...Kita seperti garis
terang yang tidak pernah bisa saling melihat sebelumnya. Bukan karena buta,
tapi terlalu silau. Kemudian waktu perlahan memudarkannya hingga lenyap.
Mungkin ini seperti titik hilang. Bayangan garis terang yang kita rekam hanya
membekas seperti layar hitam..
Kita duduk saling berhadapan.
Dengan senyum simpul yang tertahan, suaraku mengalun lirih,
“Aku menyerah... Tidak perlu menungguku, jika pada akhirnya harus melihat satu dari kita tersakiti.”
Dengan senyum simpul yang tertahan, suaraku mengalun lirih,
“Aku menyerah... Tidak perlu menungguku, jika pada akhirnya harus melihat satu dari kita tersakiti.”
Kau membalas dengan senyuman getir yang kian merapuh. Lalu berbisik pelan,
“kita hanya perlu bertahan sampai tidak ada
lagi yang sanggup menyerah.”
Singkat tapi itu betul-betul membuatku membatin…
“sampai tidak ada lagi
yang sanggup menyerah? Ah kau selalu saja membuatku bingung.”
Ekspresi kebingunganku terlalu jelas untuk tidak disadari olehmu… Kemudian, kau
lanjut berbisik,
“Tetaplah bertahan, karena sampai
kapan pun masih ada aku yang tidak pernah sanggup menyerah untukmu” suaramu
bergetar menjawab pikiranku.
Aku diam seribu kata, gagu. Tak tahu apa lagi yang harus kuucapkan.
Yang komentarnya berwarna merah, sepertinya tidak mengerti perasaan yang punya komentar berwarna biru ya..
BalasHapustidak mengerti? ah sepertinya.. hehe
Hapus