknya coba lamar sana sini saja dulu, dapatnya yang mana, itu urusan belakangan, yang penting halal dan bikin betah.

3. Lebih fokus belajar agama
Ini WAJIB pake banget! Tarbiyah, tahsin, atau masuk sekolah tahfidz! Belajar agama supaya lebih paham dan gak asal nyambar kiri kanan.
Suka malu-malu sendiri juga, sudah 21 tahun tapi agamanya masih bawah standar.
Dan biasanya suka bikin jleb kalau lagi ngobrol tentang apapun sama adik terus ditanya balik, "emang itu ada di al-qur'an? Ada dalilnya? Dibolehkan dalam agama? Hukumnya bagaimana? Bla bla bla".
Apalagi kalau ditanya sama Etta, "Bagaimana ngajinya? Sudah khatam berapa kali?". Ini sih bukan soal banyak-banyakin khatam qur'an, tapi sudah bener gak ngajinya? Sudah sesuai tartil?.
Dan semuanya direspon dengan nyengir kuda atau diam seribu bahasa! Kentara banget 'kan bloonnya kalau soal agama? Hiks :'(
Itu baru pertanyaan dari keluarga, terus bagaimana kelak jawab pertanyaan dan pertanggungjawaban sama Allah?
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Ya Rabb, ya Rahman ya Rahim,mudahkanlah.
Do'akan ya semoga saya bisa kejar target ini semaksimal mungkin.

4. Lanjut kuliah, apply beasiswa dalam/luar negeri
Nah, untuk yang satu ini, asli bikin galau. Kerja dulu deh baru lanjut kuliah. Lanjut kuliah aja dulu, mumpung masih muda. Atau maunya sih lanjutnya setelah nikah aja ya? Iya maunya gitu, kenyataannya bagaimana? Let's see the fact! hihi.

5. Nikah muda
Yakin mau nikah muda? Suka was was juga kalau soal yang satu ini. Nikah emang target paling luar biasa! Ini sih sudah diniatin dari dulu, tapi setelah tahu kalau mama dan etta juga nikah muda (22 tahun), jadi tambah jedeeeer! Terinspirasi lebih dahsyat lagi buat nikah muda.
Nah! Sudah hampir deadline, tapi belum dapat jodohnya . Mungkin karena masih suka labil dan belum pantas kali ya? hehe.
Kita bisa menyusun banyak rencana, tapi Allah tentu lebih tahu apa yang terbaik buat kita kan? *menghibur diri ^^
Jadi, kita maksimalkan saja dulu do'a dan usahanya. Kalau belum terealisasi sesuai target, mungkin kita terlalu banyak berangan-angan tapi usahanya sedikit, atau ada hal yang lebih baik yang Allah takdirkan untuk kita. Pokoknya kejar dan perjuangkan semuanya! Jangan menyerah dan terus libatkan Allah dalam semua rencana kita, tanpaNya kita tidak ada apa-apanya, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Apabila Allah menghendaki suatu urusan, maka Dia cukup mengatakan 'Jadilah!' Lalu jadilah ia" 
(QS Al-Imran:47)

Semangat berjuang! InsyaAllah dapat hadiah terbaik.

Minggu, 27 Juli 2014

Kita Saling Melengkapi

Aku, kamu, atau siapa pun. Kita tidak pernah tahu pasti saling apa yang akan menautkan perasaan kita?

Apakah saling mengagumi? Saling mempercayai? Atau bahkan saling mencurigai?

Kita betul-betul tidak bisa memastikannya dengan tepat.

Satu hal yang akan kupastikan: pada akhirnya, kita saling melengkapi.

Seperti tautan simpul temali yang terikat pada ujung-ujung ayunan di sisi kiri dan kanan. Saling melengkapi. Yang menjadikannya selalu berayun beriringan dengan seimbang, meski berada pada dua sisi yang berbeda.

Rabu, 16 Juli 2014

Cinta itu Takdir

Seperti takdir, cinta selalu penuh kejutan...

Mungkin kita perlu belajar mengalah dengan perasaan kita sendiri. Menerima skenarioNya dengan bahagia meski terkadang tak sesuai yang kita harapkan. Bukankah menerima cinta yang dipilihkanNya dengan ikhlas adalah kesyukuran paling indah?

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu.."(QS Al Baqarah:216)

Terkadang cinta memang semenjengkelkan ini. Tapi semoga saja pilihan kita tidak melukai siapa pun. Kelak kita akan terbiasa, sebab di sini, cinta akan terus hidup untuk mengagungkan namaNya. 

Allah 'Azza Wa Jalla berfirman, "Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan para Syuhada" (HR At-Tirmidzi dari Muadz Ibn Jabal)

Penerimaan yang ikhlas tak hanya sebatas membuka hati pada yang kau sukai tapi juga menundukkan hati pada yang tak kau sukai. Selamat menerima takdir! Semoga Allah menguatkan kita.

Maha besar Allah dengan segala takdir dan cinta yang dirahasiakanNya...

Minggu, 13 Juli 2014

Disakiti Prasangka

Apa pernah kau melihat pada mata lelaki yang berani melirikmu diam-diam?
Lalu ia tertunduk malu, membuang wajahnya pada balas tatapmu yang sinis.
Ia nelangsa menyimpan kecewa di benaknya, "Aku mencintai gadis yang pada matanya pun aku tidak berarti sama sekali, apalagi di hatinya?"
Tidakkah ia tahu, gadis yang menatapnya sinis pun terlampau kalut, sebab mata elang yang dikaguminya telah menikam hatinya dalam-dalam.
Ah, prasangka selalu bisa menyakiti  seperti ini.

Selasa, 08 Juli 2014

Menjaga Diri dan Menepati Janji

"Saya membaca buku 'Agar Bidadari Cemburu Padamu'... tiba-tiba saya kok ingat dua orang teman." Pesan ini kukirim via line ke salah seorang teman yang teringat.

"Kenapa, Nurul?" Balasan singkat masuk setelah dua jam berlalu.

"Saya ingat kamu dan fulan saat membaca kutipan ini:  Berkomitmen untuk tidak berpacaran."
Dia mulai paham ke mana arah pembicaraan ini.

"Lucu saja, kalian sama-sama temanku. Saya tahu ilmunya bagaimana seharusnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Tapi tetaaaaaap saja saya susah untuk hadapi kenyataan. Saya tidak berani mengomentari sikapnya kalian dari dulu". Saya menyesal membalasnya seperti ini, tapi ini membuatku lebih legah. Pasalnya saya selalu merasa bersalah karena menjadi teman yang pengecut. 

"Iya, saya akui dari awal kita berdua salah. Kita sama-sama berusaha hentikan, tapi perlu proses untuk sampai ke situ." Dengan besar hati, dia merespon teror beruntunku dengan penyesalan yang sangat besar. 

Terimakasih masih mau menyikapiku dengan baik. Semoga kita bisa tegas dan komitmen untuk menepati janji.

Hal ini selalu membuatku teringat tentang percakapan-percakapan kita dulu tentang pacaran dan perilaku menjerumuskan yang sangat dikhawatirkan akan merusak perempuan lemah seperti kita. Apa kau juga masih mengingatnya?

Mungkin aku perlu mengingatkannya...

Waktu itu, pagi hari di tengah barisan anak-anak ingusan berseragam putih biru, seorang teman membisikiku tentang nasihat ayahnya, "perempuan tidak boleh sembarang salaman/bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ini ada haditsnya." katamu dengan sangat serius.

Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas, lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR.Thabrani, dalam Mu’jamul Kabir)

Sejak saat itu, kita takut menyentuh dan menyalami teman laki-laki yang bukan mahram. 

Di lain waktu, pembahasan kita masih sama, tentang interaksi dengan lawan jenis. Kali ini, kau membocorkan tentang pesan ibumu. "Perempuan itu seperti telur yang sangat rapuh, sekali pecah, ia tidak akan pernah bisa kembali utuh seperti sebelumnya. Makanya, kita harus bisa menjaga diri, jangan mau dirusak sama laki-laki tidak baik yang mengajak pacaran."

Sejak saat itu, kita berjanji tidak akan pernah mau pacaran, apa pun yang terjadi.

Lalu, menjelang Ujian Nasional SMP. Saat asyik mengerjakan soal–soal prediksi,  tiba-tiba pembicaraan kita beralih ke soal perasaan yang lagi ngetrend di kalangan ABG seperti kita. "Kau mau tahu cara mengendalikan perasaanmu saat menyukai seseorang? Intinya supaya kita tidak terjerumus dalam pacaran". Dengan sangat bersemangat kamu mengulang pesan dari buku yang kau pegang.

"Bagaimana caranya?" Aku berhenti mengerjakan soal matematika dan mengalihkan fokusku, siap menyimak jawaban pamungkasmu.

"Kau tahu kan, kenapa kita bisa menyukai seseorang? Pasti karena kebaikannya kan? Nah, kita selalu punya kebaikan dan keburukan. Untuk mengendalikan perasaanmu, kau tidak boleh mengingat terus hal baik yang membuatmu menyukainya, tapi sesekali ingatlah keburukannya. Setidaknya itu akan membuatmu lebih rasional."

"Apabila kamu kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!" (Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu)

Sejak saat itu, kita berkomitmen mengendalikan hati agar tidak mudah jatuh cinta dengan siapa pun. 

Terimakasih telah menjadi orang pertama yang mengingatkanku tentang ini.
Terimakasih telah menjadi orang pertama yang meracuniku dengan pesan-pesan ini.
Terimakasih telah menjadi orang pertama yang membuatku menjadi 'orang asing', memilih bersikap beda dari teman-teman yang lain.

Senin, 16 Juni 2014

Dia-lo-gue: The reason for being single

Di tengah keasyikan mengoreksi tulisan, tiba-tiba salah seorang siswi kelas 4 SD menanyakan hal yang menurutku sangat tidak penting dalam sebuah forum kelas menulis seperti ini. Aku menyebutnya perbincangan out of the topic dengan pertanyaan ter-KEPO sejagat raya, "Kak, punyaki pacar?"


Aku mengambil jeda, lalu mengumpan balik dengan pertanyaan, "Menurut kamu?"


"Pasti punya toh kak?" Dia menjawab dengan suara sedikit memelan.


Sebelum sempat meresponnya, anak yang di hadapanku menimpali lebih dulu, "Hah? tidak mungkin! Pasti tidak ada toh kak?" Dia menanggapi dengan ekspresi heran dan nada suara yang lebih tinggi. Dia berusaha meyakinkan temannya bahwa percayalah pendapatmu salah.


Aku berusaha menahan tawa melihat mereka beradu pendapat tentang ada atau tidaknya pacarku. Mereka terlalu jauh memikirkan hal seperti ini. Ah, di masaku dulu, kami belum memusingi perihal 'pacaran', kami masih asyik dengan permainan lompat tali, bongkar pasang dan hal sejenisnya.


"Kenapa menurutmu tidak ada?" Aku lanjut bertanya. Aku betul-betul penasaran dengan alasan dibalik pernyataannya yang sangat tepat.


"Pasti kita' bukanki orang yang mau cari jodoh sembarangan..." Dia berhenti sejenak, mengamati ekspresiku dan memastikan aku setuju dengannya. Kemudian, dia melanjutkannya, "Pasti tidak mauki kalau bukan sama orang yang langsung datang melamar toh kak?" dia menjawab tegas dengan intonasi suara khas orang Makassar. Nada bicaranya berhasil meyakinkan teman-temannya yang ikut menyimak.


"Kalau begitu, nanti saya yang bawa erang-erangnya kalau menikahki kak." Anak yang tadi menganggapku memiliki pacar, dengan senyum lebar dia bergurau dan berakting menekuk lengannya, seolah-seolah sedang membawa sesuatu.


Aku tertawa lepas mendengar perbincangan polos anak-anak itu. Betul-betul mengherankan, darimana anak seumuran mereka memahami hal seperti ini?


Perihal yang satu ini, sebelumnya pun saya pernah mendapatkan pertanyaan yang sama. Hanya saja yang menanyakannya bukan lagi anak perempuan berumur 10 tahun yang 'bahasa ibunya' sama denganku, melainkan seorang lelaki 'asing' berumur 23 tahun. Diakhir perbincangan kami tentang Indonesia dan negerinya, tiba-tiba dia mempertanyakan hal yang sedikit mengejutkan, "Do you have a boyfriend?"


Aku memutar otak sebelum menanggapinya, harus memulai dari mana aku menjelaskan jawabanku.


"No, I don't have a boyfriend"


"Really? Don't you have a boyfriend?" Seperti yang kuduga, dia terkejut mendengar jawabanku.


"Yes, of course. I never wanted to have a boyfriend." Aku berusaha meyakinkannya.


"Why?" Dia masih heran dan tidak mengerti alasan dari jawabanku.


"Because I just wanna have one special man in my life and that's just the man who will be my husband." Aku menyederhanakan alasanku.


"Oh, that's good. But every man and woman that I have known in Makassar, most of them have couple. They have girlfriend or boyfriend." Dia mulai mengerti, tapi dia tidak memahami alasan yang lebih tepat.


Lagi-lagi ini menyangkut prinsip dan nilai 'kepercayaan' yang mengakar batin. Ini sedikit rumit untuk menjelaskannya secara detail kepada seseorang yang notabene belum memahami landasan dasar kenapa aku memutuskan memilih tidak memiliki pasangan spesial (pacar) selain seseorang yang menjadi suamiku. Ini soal keyakinan dan harga diri. 

Aku mulai memikirkan alasan sederhana yang bisa membuatnya paham dan tidak seheran ini. Betapa pandangan mengenai nilai dan prinsip betul-betul berbeda antara kita di Timur dengan mereka yang di Barat. Pertanyaan boleh sama, namun saat kau menjawab 'ya' untuk orang yang memahami nilai dan prinsipmu tetap saja akan sama mengherankannya saat kau menjawab 'tidak' untuk orang yang memiliki nilai dan pemahaman yang berbeda.
 

~Menjadi single itu pilihan. Pilihan cerdas untuk orang yang tahu cara menjaga dirinya dan menghargai orang yang kelak menjadi pasangannya.~

Senin, 05 Mei 2014

Untuk Bahagia, Luangkanlah Waktumu Bersama Mereka

Time flies, sabtu kembali datang. Di saat kami merasa lebih nyaman menikmati akhir pekan bersama keluarga, selalu ada alasan yang membuatku memilih meninggalkan zona nyaman dengan perasaan bahagia, tanggung jawab misalnya.

3 Mei 2014, pertemuan ketiga #NulisBarengSobatku untuk kelas IV-B di SDN Sungguminasa IV. Kelas dimulai pukul 11.30 WITA. Anak-anak kuarahkan untuk berhitung dan membagi mereka menjadi tiga kelompok. Kak Dhila mendampingi kelompok 1, Kak Thya mendampingi kelompok 2, dan saya sendiri mendampingi kelompok 3. 

Apa yang kami lakukan di setiap kelompok? Mengoreksi kesalahan umum dalam tulisan: penggunaan tanda baca, imbuhan, huruf besar/ kecil, kekurangan/ kelebihan huruf atau okkots, dan penulisan kata baku.

Berhubung ada beberapa anak yang tidak membawa buku tulisnya karena alasan lupa, jadilah saya berinisiatif memeriksa beberapa tulisan yang ada saja dengan meminta semua anak menyimak penjelasan beberapa kesalahan yang saya koreksi dari tulisan temannya.

"Untuk kata pada awal kalimat, diawali dengan huruf apa?" Tanyaku membuka sesi belajar hari ini.
 
"Huruf besar/ kapital" beberapa anak menjawab.

"Jadi, 'ibu' diganti 'Ibu', huruf 'I' harus kapital." Aku menjelaskan sambil menunjukkan tulisan yang dikoreksi.

Kesalahan umum dalam penulisan huruf besar/ kecil ialah masih sering menuliskan huruf kecil di awal kalimat/ setelah tanda titik ".", huruf besar di tengah kalimat, dan huruf kecil pada awal nama orang.

Selain kesalahan huruf kecil/besar, anak-anak juga kadang keliru dalam penulisan kata baku, seperti kata "pakai" ditulis "pake". Kesalahan ini biasanya disebabkan karena kebiasaan dalam pengucapan/ lisan, kata "pakai" terkadang diucapkan menjadi "pake".


"Nasehat atau nasihat? Kata mana yang lebih baku?" Umpanku saat melihat kata "nasehat" dalam tulisan salah seorang anak.

Banyak dari mereka memilih "nasehat" karena lebih lazim digunakan, namun kenyataannya menurut KBBI, saat kita mencari kata "nasehat" maka akan diarahkan untuk mengecek kata "nasihat". Itu artinya, kata yang baku adalah nasihat.

Penambahan imbuhan pada kata dasar. Kata "celeng", sinonim "tabung", saat mendapatkan awalan "men" maka akan menjadi "menceleng" bukan "menyeleng". Awal kata yang bisa melebur menjadi "ny" saat mendapatkan imbuhan "men" ialah hanya kata yang diawali huruf "S". Contoh: men + sapu = menyapu
 
Penggunaan tanda baca pada kalimat, "Kata ibu guru kalau ..."
Sebaiknya setelah kata guru diberikan tanda koma ",". Kalau dibaca tanpa tanda koma, bisa saja orang mengira ibu gurunya bernama kalau. 

Dan yang terakhir adalah penulisan kata ganti orang. Beberapa anak masih keliru dalam menuliskan kata ganti, namun ada anak yang sudah benar dalam menuliskannya yaitu menyambungnya dengan kata sebelum/ sesudahnya, contoh: "kupakai" dan "pakaianku".

Hari ini, suasana kelas sangat riuh, beberapa anak yang susah diatur dan tidak membawa bukunya memilih berkeliaran dan mengganggu temannya yang lain. Hal ini membuat kami sangat kewalahan. Namun, ada juga yang asyik memperhatikan tulisan temannya yang dikoreksi dan bahkan berinisiatif membuat tulisan baru setelah tahu kesalahannya.

Sebelum pulang, kami berfoto bersama lalu mengingatkan anak-anak untuk tetap menulis dan membawa bukunya di pertemuan berikutnya.

Sesi penutupan, semua anak bergantian menjabat tangan kami. Beberapa anak yang mendekatiku bertanya,

"Kak, kenapa cuma datang dua pekan sekali?" Ucap seorang anak dengan nada kecewa.

"Iya kak, kenapa dua pekan depanpi lagi baru datangki?" teman disampingnya menimpali.

Ternyata, mereka merindukan kedatangan kami. Waktu yang kami luangkan masih belum cukup bagi mereka.

Terima kasih untuk skenario indah ini. Menjebak kami dalam lingkaran "bahagia" yang tak habis-habisnya, membuat kami mensyukuri  waktu luang yang  Engkau berikan untuk pertemuan singkat ini.

Terima kasih juga untuk teman-teman relawan yang notabene sangat sibuk dengan urusan masing-masing tetapi tetap mau meluangkan waktunya dua jam setiap dua pekan untuk mengajar secara sukarela. Semoga pengorbanan dan usaha kita membuahkan hasil yang manis.