Rabu, 16 Juli 2014

Cinta itu Takdir

Seperti takdir, cinta selalu penuh kejutan...

Mungkin kita perlu belajar mengalah dengan perasaan kita sendiri. Menerima skenarioNya dengan bahagia meski terkadang tak sesuai yang kita harapkan. Bukankah menerima cinta yang dipilihkanNya dengan ikhlas adalah kesyukuran paling indah?

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu.."(QS Al Baqarah:216)

Terkadang cinta memang semenjengkelkan ini. Tapi semoga saja pilihan kita tidak melukai siapa pun. Kelak kita akan terbiasa, sebab di sini, cinta akan terus hidup untuk mengagungkan namaNya. 

Allah 'Azza Wa Jalla berfirman, "Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan para Syuhada" (HR At-Tirmidzi dari Muadz Ibn Jabal)

Penerimaan yang ikhlas tak hanya sebatas membuka hati pada yang kau sukai tapi juga menundukkan hati pada yang tak kau sukai. Selamat menerima takdir! Semoga Allah menguatkan kita.

Maha besar Allah dengan segala takdir dan cinta yang dirahasiakanNya...

Minggu, 13 Juli 2014

Disakiti Prasangka

Apa pernah kau melihat pada mata lelaki yang berani melirikmu diam-diam?
Lalu ia tertunduk malu, membuang wajahnya pada balas tatapmu yang sinis.
Ia nelangsa menyimpan kecewa di benaknya, "Aku mencintai gadis yang pada matanya pun aku tidak berarti sama sekali, apalagi di hatinya?"
Tidakkah ia tahu, gadis yang menatapnya sinis pun terlampau kalut, sebab mata elang yang dikaguminya telah menikam hatinya dalam-dalam.
Ah, prasangka selalu bisa menyakiti  seperti ini.

Selasa, 08 Juli 2014

Menjaga Diri dan Menepati Janji

"Saya membaca buku 'Agar Bidadari Cemburu Padamu'... tiba-tiba saya kok ingat dua orang teman." Pesan ini kukirim via line ke salah seorang teman yang teringat.

"Kenapa, Nurul?" Balasan singkat masuk setelah dua jam berlalu.

"Saya ingat kamu dan fulan saat membaca kutipan ini:  Berkomitmen untuk tidak berpacaran."
Dia mulai paham ke mana arah pembicaraan ini.

"Lucu saja, kalian sama-sama temanku. Saya tahu ilmunya bagaimana seharusnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Tapi tetaaaaaap saja saya susah untuk hadapi kenyataan. Saya tidak berani mengomentari sikapnya kalian dari dulu". Saya menyesal membalasnya seperti ini, tapi ini membuatku lebih legah. Pasalnya saya selalu merasa bersalah karena menjadi teman yang pengecut. 

"Iya, saya akui dari awal kita berdua salah. Kita sama-sama berusaha hentikan, tapi perlu proses untuk sampai ke situ." Dengan besar hati, dia merespon teror beruntunku dengan penyesalan yang sangat besar. 

Terimakasih masih mau menyikapiku dengan baik. Semoga kita bisa tegas dan komitmen untuk menepati janji.

Hal ini selalu membuatku teringat tentang percakapan-percakapan kita dulu tentang pacaran dan perilaku menjerumuskan yang sangat dikhawatirkan akan merusak perempuan lemah seperti kita. Apa kau juga masih mengingatnya?

Mungkin aku perlu mengingatkannya...

Waktu itu, pagi hari di tengah barisan anak-anak ingusan berseragam putih biru, seorang teman membisikiku tentang nasihat ayahnya, "perempuan tidak boleh sembarang salaman/bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ini ada haditsnya." katamu dengan sangat serius.

Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas, lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR.Thabrani, dalam Mu’jamul Kabir)

Sejak saat itu, kita takut menyentuh dan menyalami teman laki-laki yang bukan mahram. 

Di lain waktu, pembahasan kita masih sama, tentang interaksi dengan lawan jenis. Kali ini, kau membocorkan tentang pesan ibumu. "Perempuan itu seperti telur yang sangat rapuh, sekali pecah, ia tidak akan pernah bisa kembali utuh seperti sebelumnya. Makanya, kita harus bisa menjaga diri, jangan mau dirusak sama laki-laki tidak baik yang mengajak pacaran."

Sejak saat itu, kita berjanji tidak akan pernah mau pacaran, apa pun yang terjadi.

Lalu, menjelang Ujian Nasional SMP. Saat asyik mengerjakan soal–soal prediksi,  tiba-tiba pembicaraan kita beralih ke soal perasaan yang lagi ngetrend di kalangan ABG seperti kita. "Kau mau tahu cara mengendalikan perasaanmu saat menyukai seseorang? Intinya supaya kita tidak terjerumus dalam pacaran". Dengan sangat bersemangat kamu mengulang pesan dari buku yang kau pegang.

"Bagaimana caranya?" Aku berhenti mengerjakan soal matematika dan mengalihkan fokusku, siap menyimak jawaban pamungkasmu.

"Kau tahu kan, kenapa kita bisa menyukai seseorang? Pasti karena kebaikannya kan? Nah, kita selalu punya kebaikan dan keburukan. Untuk mengendalikan perasaanmu, kau tidak boleh mengingat terus hal baik yang membuatmu menyukainya, tapi sesekali ingatlah keburukannya. Setidaknya itu akan membuatmu lebih rasional."

"Apabila kamu kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!" (Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu)

Sejak saat itu, kita berkomitmen mengendalikan hati agar tidak mudah jatuh cinta dengan siapa pun. 

Terimakasih telah menjadi orang pertama yang mengingatkanku tentang ini.
Terimakasih telah menjadi orang pertama yang meracuniku dengan pesan-pesan ini.
Terimakasih telah menjadi orang pertama yang membuatku menjadi 'orang asing', memilih bersikap beda dari teman-teman yang lain.

Senin, 16 Juni 2014

Dia-lo-gue: The reason for being single

Di tengah keasyikan mengoreksi tulisan, tiba-tiba salah seorang siswi kelas 4 SD menanyakan hal yang menurutku sangat tidak penting dalam sebuah forum kelas menulis seperti ini. Aku menyebutnya perbincangan out of the topic dengan pertanyaan ter-KEPO sejagat raya, "Kak, punyaki pacar?"


Aku mengambil jeda, lalu mengumpan balik dengan pertanyaan, "Menurut kamu?"


"Pasti punya toh kak?" Dia menjawab dengan suara sedikit memelan.


Sebelum sempat meresponnya, anak yang di hadapanku menimpali lebih dulu, "Hah? tidak mungkin! Pasti tidak ada toh kak?" Dia menanggapi dengan ekspresi heran dan nada suara yang lebih tinggi. Dia berusaha meyakinkan temannya bahwa percayalah pendapatmu salah.


Aku berusaha menahan tawa melihat mereka beradu pendapat tentang ada atau tidaknya pacarku. Mereka terlalu jauh memikirkan hal seperti ini. Ah, di masaku dulu, kami belum memusingi perihal 'pacaran', kami masih asyik dengan permainan lompat tali, bongkar pasang dan hal sejenisnya.


"Kenapa menurutmu tidak ada?" Aku lanjut bertanya. Aku betul-betul penasaran dengan alasan dibalik pernyataannya yang sangat tepat.


"Pasti kita' bukanki orang yang mau cari jodoh sembarangan..." Dia berhenti sejenak, mengamati ekspresiku dan memastikan aku setuju dengannya. Kemudian, dia melanjutkannya, "Pasti tidak mauki kalau bukan sama orang yang langsung datang melamar toh kak?" dia menjawab tegas dengan intonasi suara khas orang Makassar. Nada bicaranya berhasil meyakinkan teman-temannya yang ikut menyimak.


"Kalau begitu, nanti saya yang bawa erang-erangnya kalau menikahki kak." Anak yang tadi menganggapku memiliki pacar, dengan senyum lebar dia bergurau dan berakting menekuk lengannya, seolah-seolah sedang membawa sesuatu.


Aku tertawa lepas mendengar perbincangan polos anak-anak itu. Betul-betul mengherankan, darimana anak seumuran mereka memahami hal seperti ini?


Perihal yang satu ini, sebelumnya pun saya pernah mendapatkan pertanyaan yang sama. Hanya saja yang menanyakannya bukan lagi anak perempuan berumur 10 tahun yang 'bahasa ibunya' sama denganku, melainkan seorang lelaki 'asing' berumur 23 tahun. Diakhir perbincangan kami tentang Indonesia dan negerinya, tiba-tiba dia mempertanyakan hal yang sedikit mengejutkan, "Do you have a boyfriend?"


Aku memutar otak sebelum menanggapinya, harus memulai dari mana aku menjelaskan jawabanku.


"No, I don't have a boyfriend"


"Really? Don't you have a boyfriend?" Seperti yang kuduga, dia terkejut mendengar jawabanku.


"Yes, of course. I never wanted to have a boyfriend." Aku berusaha meyakinkannya.


"Why?" Dia masih heran dan tidak mengerti alasan dari jawabanku.


"Because I just wanna have one special man in my life and that's just the man who will be my husband." Aku menyederhanakan alasanku.


"Oh, that's good. But every man and woman that I have known in Makassar, most of them have couple. They have girlfriend or boyfriend." Dia mulai mengerti, tapi dia tidak memahami alasan yang lebih tepat.


Lagi-lagi ini menyangkut prinsip dan nilai 'kepercayaan' yang mengakar batin. Ini sedikit rumit untuk menjelaskannya secara detail kepada seseorang yang notabene belum memahami landasan dasar kenapa aku memutuskan memilih tidak memiliki pasangan spesial (pacar) selain seseorang yang menjadi suamiku. Ini soal keyakinan dan harga diri. 

Aku mulai memikirkan alasan sederhana yang bisa membuatnya paham dan tidak seheran ini. Betapa pandangan mengenai nilai dan prinsip betul-betul berbeda antara kita di Timur dengan mereka yang di Barat. Pertanyaan boleh sama, namun saat kau menjawab 'ya' untuk orang yang memahami nilai dan prinsipmu tetap saja akan sama mengherankannya saat kau menjawab 'tidak' untuk orang yang memiliki nilai dan pemahaman yang berbeda.
 

~Menjadi single itu pilihan. Pilihan cerdas untuk orang yang tahu cara menjaga dirinya dan menghargai orang yang kelak menjadi pasangannya.~

Senin, 05 Mei 2014

Untuk Bahagia, Luangkanlah Waktumu Bersama Mereka

Time flies, sabtu kembali datang. Di saat kami merasa lebih nyaman menikmati akhir pekan bersama keluarga, selalu ada alasan yang membuatku memilih meninggalkan zona nyaman dengan perasaan bahagia, tanggung jawab misalnya.

3 Mei 2014, pertemuan ketiga #NulisBarengSobatku untuk kelas IV-B di SDN Sungguminasa IV. Kelas dimulai pukul 11.30 WITA. Anak-anak kuarahkan untuk berhitung dan membagi mereka menjadi tiga kelompok. Kak Dhila mendampingi kelompok 1, Kak Thya mendampingi kelompok 2, dan saya sendiri mendampingi kelompok 3. 

Apa yang kami lakukan di setiap kelompok? Mengoreksi kesalahan umum dalam tulisan: penggunaan tanda baca, imbuhan, huruf besar/ kecil, kekurangan/ kelebihan huruf atau okkots, dan penulisan kata baku.

Berhubung ada beberapa anak yang tidak membawa buku tulisnya karena alasan lupa, jadilah saya berinisiatif memeriksa beberapa tulisan yang ada saja dengan meminta semua anak menyimak penjelasan beberapa kesalahan yang saya koreksi dari tulisan temannya.

"Untuk kata pada awal kalimat, diawali dengan huruf apa?" Tanyaku membuka sesi belajar hari ini.
 
"Huruf besar/ kapital" beberapa anak menjawab.

"Jadi, 'ibu' diganti 'Ibu', huruf 'I' harus kapital." Aku menjelaskan sambil menunjukkan tulisan yang dikoreksi.

Kesalahan umum dalam penulisan huruf besar/ kecil ialah masih sering menuliskan huruf kecil di awal kalimat/ setelah tanda titik ".", huruf besar di tengah kalimat, dan huruf kecil pada awal nama orang.

Selain kesalahan huruf kecil/besar, anak-anak juga kadang keliru dalam penulisan kata baku, seperti kata "pakai" ditulis "pake". Kesalahan ini biasanya disebabkan karena kebiasaan dalam pengucapan/ lisan, kata "pakai" terkadang diucapkan menjadi "pake".


"Nasehat atau nasihat? Kata mana yang lebih baku?" Umpanku saat melihat kata "nasehat" dalam tulisan salah seorang anak.

Banyak dari mereka memilih "nasehat" karena lebih lazim digunakan, namun kenyataannya menurut KBBI, saat kita mencari kata "nasehat" maka akan diarahkan untuk mengecek kata "nasihat". Itu artinya, kata yang baku adalah nasihat.

Penambahan imbuhan pada kata dasar. Kata "celeng", sinonim "tabung", saat mendapatkan awalan "men" maka akan menjadi "menceleng" bukan "menyeleng". Awal kata yang bisa melebur menjadi "ny" saat mendapatkan imbuhan "men" ialah hanya kata yang diawali huruf "S". Contoh: men + sapu = menyapu
 
Penggunaan tanda baca pada kalimat, "Kata ibu guru kalau ..."
Sebaiknya setelah kata guru diberikan tanda koma ",". Kalau dibaca tanpa tanda koma, bisa saja orang mengira ibu gurunya bernama kalau. 

Dan yang terakhir adalah penulisan kata ganti orang. Beberapa anak masih keliru dalam menuliskan kata ganti, namun ada anak yang sudah benar dalam menuliskannya yaitu menyambungnya dengan kata sebelum/ sesudahnya, contoh: "kupakai" dan "pakaianku".

Hari ini, suasana kelas sangat riuh, beberapa anak yang susah diatur dan tidak membawa bukunya memilih berkeliaran dan mengganggu temannya yang lain. Hal ini membuat kami sangat kewalahan. Namun, ada juga yang asyik memperhatikan tulisan temannya yang dikoreksi dan bahkan berinisiatif membuat tulisan baru setelah tahu kesalahannya.

Sebelum pulang, kami berfoto bersama lalu mengingatkan anak-anak untuk tetap menulis dan membawa bukunya di pertemuan berikutnya.

Sesi penutupan, semua anak bergantian menjabat tangan kami. Beberapa anak yang mendekatiku bertanya,

"Kak, kenapa cuma datang dua pekan sekali?" Ucap seorang anak dengan nada kecewa.

"Iya kak, kenapa dua pekan depanpi lagi baru datangki?" teman disampingnya menimpali.

Ternyata, mereka merindukan kedatangan kami. Waktu yang kami luangkan masih belum cukup bagi mereka.

Terima kasih untuk skenario indah ini. Menjebak kami dalam lingkaran "bahagia" yang tak habis-habisnya, membuat kami mensyukuri  waktu luang yang  Engkau berikan untuk pertemuan singkat ini.

Terima kasih juga untuk teman-teman relawan yang notabene sangat sibuk dengan urusan masing-masing tetapi tetap mau meluangkan waktunya dua jam setiap dua pekan untuk mengajar secara sukarela. Semoga pengorbanan dan usaha kita membuahkan hasil yang manis.

Senin, 28 April 2014

Kenangan bersama Ayah

Dibandingkan dengan adik-adikku, aku sangat jarang mengadukan apa pun padanya. Tapi aku tahu, cintanya sama besarnya untuk kami. Dan aku selalu suka caranya menunjukkan cintanya pada kami, meski hanya dengan perhatian-perhatian yang sangat sederhana.


Aku teringat hari pertama masuk Sekolah Dasar, pagi-pagi sekali dia menemaniku ke sekolah. Kami melalui setiap setapak dengan  berjalan kaki, genggaman tangannya tak lepas dari lengan kecilku. Aku tahu, dia tidak akan membiarkanku sendiri.

Karena sakit, aku absen dari sekolah. Kata temanku, saat itu dia  datang ke sekolah. Tapi bukan surat sakit yang diserahkan, melainkan masuk ke kelasku, lalu dia berdiri di depan kelas, di depan guru dan teman-temanku. Apa yang dilakukannya? Dia meminta maaf karena ketidakhadiranku dan meminta agar aku dido'akan segera sembuh.

Ada soal matematika yang tidak bisa kuselesaikan, soal cerita dengan istilah yang masih asing. Dengan sabar, dia berusaha memahamkanku. Sambil menjelaskan, dia mencoret-coret kertasku. Akhirnya aku tahu,  tanda baca "titik" biasa digunakan sebagai tanda kali (X) dalam matematika dan selisih itu artinya beda yang didapatkan dari hasil pengurangan antara dua angka.

Berhari-hari aku merajuk dan merengek-rengek ingin dibelikan sepeda. Sepulang mengaji, dengan senyuman mengembang dia memberiku kejutan, menunjukkan sepeda ungu yang dibelinya untukku.

Aku dapat tugas keterampilan dari sekolah, membuat bangun datar. Dengan cekatan, dia membuatkannya untukku. Menggambarkan pola bangun datar di atas tripleks, menggergajinya, dan mengecatnya dengan warna hijau. Aku selalu menyukai saat dia melakukan apapun untukku.

Liburan kenaikan kelas 2 SMP. Aku keluar rumah, duduk-duduk santai di halaman. Dia menegurku dengan bijak "perempuan tapi keluar tidak pakai jilbab. Apa tidak malu rambutnya kelihatan?"

Dia menelponku. Kami berbicara sangat lama, kami sama-sama menangis. "Jadilah contoh yang baik untuk adik-adikmu" pesannya dengan haru. Aku mendengarnya sambil sesenggukan menahan tangisku.

Hari pertama ospek SMA, dia mengantarku ke sekolah. Menemaniku menunggu hingga senior menyuruh kami (siswa baru) berkumpul. "Masih ada yang ditunggui orang tuanya?" Seniorku berteriak. Aku menoleh, dia masih tetap di tempatnya. Aku keluar dari barisan dan menghampirinya, "pulang saja, tidak usah ditunggu". Lalu dia berbalik meninggalkanku.

Saat lebaran tiba, dia mengajakku berkunjung ke rumah keluarga. Seperti biasa, saya selalu lebih nyaman keluar dengan mengenakan pakaian dengan rok dan jilbab yang agak longgar. Dia memerhatikanku dari kaki hingga kepala. Dia paham betul, ada yang kurang dengan penampilanku.Sambil tersenyum dia menegurku dengan bijak "Mana kaos kakinya?". Aku hanya cengengesan menanggapinya.

Sepatuku rusak. Meski tidak memintanya membelikanku yang baru, dia mengajakku jalan-jalan dan menemaniku berkeliling mencari sepatu baru.

Menjelang ujian SNMPTN, dia mengirimiku pesan melalui facebook. 
"Assalamu'alaikum...Bagaimana kabarnya? Semoga selalu berduaan dengan ALLAH, sehingga diberikan bimbingan untuk meraih cita-citanya, karena insan hanya berikhtiar, yang menentukan adalah sang khalik."
Di lain waktu, dia memosting pesan di timeline facebookku:
"Ketika ingin menggapai sesuatu cita-cita, maka butuh perjuangan yang sungguh-sungguh, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita berharap pada sang pengabul cita?"

"Jangan pernah menyerah dalam mengejar kesuksesan, tapi ingat sandarkan pada kekuatan iman dan amal serta tawakkal kepada sang khalik".

Dia menjemputku di tempat kursus TOEFL. Saat berbincang dengan Mr.C, dia mengadukanku "saya baru tahu kalau si Nurul ikut kursus, dia tidak pernah bilang sebelumnya. Jadi, selama ini kursusnya dibayar dengan uangnya sendiri." Aku sangat malu saat itu, tapi aku tahu dia bangga padaku.
~...~

Dari ribuan bukti cinta yang ditunjukkannya, selalu ada hal-hal  spesial yang membuatku merasa sangat beruntung memiliki ayah sehebat dia. Terima kasih telah mendidik dan mengajarkan kami menjadi wanita terhormat yang selalu mengingat Allah.

Kamis, 10 April 2014

Endless Love

Percayalah, akan selalu ada seseorang yang mau menghabiskan waktunya untuk menunggumu. 
 Diam-diam menyebut namamu dalam do'a-do'a khusyuknya.
Seseorang yang akan mengkhawatirkan sakitmu melebihi sakitnya sendiri. 
Dan tak ada apa pun yang diharapkannya kecuali senyum dan tawa bahagiamu. 
Dialah yang selalu setia menyimpan cintanya untukmu. 
Meski dia tahu, pada akhirnya kau akan pergi untuk orang lain.



Mom, Dad... thanks for everything. Thanks for your endless love.

"Allahummaghfirliy waliwaalidayya waarhamhumaa kamaa rabbayaaniy shagiiraa".
"Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, 
serta sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.

Sabtu, 05 April 2014

Membudayakan Menulis Sejak Dini

Pesan singkat dan status facebook dari salah seorang relawan menjadi pemantik semangat untuk aktivitas hari ini: 
"Kita semua adalah sumber daya bagi Indonesia. 
Kirim semangat #PadamuNegeri untuk Relawan anak LemINA 
yang hari ini akan silaturrahim bersama guru dan
Nulis Bareng Sobat kecil kita di Sekolah Dasar. 
Dampingi mereka belajar menulis, agar kelak mereka 
akan menuliskan sejarah indah negeri ini." Bunga.


Hari ini adalah sabtu spesial. Siang tadi, tepat pukul 11.00 WITA. Di depan gerbang SDN Sungguminasa IV, seorang anak perempuan  tersenyum dan mendekatiku setelah melihatku sibuk mengutak-atik HP. 

"Kak, siapa yang kita cari?"

"Tidak adaji dek. Saya menunggu teman" aku tersenyum, meresponnya sambil membalas pesan dari teman yang kutunggu.

"Mau buat apa kak? mengajar ya?"

"Iya, sebentar mau mengajar menulis. Kamu kelas berapa?"

"Kelas 5, kak."

"Sayang sekali, kelas menulisnya cuma untuk kelas 4."

"Kakak yang pernah datang waktu Kelas Inspirasi 'kan?"

"Iya, kamu masih ingat?" Aku sumringah, ternyata masih ada yang mengingatku.

Lalu dengan antusias dia melanjutkan ceritanya tentang Kelas Inspirasi dan  para inspirator hebat yang menginspirasinya. Kami bernostalgia membahas hal yang mengesankan dari Kelas Inspirasi. Beruntunglah, momen menunggu kali ini terlewati dengan menyenangkan. Sekitar 15 menit berlalu, satu per satu tim pengajar "Nulis Bareng Sobatku" yang kutunggu tiba di lokasi. 

Nulis Bareng Sobatku merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LemINA) sebagai bentuk aktivasi Kelas Inspirasi. Kegiatan ini bertujuan untuk membudayakan menulis sejak dini dan mengakrabkan anak-anak dengan dunia literasi. Kegiatan ini rutin dilaksanakan dua pekan sekali di setiap sabtu selama 12 kali pertemuan. Lokasi kegiatan ini ialah beberapa Sekolah Dasar yang turut berpartisipasi dalam Kelas Inspirasi Sulawesi Selatan (Khusus Makassar, Gowa, dan Takalar). Untuk Kabupaten Gowa, lokasinya di SDN Sungguminasa IV dan ditangani oleh tim pengajar sebanyak 5 orang (Thya, Athifah, Dhila, Hendra, dan Samsir).

Setelah pelajaran KTK, Ibu Nismayanti, wali kelas IV B mempersilakan kami memulai kegiatan menulis ini. Kami memulai dengan perkenalan singkat. Saling tebak-menebak nama. Dan mereka menebak tiga nama dengan tepat. Mereka sangat menakjubkan! 

Setelah perkenalan, anak-anak mulai rileks mengikuti kelas menulis. Sebelum memulai materi, kak Samsir memperlihatkan beberapa majalah anak dan novel karya anak-anak seumuran mereka. Dan hal itu cukup menarik perhatian mereka.

Di kelas perdana ini, kami membahas tentang bagian-bagian tubuh dan fungsinya. Mereka diajak mengidentifikasi dan menuliskan jenis bagian tubuh  yang mereka dengar dari cerita pendek yang dibacakan oleh kak Samsir. Selanjutnya mereka mencoba memikirkan dan mencari tahu apa saja fungsi dari setiap bagian tubuh yang mereka tulis.

Kelas semakin riuh saat mereka kehabisan akal untuk menebak beberapa fungsi bagian tubuh. Mereka mulai mondar-mandir, satu per satu  menanyakan beberapa fungsi tubuh yang tak lazim untuk mereka.

Apa fungsi lutut, kak? | Apa fungsi wajah, kak? | Apa fungsi dagu, kak? | Apa fungsi bahu, kak? | Apa fungsi punggung, kak? | Apa fungsi otot, kak? | Apa fungsi pipi, kak? | Apa fungsi dahi, kak? 

Sungguh, pertanyaan-pertanyaan yang menggemaskan. Setelah semua pertanyaan dijawab dengan jawaban-jawaban aneh tapi masuk akal, akhirnya sesi kelas menulis berakhir bahagia. Ditutup dengan do'a bersama.

Sampai bertemu dipertemuan berikutnya dan bersiaplah dengan kejutan spesial lainnya.

 ~***~

Kita terlalu kecil untuk bisa tahu kebesaranNya dalam waktu singkat. 
Belajar itu setiap saat, tidak hanya sesaat.

Rabu, 02 April 2014

Menuntaskan Rindu

Si mata elang sibuk mengintai sedari tadi. 
Ia mulai gelisah menanti.
Mondar-mandir, ia menyelisik paras orang-orang yang berlalu lalang.
Mencari wajah teduh yang dirindukannya.
Akhirnya, di kerumunan padat sesak itu, didapatinya si wajah teduh. Kamu.
Tak lepas pandangannya darimu. 
Diam-diam mengamatimu. 
Hatinya semakin riang mendapati senyummu.
Ia rindu menyapamu tapi dipilihnya bungkam,
 enggan bersuara.
Katanya, untuk menuntaskan rindu, 
cukuplah dengan melihatmu tersenyum.

Kamis, 27 Maret 2014

Memaafkan, sanggupkah kita?

Aku mendelik, mengingat kejadian-kejadian yang lalu. Pertengkaran-pertengkaran yang membuat kami -kakak beradik- saling mendiami hingga berhari-hari, padahal penyebabnya hanya hal sepele.  Dan karena ego serta gengsi yang selangit, diantara kami tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau memulai meminta maaf dan memaafkan.

Mungkin hal tersebut masih tergolong wajar untuk kami yang masih anak-anak saat itu. Namun, betapa tidak wajarnya jika gengsi tersebut terpelihara hingga usia yang lebih dewasa, di usia yang notabene seharusnya kami sudah lebih matang dalam mengontrol emosi dan tahu menjaga  perasaan satu sama lain. Tapi pada kenyataannya, tetap saja masih banyak kaum "tua" yang mengaku sudah makan banyak asam garam, namun ego dan gengsinya masih selangit sehingga enggan untuk memulai meminta maaf bahkan memaafkan.

Lalu bagaimana dengan diri kita sendiri? Apa kabar hati kita? Saat tersakiti, sanggupkah memaafkan setulus-tulusnya? Saat menyakiti, sanggupkah meminta maaf dengan bijak? Ya cukuplah menilai diri kita masing-masing.

Sesakit apa pun itu, kita harus membiasakan hati untuk melapangkan, mengikhlaskan dan memaafkan. Tidak ada cara lain. Memaafkan dengan sebaik-baiknya maaf adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan sakit dan menghilangkan luka serta bekasnya. Hakikatnya memaafkan bukanlah perkara mudah, namun  semoga kita termasuk bagian orang-orang yang diberikan kelapangan hati untuk memaafkan dengan mudah.

"Dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan pula, namun siapa yang memaafkan dan memperbaiki (hubungannya), maka pahala baginya di sisi Allah. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim." Q.S. Asy Syura: 40

"Tidak ada orang yg memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya." HR.Muslim